Take a fresh look at your lifestyle.

Pendidik yang Mumpuni Meningkatkan Pendidikan di Negeri Ku

26

Esai Juara 3_FKIP UNSIKA

oleh Sondang Titian Paulina, Universitas Singaperbangsa Karawang

Pendidikan adalah segala usaha yang dapat dilakukan untuk membantu manusia mengembangkan potensinya. Dengan demikian melalui pendidikan diharapkan kepribadian manusia terbentuk menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, kemandirian, serta keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Kemandirian merupakan sikap atau perilaku seseorang dalam mengambil suatu keputusan untuk menyelesaikan tugas dan permasalahan sesuai dengan kemampuannya sendiri, serta tidak bergantung pada orang lain. Kemandirian berkenaan dengan pribadi yang kreatif, mandiri, serta memiliki kepercayaan diri yang membuat seseorang mampu sebagai individu untuk beradaptasi dan mengurus segala hal dengan dirinya sendiri. Kemandirian merupakan salah satu sikap atau perilaku yang wajib dimiliki oleh seorang pendidik, sehingga menjadi kunci keberhasilan dalam sebuah pendidikan. Bagaimana tidak, pendidiklah yang menjadi pusat pelaksanaan dalam suatu pendidikan. Sebagai pusat pelaksanaan pendidikan berarti pedidik mempunyai tugas yang sangat penting yaitu bertugas mendidik peserta didik sehingga bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kemandirian memiliki beberapa aspek yang mendukung mutu seorang pendidik. Dilansir dari situs journal.trunojoyo.ac.id/pamator, penelitian yang dimuat dalam Jurnal Kemandirian Guru Sekolah Dasar : Studi Realitas Kemandirian Guru Sekolah Dasar Lulusan Universitas Terbuka di Daerah Bojonegoro mengungkapkan beberapa indikator-indikatornya, yaitu:

“peneliti menyusun totalitas kemandirian yang dimiliki oleh seseorang atau guru secara ideal, terfokus pada indikator-indikator: [1] tegas dan rasa tanggung jawab. [2] kemamampuan mengambil inisiatif. [3] percaya akan kemampuannya (membuat/mengembangkan). [4] kemampuan menyelesaikan persoalan dalam tugasnya. [5] kemampuan mengatasi rintangan dari lingkungan masyarakat. [6] memperoleh kepuasan dari hasil kerjanya. [7] penuh ketekunan dalam mengarahkan tingkah laku seseorang menuju keberhasilan. [8] kemampuan menetapkan strategi (merencanakan) sendiri mewujudkan keinginan dan tujuannya.” (Mujadi, Adi Suparto, 2018)

Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa untuk menjadi seorang guru yang memiliki kemandirian harus mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap segala tugas yang diberikan. Seyogianya seorang guru ialah mengajar, sehingga tujuan dari proses pembelajaran dapat tercapai. Namun tidak hanya itu saja, tugas guru secara luas ialah mengajarkan ilmu pengetahuan, memotivasi, membimbing, menumbuh kembangkan nilai-nilai, melatih keterampilan- keterampilan, serta mengabdi pada masyarakat dan negara. Sehingga dapat dikatakan bahwa rasa tanggung jawab seorang pendidik terlihat ketika pendidik mengemban tugas mulianya sebagai seorang guru.

Selain rasa tanggung jawab, pendidik yang mengemban tugas sebagai seorang guru juga harus memiliki inisiatif serta kreatifitas yang tinggi. Oleh karena itu mampu mengeksplorasi semua potensi dan kemampuan yang ada dalam dirinya, selalu uptodate untuk mengetahui berbagai sumber keilmuan, tidak kehabisan akal untuk mengeluarkan ide-ide, menciptakan media pembelajaran yang menarik, serta menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan efisien. Pendidik yang selalu memiliki inspirasi tidak akan kekurangan strategi, keterampilan, dan lemah terhadap sumber yang dibutuhkan dalam menunjang pembelajaran. Pemahaman serta pemaknaan peserta didik akan pembelajaran merupakan keberhasilanseorang pendidik yang memiliki inisiatif dan kreatifitas. Sehingga dapat dikatakan keberhasilan tersebut searah dengan keamampuan, keinginan, dan tujuannya sebagai seorang pendidik.

Seyogianya seorang pendidik memiliki rasa percaya diri akan kecakapannya. Dengan begitu tidak ada rasa malu, minder, apatis, pasif, dan pesimis, karena sesungguhnya perasaan-perasaan seperti itu hanya akan menjadi penghalang bagi pendidik untuk menghantarkan peserta didik menuju keberhasilan. Dengan rasa percaya diri mampu membuat seorang pendidik memiliki inisiatif, kreatif, berpikir positif, dan menganggap semua permasalahan yang ada memiliki jalan keluar. Maka penting untuk seorang pendidik mengenali dan meningkatkan potensi yang ada dalam dirinya.

Pendidik yang dapat mengenali dan meningkatkan potensi dalam dirinya juga mampu mengelola serta menghargai waktu dengan baik. Menghargai waktu sama saja menghargai anugerah Tuhan dalam dirinya. Dalam hubungan ini, pendidik akan berusaha melaksanakan segala tugas tepat waktu serta tidak menunda-nunda pekerjaan. Dengan berlatih mengatur waktu secara baik maka pendidik memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan potensi dalam dirinya.

Pendidik yang mampu menghargai waktu dan memiliki rasa percaya diri akan siap menerima perubahan apapun. Pendidikan di Indonesia terkenal tentatif atau sementara hal tersebut dapat dilihat dari sering terjadinya perubahan kebijakan atau kurikulum dalam waktu yang relatif singkat. Ketika adanya perubahan yang tidak sesuai dengan keinginan, kemampuan, dan hanya menerima tanpa memberikan masukan, hal tersebut dapat menimbulkan sikap apatis. Pendidik yang demikian akan sulit berkembang, mudah depresi, dan terperangkap dalam ketidakpastian. Jika demikian pendidik diharapkan dapat siap menerima perubahan dan mampu memberikan masukan, sebagai wujud nyata akan perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik.

Pendidik yang siap menerima perubahan berarti mau terbuka dan bisa menerima pendapat orang lain. Dalam hal ini, pendidik mampu mengkomunikasikan dirinya dengan peserta didik, rekan, dan lingkunganya. Dengan begitu mampu menerima kritik serta saran dengan ikhlas dan memiliki respon yang baik demi mengasah potensinnya. Keterbukaan diri sangat diperlukan untuk menciptakan suasana hubungan yang harmonis anatara peserta didik dengan pendidik. Jika seorang pendidik memiliki keterbukaan diri, maka akan lebih baik dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta dapat memastikan batasan-batasan yang ada untuk menyelesaikan persoalan dalam pembelajaran.

Seyogianya pendidik bukan hanya mengajarkan pembelajaran tetapi menanamkan nilai moral dan norma-norma agar setiap peserta didik menjadi warga negara yang cerdas dan baik. Jika demikian, tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila sebab sebagai abdi negara dan masyarakat yang baik, pendidik juga dapat berperan dalam melestarikan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Tidak hanya nilai-nilai moral dan norma yang mengarah pada Pancasila, tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan nasional pun mengarah pada Pancasila sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. (UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003)

Sikap mandiri merupakan salah satu aspek kepribadian yang tercakup dalam tujuan pendidikan nasional. Artinya, kemandirian merupakan salah satu sasaran yang hendak dicapai sistem pendidikan nasional. Dengan demikian kemandirian tidak hanya dimiliki oleh pendidik saja melainkan peserta didik pun perlu mandiri, demi tercapainya kualitas pendidikan. Namun ketika dilihat kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih kurang. Menurut hasil Programme International Student Assessment (PISA) untuk Indonesia tahun 2018 telah diumumkan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam kompas.com, bahwa pendidikan Indonesia berada pada posisi di bawah rata-rata untuk kemampuan membaca, matematika, dan sains. (Harususilo, 2019). Mengetahui bahwa Indonesia berada dibawah rata-rata sangat memprihatinkan dan mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya masih rendah. Padahal perkembangan Indonesia sejalan dengan perkembangan pendidikan hal ini terlihat dari adanya perubahan kurikulum sebagai wujud perkembangan bangsa dan negara Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi dalam pendidik, peserta didik, dan infrastruktur.

Pembangunan pendidikan adalah suatu usaha yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas, maju, mandiri, modern, serta bagian terpenting dari upaya membangun karakter demi meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Sehingga pendidik sebagai pumpunan dalam pendidikan diharapkan mumpuni, memiliki komitmen dan kemandirian yang tinggi agar tidak mudah mengikuti perubahan jaman yang tidak tentu.

Daftar Pustaka

Mujadi, Adi Suparto. (2018). Kemandirian Guru Sekolah Dasar : Studi Realitas     Kemandirian Guru Sekolah Dasar Lulusan Universitas Terbuka di Daerah           Bojonegoro. Pamator,11(2), 33-34.

Pemerintah Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara RI Tahun 2003, No. 78. Sekretariat   Negara. Jakarta.

Harususilo, Yohanes Enggar. (2019, December 7). Skor PISA 2018: Peringkat       Lengkap Sains Siswa di 78 Negara, ini Posisi Indonesia. Kompas.com.    Retrievedfrom             https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/edukasi/read/2019/12/07/ 10225401/skor-pisa-2018-peringkat-lengkap-sains-siswa-di-78-negara-ini- posisi [diakses pada 2020, Mei 5]

Leave A Reply

Your email address will not be published.