Take a fresh look at your lifestyle.

Tak Siap Belajar dari Rumah

24

Esai Juara I_FKIP UNSIKA

oleh Sri Kinasih, Universitas Singaperbangsa Karawang

Alternatif belajar dari rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan jalan terbaik yang dipilih pemerintah agar para siswa tetap dapat mengenyam pendidikan di tengah masifnya pandemi Covid-19. Aturan lebih jelas terkait pembelajaran jarak jauh, diatur dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19). Ada pun esensi dari surat edaran tersebut adalah pembelajaran yang dilakukan haruslah bermakna bagi peserta didik, bervariasi dan disesuaikan dengan minat peserta didik, terfokuspada kecakapan hidup, serta terdapat umpan balik bagi pendidik yang bersifatkualitatif. Dengan begitu, diharapkan para guru dapat membimbing peserta didiknya untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh yang bermakna dan menyenangkan. Meski tak dipungkiri, pembelajaran jarak jauh ini tak begitu saja dapat terlaksana dengan mudah, mengingat perlu adanya daya dukung yang memadai dalam menunjang proses pembelajaran ini.

Dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh, baik siswa atau pun guru perlu memiliki perangkat telekomunikasi yang memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dari jarak jauh, dan tentu saja peranti ini perlu didukung oleh koneksi internet. Tanpa adanya peranti tersebut, tentu pembelajaran jarak jauh tak dapat terlaksana. Selain itu, baik guru, siswa, atau pun orang tua murid juga perlu memiliki kemampuan atau pun penguasaan terhadap teknologi pembelajaran, agar proses pembelajaran jarak jauh dapat terlaksana secara efektif dan optimal. Tak hanya ketersediaan teknologi dan kemampuan dalam penguasaan teknologi saja yang dapat menunjang proses pembelajaran jarak jauh, tetapi kesiapan dari diri pendidik juga sangat diperlukan dalam menghadapi pembelajaran jarak jauh.

Memasuki abad ke-21, penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari bukan hal asing lagi, pada saat ini peranti telekomunikasi seperti gawai sudah umum dimiliki dan digunakan oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan internet terbesar ketiga, dengan populasi pengakses internet sebesar 17 persen atau 25,3 juta pengakses internet baru setiap tahun.

Namun, angka tersebut tentu tidak dapat menjadi patokan terhadap optimalnya proses pembelajaran jarak jauh. Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, bahkan menuturkan dalam acara Peringatan Hari Pendidikan Nasional, yang di tayangkan secara langsung di kanal Youtube Kemendikbud RI dan TVRI, bahwa dalam situasi krisis terdampak Covid-19, pemerintah menyadari bahwa digital gaps di Indonesia sangat besar. Kesenjangan tersebut tentu membuat beberapa daerah di Indonesia tidak memungkinkan dilaksanakannya pembelajaran daring. Meski Kemendikbud juga telah menyiapkan alternatif lain bagi para siswa yang terkendala peranti dan koneksi, yaitu dengan adanya program televisi Belajar dari Rumah. Namun, hal tersebut juga tak optimal, mengingat masih banyak daerah 3 T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang belum teraliri listrik, yang membuat mereka bahkan tak dapat mengakses pembelajaran melalui televisi.

Pada kenyataannya, tak hanya teknologi dan koneksi saja yang menjadi kendala, namun adanya ketidaksiapan baik dalam diri pendidik, peserta didik, dan bahkan orang tua murid, turut menyebabkan proses pembelajaran jarak jauh jadi tidak optimal. Berikut paparan terkait ketidaksiapan dari tiga kunci utama optimalnya pembelajaran jarak jauh.

1.  Ketidaksiapan dari Sisi Pendidik

  1. Kurangnya pemahaman terkait kebijakan

Kunci pertama ada di tangan pendidik, pendidik merupakan agen pertama dalam perpanjangan tangan pemerintah untuk menjalankan kebijakan pendidikan. Oleh sebab itu, pendidik perlu paham betul terkait kebijakan dan kondisi yang ada, apa bila pendidik tidak memahaminya maka akan terjadi suatu proses pembelajaran yang tidak diharapkan. Salah satu ketidaktepatan pendidik dalam mengisi pembelajaran jarak jauh adalah dengan memberikan tugas kepada peserta didik tanpa disertai bimbingan. Kondisi seperti ini tentu menghilangkan peran pendidik untuk membimbing dan mengarahkan siswanya, hingga pada akhirnya menimbulkan ketegangan psikis pada peserta didik. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima setidaknya 213 keluhan siswa perihal tugas yang menumpuk selama PJJ, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyatakan bahwa 58 persen anak mengaku tidak senang menjalani program Belajar dari Rumah. Dengan begitu, esensi yang diharapkan pemerintah untuk menciptakan suasana belajar yang bermakna dan menyenangkan punhilang.

  • Kurangnya penguasaan terhadap teknologi

Ketidaksiapan akan penggunaan teknologi ini biasanya dialami oleh para pendidik senior yang sudah berusia lanjut, hal ini tentu akan menghambat proses pembelajaran jarak jauh.

2.  Ketidaksiapan dari Sisi Peserta Didik

  1. Belajar di rumah sama dengan libur

Stigma ini telah melekat pada setiap peserta didik di Indonesia, hingga menyebabkan hilangnya kesadaran untuk belajar di rumah pada diri pesertadidik. Oleh sebab itu, stigma ini perlu dihilangkan dalam diri peserta didik, karena kunci kedua berlangsungnya pembelajaran secara optimal ada pada diri peserta didik. Apabila kesadaran untuk belajar itu hilang, maka proses pembelajaran tidak akan terjadi, dan peserta didik akan acuh terhadap pembelajaran daring yang tengah berlangsung.

  • Ketidakmampuan belajar mandiri

Belajar dari rumah, mau tidak mau akan membuat peserta didik belajar secara mandiri, mencari bahan pembelajaran sendiri, dan lain sebagainya. Namun, apabila mereka tidak terbiasa akan hal itu, maka akan menyebabkan pembelajaran jarak jauh tidak berlangsung secara optimal.

3.  Ketidaksiapan dari Sisi Orang Tua Murid

  1. Angkat tangan sepenuhnya terhadap pendidikan anak

Kerap kali orang tua terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri, sehingga mereka menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada guru. Padahal, suksesnya pendidikan anak tak terlepas dari campur tangan orang tua. Oleh karenanya, pada kondisi seperti ini hendaknya orang tua mau menyempatkan waktunya untuk membimbing anak dalam belajar.

  • b. Terbebani dengan biaya kuota guna mengakses kelas daring

Pembelajaran jarak jauh menimbulkan permasalahan baru, salah satunya adalah membengkaknya biaya untuk kuota anak. Banyak orang tua yang merasa keberatan untuk menanggung biaya kuota internet demi kepentingan belajar anaknya. Apabila orang tua tak mampu memenuhi kebutuhan kuota internet anaknya, maka proses pembelajaran daring pun tak akan terlaksana, padahal kunci terakhir terlaksananya pembelajaran jarak jauh ada di tangan orang tua.

Permasalahan-permasalahan di atas membuktikan bahwa Indonesia tidak siap menjalankan proses pembelajaran jarak jauh. Bahkan, pengamat pendidikan dari Center of Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji, menyatakan bahwa pendidikan Indonesia tak siap menghadapi abad 21, atau dengan kata lain pendidikan di Indonesia tidak sesuai zaman. Hal tersebut terbukti dari beberapa kendala seperti fasilitas yang kurang memadai, kurangnya kemampuan dalam menguasai teknologi, stigma yang menyatakan bahwa belajar dari rumah sama dengan libur, kurangnya kemandirian peserta didik dalam belajar, dan orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan pada pihak sekolah.

Menurut beliau, seharusnya kurikulum saat ini dapat diberdayakan untuk pembelajaran jarak jauh. Namun, karena kurangnya pemahaman dari tenaga pendidik terhadap rancangan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah pusat, membuat para pendidik mengajar sesuai dengan pemahaman masing-masing, sehingga implementasi kurikulum tidak optimal.

Diharapkan ke depannya, pendidikan di Indonesia dapat lebih baik lagi, kualifikasi pendidik dan tenaga pendidikan lebih di perhatikan lagi, dan kesadaran dari peserta didik untuk belajar dapat terus meningkat. Tak lupa, diharapkan juga orang tua menyadari bahwa suksesnya pendidikan anak tak terlepas dari campur tangan orang tua. Karena seperti yang Bapak Nadiem tuturkan, bahwa kolaborasi antara guru, peserta didik, dan orang tua (keluarga), akan menghasilkan level pembelajaran yang optimal.

Daftar Pustaka

Kompas.com. Bila Belajar di Rumah Diperpanjang, Nadiem: Tak Harus Online dan Akademis. 25 Maret 2020, 15:42 WIB [diakses 5 Mei 2020]. Tersedia dari             https://www.kompas.com/edu/read/2020/03/25/154226271/bila-belajar-di-  rumah-diperpanjang-nadiem-tak-harus-online-dan-akademis?page=all#page2

Kompasiana.com. Leonardi Gunawan. Siswa Belajar di Rumah, Antara Harapan dan Kenyataan. 21 Maret 2020, 13:44 WIB [diakses 5 Mei 2020]. Tersedia dari https://www.kompasiana.com/amp/ha-eun/5e75b7df097f3642a85169f2/siswa-belajar-di-rumah-antara-harapan-dan-kenyataan

Korankaltim.com. Pandemi Corona Jadi Bukti Pendidikan Indonesia Tak Siap Hadapi Abad 21. 16 April 2020 [diakses 4 Mei 2020]. Tersedia dari    https://www.korankaltim.com/pendidikan/read/30279/pandemi-corona-jadi-bukti-pendidikan-indonesia-tak-siap-hadapi-abad-21

Medium.com. Bagus Ramadhan. Data Internet di Indonesia dan Perilakunya Tahun 2020. 16 Februari 2020 [diakses 5 Mei 2020]. Tersedia dari    https://link.medium.com/5j2zXXToe6

Leave A Reply

Your email address will not be published.