Take a fresh look at your lifestyle.

KAPITA SELEKTA – Blast Furnace

88

The Blast Furnace… How it works?
As we know everybody..

Besi merupakan salah satu produksi hasil tambang yang banyak dimanfaatkan dalam kehidupan manusia.  Salah satu perusahaan pengolahan besi terbesar di Indonesia adalah PT. Krakatau Steel yang berlokasi di daerah Cilegon Banten.
Salah satu mahasiswa angkatan pertama Universitas Teknologi Sumbawa telah melakukan kegiatan Magang di PT. Krakatau Steel selama tiga bulan dengan fokus pada Blast Furnace Plant.

Apa itu Blast Furnace Plant?
Secara umum blast furnace memiliki tujuan untuk mereduksi secara kimia besi oksida menjadi cairan besi yang dikenal dengan istilah hot metal. Blast Furnace pada dasarnya merupakan suatu wadah yang terbuat dari logam yang di dalamnya dilapisi material tahan panas (refractory) dimana bijih besi diekstraksi di dalamnya sehingga menghasilkan besi yang lebih murni dan dapat dimanfaatkan.
Blast Furnace merupakan suatu revolusi dari direct reduction process yang menggunakan Gas alam untuk mereduksi besi menjadi bentuk yang lebih murni. Pada proses ekstraksi menggunakan Blast Furnace. Terdapat 3 komponen penting yang dimasukan ke dalam tungku, yaitu :
1. Ore / Bijih
Ore atau bijih mineral yang merupakan sumber Fe di alam biasanya ditemukan dalam bentuk batuan Hematite (Fe2O3)ataupun Magnetite (Fe2O4). Batuan jenis ini nantinya akan dihaluskan menajdi batuan yang lebih kecil sehingga lebih mudah di reduksi 
2. Coke
Coke atau kokas merupakan batubara (coal) yang  dibakar atau dipanaskan guna menghilangkan sifat volatilnya. Coke ini digunakan sebagai sumber Karbon yang nantinya akan bereaksi dengan Oksigen yang dialirkan ke dalam tungku.
3. Limestone
Limestone atau batuan kapur ditambahkan sebagai flux yang akhirnya membentuk slang dan mengikat silika dan pengotor lainnya.


Proses dalam Blast Furnace dimulai dengan memasukan komponen-komponen secara berlapis-lapis dimulai dengan kokas sebagai bahan bakar dan kemudian campuran ore dengan limestone. Diletakkan secara berlapis-lapis agar reduksi dapat terjadi dengan sempurna. Kemudian oksigen dialirkan dari bawah tungku disertai dengan panas  bertemperature 2000 0C yang dihasilkan dari stove. Semakin ke atas tungku, temperatur akan semakin berkurang. Reaksi kimia yang dialami setiap tahapan temperature akan berbeda.

1) 3 Fe2O3 + CO = CO2 + 2 Fe3O4 
2) Fe3O4 + CO = CO2 + 3 Fe O
3) FeO + CO = CO2 + Fe
   
    FeO + C = CO + Fe
Pada mulanya, karbon yang bercampur dengan oksigen akan bercampur membentuk CO2. CO2 kemudian bereaksi kembali dengan O2 membentuk karbon monoksida yang digunakan dalam proses reduksi besi. Pada suhu 900oC , limestone akan beraksi membentuk CaO dan CO2. CaO akan membantu mengikat sulfur yang kelak menjadi slang bersama dengan senyawa seperti alumina, silica, magnesia, dan pengotor-pengotor yang semula bercampur dengan ore.
Apabila Fe telah tereduksi sempurna, hot metal akan mengalami pemisahan dengan slang dan dialirkan masing-masing menuju penampungnya.
Proses ekstraksi ini direncanakan oleh PT. Krakatau Steels karena dianggap memiliki keuntungan dari segi ekonomis. Penggunaan kokas akan menghemat biaya besar yang semula dialokasikan untuk sumber Gas alam dalam proses direct reduction process. Blast furnace sendiri akan selalu beroprasi sepanjang tahun dan hanya bisa di non aktifkan apabila ingin dilakukan proses maintenance. Penonaktifan ini juga harus dilakukan secara berkala. Produk yang dihasilkan dari proses Blast Furnance dapat berupa Slab atau Billet. Slap merupakan besi yang memiliki bentuk tipis seperti papan sedangkan Billet adalah produk besi batangan. Keduanya menjalani proses yang sama hingga proses pencetakan. Pada proses pembuatan slab, besi ditipiskan beberapa kali sehingga menjadi lembaran.


Gambar Slab ( Hot rolled)
Gambar Billet

Created by : Magfirah Delvara Kirani Izania (17.01.011.024)
PROUD TO BE METALLURGIEST
#KapSelUTS2018

Leave A Reply

Your email address will not be published.