Take a fresh look at your lifestyle.

Beradab dalam Pembelajaran Jarak Jauh

44

Esai Juara 2_FKIP UNSIKA

oleh Yunarti, Universitas Singaperbangsa Karawang

Pendidikan adalah sebuah sistem memanusiakan manusia. Pendidikan merupakan sebuah cermin kehidupan serta pilar bagi sebuah bangsa dan negara. Tujuan pendidikan nasional bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi menjadikan warga negara yang beradab serta berakhlak mulia. Dalam Undang- Undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) bab 1 pasal 1 berbunyi : “ Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Tingkah laku tebentuk dari sebuah adab seseorang yang merupakan implementasi dari pendidikan. Dimana unit terkecil pendidikan adalah keluarga. Peradaban terbentuk oleh adanya sebuah pendidikan yang menciptakan sebuah tatanan tingkah laku dari berbagai aspek kehidupan. Masalah fundamental yang terjadi diberbagai belahan dunia dan dirasakan seluruh negara, adalah krisis moral. Krisis moral lahir dari penyimpangan-penyimpangan dari sebuah pendidikan. Pendidikan yang tidak disertai dengan adanya sebuah pemahaman bahwasanya Beradab lebih tinggi dari Berilmu.

Bahkan akar dari segala permasalahan atau krisis yang mendera sebuah bangsa dewasa ini menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas pada hakikatnya bermuara pada hilangnya adab(the lost of adab). Jelas bahwa adab merupakan puncak piramida dari sebuah kehidupan, dimana peran pendidikan dalam menanamkan adab adalah penentu masa depan suatu bangsa.

Peradaban tak pernah berhenti maju, tak juga mundur. Namun, yang dirasakan saat ini dunia seakan berada dititik nol, diam. Wabah virus corona menjadikan dunia sekan berada dalam sebuah kondisi istirahat, namun pendidikan tak pernah ada kata berhenti. Dampak adanya wabah virus corona memaksa pemerintah untuk meliburkan seluruh jenjang pendidikan baik ditingkat SD/RA, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi serta menggantinya dengan belajar dirumah.

Segala bentuk cara pembelajaran dilakukan guru untuk mengganti pembelajaran tatap muka disekolah, mulai dari media pembelajaran berbasis telekomunikasi seperti Zoom dan aplikasi tatap muka lainnya.Yang sering kita dengar dengan istilah pembelajaran jarak jauh. Menurut Hilary Perraton (1988), Pendidikan jarak jauh adalah proses pendidikan dimana proporsi pengajaran yang proporsi pengajaran yang signifikan dilakukan oleh seseorang pengajar yang terpisah oleh ruang dan waktu dari pelajar. Ini sejalan dengan Kearsly, Moore mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh adalah belajar yang direncanakan ditempat lain atau diluar tempatnya mengajar. Namun dalam prakteknya dalam pembelajaran jarak jauh peserta didik baik siswa maupun mahasiswa banyak menganggap pembelajaran jarak jauh adalah hal sepele yang dimana mereka hanya absen dan tanpa peduli apa yang disampaikan oleh guru atau teman-teman yang melakukan persentasi.

Menurut saya ini merupakan salah satu penyimpangan, hal kecil yang dapat menimbulkan masalah yang besar jika terus dilakukan secara berkelanjutan tanpa adanya pemahaman serta konsep dari sebuah pembelajaran jarak jauh. Dimana pembelajaran jarak jauh tidak adabedanya dengan pembelajaran tatap muka secara langsung yang membedakan hanya posisi peserta didik dengan pendidik dan peserta didik lainnya yang tidak berada dalam satu tempat yang sama. Namun dalam hakikatnya baik dari sistem pembelajaran, transfer ilmu dari pendidik kepada peserta didik, nilia serta norma yang berlaku dalam pembelajaran tetaplah sama.

Yang sering terjadi saat pembelajaran jarak jauh pada kenyataannya terjadi penyimpangan-penyimpangan diantaranya adalah 1) Tidak hadir tepat waktu 2) Tidak menggunakan pakaian yang sopan 3) Tidak memperhatikan guru saat menjelaskan materi 4) Makan dan inum saat pembelajaran 5) Membuka hal lain selain materi pembelajaran misalnya Games, Sosial media, Grup WhatsApp dsb 6) Belajar dengan posisi Rebahan 7) Membicarakan Pendidik dibelakang 8) dan sebagainya. Sikap serta perilaku tersebut tidak mencerminkan siswa atau mahasiswa yang beradab. Hal ini menyimpang dengan apa yang dinamakan beradab.

Menanggapi penyimpangan-penyimpangan moral tersebut solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman dan pengajaranmengenai Adab menuntut ilmu. Karena sejatinya ilmu dapat diraih jika kita memiliki adab. Dalam kitab Adabul’Alim Wal Muta’allim, karya Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang berisi tentang adab menuntut ilmu baik untuk pendidik serta peserta didik. Diantaranya adab kepada dirinya, adab kepada ilmunya, serta adab kepada pendidik atau pesertadidik.

Yang mana mestinya pengajaran adab ini haruslah ditanamkan sejak dini kepada peserta didik agar dapat tertanam dalam alam bawah sadar. Pembelajaran adab ini bisa dimasukkan kedalam sebuah program yang pemerintah ambil dalam menyikapi krisis moral yaitu pada tahun 2010, pendidikan karekter diharapkan mampu menyeimbangkan antara pemenuhan kebutuhan kognitif dengan kebutuhan lain sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas tahun 2003. Pembelajaran adab dapat ditumbuh kembangkan oleh pemerintah melalui pendidikan karakter.

(Marzuki, 2012) pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak, tetapi lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (Habituation) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan dan mau melakukan yang baik. Dengan demikian, pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak atau pendidikan moral. Habituation tidak lahir dengan sendirinya kebiasaan itu dapat dilakukan dengan aturan serta hukuman yang mengikat agar dapat menjadi sebuah kebiasaan. Paksaan merupakan langkah yang dapat diambil jika hal baik dapat terjadi dengan sebuah paksaan.

Apabila karakter yang baik sudah melekat dalam diri peserta didik maka akan menjadikan ilmu adalah hal yang mudah didapatkan. Lalu bagimana jika hal ini telah terjadi kepada peserta didik yang pada saat ini mengalami penyimpangan, berlakukan aturan dalam pembelajaran. Pendidik berhak tegas kepada peserta didik demi masa depan bangsa karena masa depan bangsa berada ditangan pelajar-pelajar saat ini. Generasi beradab menjadikan bangsa yang beradab pula. Karena jika adab dijadikan bagian yang terintegrasi dalam pendidikan, maka peserta didik tidak hanya cerdas pikirannya dan terampil tetapi paham untuk apa ilmu yang dimiliki itu digunakan dengan baik. Adab yang baik menciptakan pemimpin yang baik dimasa depan, sebaliknya adab yang buruk menciptakan pemimpin yang buruk seperti halnya dengan koruptor, koruptor lahir dari orang pintar yang tak beradab.

Untuk pendidik dalam situasi wabah virus corona yang memaksa kita berdiam diri dirumah, mengajar dirumah, berikanlah peserta didik sedikit pengajaran pendidikan karakter dengan memberikan pemahaman pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Karena pemimpin masa depan bergantung dengan apa yang pendidik berikan kepada peserta didik. Guru adalah pencipta pemimpin-pemimpin dunia, baik buruknya pemimpin saat ini buah dari guru-guru dimasa lampau dan abim buruknya pemimpin masa depan bergantung kepada guru-guru saat ini.

Daftar Pustaka

Fajar Indra. Perbandingan Konsep Adab Menurut Ibn Hajar Al-‘Asqalany dengan             Konsep Pendidikan Karakter di Indonesia. Yogyakarta: Jurnal pendidikan Islam.           Volume IV, nomor 1. 2015.

Marjuki.Disampaikan dalam seminar lokakasrya pendidikan karakter.2012.Jawa Timur

Machsun Toha. Pendidikan Adab, Kunci Sukses Pendidikan. Surabaya : EL-BANAT:      Jurnal pemikiran dan Pendidikan islam. volume 6 nomor 2. 2016

Munir. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.     Bandung : Alfabet,CV. 2009

Syed muhammad Naquib Al-Attas. Islam dan sekularisme.Bandung:PIMPIN.halaman      129. 2011.

Leave A Reply

Your email address will not be published.