Take a fresh look at your lifestyle.

DILEMA TEMBAKAU DI INDONESIA

56

Oleh: Shatrani Zafira Latifa Akbar

Siapa yang tak tahu rokok? Benda berbentuk silinder yang dibungkus dengan gambar-gambar seram dan menakutkan. Caption-nya, “Merokok Membunuhmu!”. Di bagian bawah belakang bungkusnya jelas dituliskan bahwa merokok bisa menyebabkan kankker, gangguan kehamilan dan janin. Akan tetapi benda itu masih saja laku karena orang-orang membelinya.

Alkisah, rokok pertama kali ditemukan  oleh suku Indian di Amerika. Lalu pada abad ke-16, sebagian dari para penjajah Eropa yang ada di Amerika ikut mencoba-coba menghisap rokok. Mereka ketagihan hingga membawanya pulang ke negara asalnya. Akibatnya, pada abad ke-17, para pedagang dari Eropa, khususnya Spanyol yang masuk ke Turki ikut menyebarkan budaya menghisap rokok. Sejak saat itu kebiasaan merokok mulai masuk ke negara negara islam.

Menurut riset dari Tobacco Control and the Indonesian Public Health Association, 51,1% rakyat Indonesia adalah perokok aktif. Indonesia sendiri merupakan negara dengan orang yang merokok tertinggi di ASEAN. Dari jumlah itu, dominasinya adalah laki-laki. Hanya 1,1% perempuan Indonesia yang merupakan perokok aktif. Akan tetapi, meskipun demikian, jumlah perokok akti itu konon tak lebih banyak dari perokok pasif.

Banyak kasus kesehatan yang terjadi di Indonesia akibat merokok, di antaranya berkaitan dengan kesehatan. Para perokok biasanya merokok untuk kesenangan diri sendiri dan tidak memperhatikan lingkungannya. Padahal, dari rokok, asap yang dihasilkan dapat mencemarkan udara sekitar, sehingga menyebabkan polusi. Selain bagi lingkungan, dampak yang paling terasa adalah kepada orang-orang di sekitarnya.

Tapi, pernahkah kita bertanya apa bahan pembuat rokok? Kalau pernah, pernahkah kita coba memahami tentang bahan tersebut dan manfaatnya? Jika dijelaskan, itu akan sangat menyadarkan.

Menyadarkan yang dimaksud bukan berarti hanya berorientasi pada kebiasaan merokok. Justru yang dimaksud adalah menemukan bahan pembuat rokok, memahami, menganalisa, dan berpikir bagaimana jika bahan pembuat rokok dimanfaatkan untuk hal lain sehingga lebih berdayaguna.

Bahan pembuat rokok yang paling dominan adalah tumbuhan tembakau. Rencana Strategis Kementerian Pertanian menyatakan bahwa komoditas tembakau merupakan salah satu dari 39 produk unggulan nasional. Tembakau merupakan produk unggulan perkebunan non pangan yang menempatkan Indonesia dalam peringkat ke-7 sebagai negara produsen tembakau. Selama ini pertambahan produksi perkebunan tembakau berkisar 3,75 persen dalam 4 tahun, sehingga salah satu target dari rencana strategis ini adalah meningkatkan produksi tembakau menjadi 184 ribu ton dengan produktivitas 893 kilo per hektar.

Tingginya produktifitas tembakau membuat peluang membuat produk olahannya juga besar. Sayang dari hasil tersebut, tembakau hanya digunakan untuk menghasilkan benda yang akan dibuang, yaitu rokok. Padahal, jika bisa diolah lebih dari itu, akan menghasilkan devisa bagi negara yang lebih banyak. Devisa negara sendiri merupakan keuntungan bagi Indonesia. Selain itu, jika bisa diolah, industri pengolahan tembakau akan menjelma menjadi lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Dengan inilah perlu ditingkatkan kembali kesadaran untuk beripikir ulang mengelola tembakau. Banyak hal selain rokok yang bisa dihasilkan dengan manfaat tumbuhan tembakau. Kita bisa mulai dari Bandung. Orang-orang merubah puntung (batang sisa bekas) rokok menjadi aneka kerajinan tangan. Hasilnya, mereka mendapat keuntungan secara ekonomi dan lingkungan yang mengurangi sampah.

Untuk tembakau sendiri, tumbuhan ini bisa digunakan untuk berkebun. Berkebun bisa membantu untuk kelestarian alam. Pada aktivitas berkebun, daun tembakau dapat digunakan sebagai anti hama yang mengganggu tumbuhan lain. Kutu yang menyerang daun, hama pengerek batang, dan laba-laba yang bersarang pada tanaman yang ditanam, dapat diusir menggunakan daun tembakau yang dicampur dengan air. Para petani di beberapa tempat sudah memanfaatkan khasiat daun tembakau ini sejak lama.

Selain itu, banyak khasiat yang bisa dihasilkan dari tembakau, di antaranya obat flu dan batuk, obat ruam kulit, eksim dan reumatik, sakit gigi, menghasilkan protein antikanker, hingga obat gangguang mental. Dengan kata lain, bahan utama rokok ini sangat banyak khasiatnya.

Jika dari khasiat-khasiat di atas diolah menjadi produk, maka bisa dibayangkan akan banyak produk yang bisa dihasilkan. Memang, untuk itu perlu waktu dan membutuhkan modal yang besar. Akan tetapi itu akan lebih baik dari jika tembakau hanya dijadikan bahan rokok yang berpotensi menimbulkan banyak masalah kesehatan. Ya, memang itu dilemma bagi tembakau di Indonesia.

Shatrani Zafira Latifa Akbar
Shatrani Zafira Latifa Akbar, Kelas 8 SMP Ar Ridha Al Salaam, Depok
Suka menulis dan edit video
Intagramku : @shtrani.zr

Leave A Reply

Your email address will not be published.