Take a fresh look at your lifestyle.

Buka Buku Masihkah Jadi Candu atau Penuh Gerutu?

126

Lantas seperti apa realita kehadiran dan eksistensi buku saat ini di kalangan generasi muda?

Apriani Yulianti, S.Pd., Gr

Ada yang tak biasa di tanggal 23 April yang lalu. Pasalnya pada hari tersebut dijadikan salah satu peringatan hari spesial tanpa banyak orang yang tahu. Tak seperti Hari Pendidikan Nasional, Hari Lahir Pancasila, atau Hari Kartini yang bahkan diperingati selang beberapa hari sebelumnya. Padahal jikalau saja dirunut hubungan kausalitasnya, jelaslah bahwa ke semua peringatan tersebut justru bisa dikatakan dijiwai oleh peringatan pada tanggal 23 April. Lantas ada peringatan sepenting apakah di tanggal 23 April? Ternyata tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku Internasional.

Untuk momen sepenting ini tentu saja ada sejarah panjang yang melatarbelakanginya. Pada tanggal 23 April di tahun 1995, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menggelar konferensi umum di Paris, Perancis. Pada konferensi itulah, UNESCO mencetuskan perlu adanya sebuah hari untuk merayakan buku, penulis, serta mendorong anak-anak muda menemukan kesenangan dari membaca.

Akhirnya dipilihlah tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia. Hal ini dikarenakan pada tanggal tersebut juga merupakan tanggal kematian sejumlah penulis terkenal dunia, seperti William Shakespeare, Miguel De Cervantes, dan Inca Garcilaso De La Vega.

Lantas seperti apa realita kehadiran dan eksistensi buku saat ini di kalangan generasi muda? Mari kita ulas bersama-sama. Lalu kenapa harus menyandingkan eksistensi buku dengan generasi muda? Karena wajah kecintaan buku di tahun-tahun mendatang ada di tangan generasi muda saat ini. Sudah seharusnya generasi muda saat ini mencintai aktivitas membaca buku dengan sangat. Bahkan lebih dari ketergantungan mereka terhadap perangkat digital. Namun pada kenyataannya di zaman yang serba digital saat ini, hal ini justru menjadi sebaliknya.

Generasi muda lebih menggandrungi sesuatu yang mereka anggap praktis dan simple dibanding sesuatu dengan volume lebih besar. Alhasil mereka lebih memilih membaca dalam genggaman dibanding membaca ditopang kedua tangan. Ponsel pintar akan jauh lebih menarik dibanding sebuah buku. Membolak-balik halaman dianggap tidak akan sepraktis menaik-turunkan layar menggunakan jari jempol.

Hal ini tentu menjadi sebuah PR besar bagi kita semua, utamanya bagi tenaga pendidik di setiap jenjang pendidikan. Agaknya momen hari buku internasional menjadi peringatan keras bagi seluruh tenaga pendidik untuk berusaha lebih giat dari sebelumnya untuk mengajak anak didiknya mencintai kembali aktivitas membaca buku di tengah arus era digital saat ini.

Keprihatinan akan kian menipisnya kecintaan membaca buku pada generasi muda saat ini pun coba direpresentasikan lewat judul opini ini. Sebelum jauh ke aktivitas membaca, untuk membuka bukunya saja apakah generasi saat ini masih menjadikannya candu atau melakukannya penuh gerutu? Jawaban atas pertanyaan ini tentu ada di tangan kita semua selaku tenaga pendidik. Semoga generasi muda saat ini masih akan selalu menjadikan aktivitas buka buku tanpa gerutu namun mencandu.

Selamat Hari Buku Internasional tahun 2021.


Sebuah opini dari:
Apriani Yulianti, S.Pd., Gr
Guru Bahasa Indonesia Smp Negeri 3 Gantung, Belitung Timur

Sebagai Refleksi Peringatan Hari Buku Internasional 2021

Leave A Reply

Your email address will not be published.