Take a fresh look at your lifestyle.

HIJRAH DALAM PEKATAAN DAN PERBUATAN “Tantangan dan Peran Muslim di Era Milenial”

110

Maliq Adhyaksa Al Ayyoubi

Akhir-akhir ini, “Ingin jadi lebih baik!” adalah kalimat yang meragukan bagi saya. Setidaknya sampai saat ini, setelah saya terlibat dengan teman-teman di lingkungan pergaulan. Kalimat itu dengan ringan meluncur dari bibir yang basah. Enteng terdengar ke dalam gendang telinga setiap yang mendengarkan. Akan tetapi sangat berat untuk dilakukan.

Ingin jadi lebih baik, namun shalat tetap jarang dilakukan. Ingin jadi lebih baik, namun saat orang tua menyuruh mengaji malah pergi main bareng (mabar). Ingin jadi lebih baik, namun maksiat tetap berjalan. Ingin jadi lebih baik, hanya ingin, namun tidak ada usaha untuk membuktikannya. Pembuktian yang sangat dibuktikan. Itulah tantangan kita sebagai generasi milenial untuk berperan sebagai Muslim di era ini.

Sekarang adalah era di mana semua serba cepat dan mudah. Manusia terbiasa menjalani hidup hanya dengan menatap layar dan langsung “klik” untuk menyelesaikan pekerjaannya berikut memenuhi kebutuhannya. Tak heran jika manusia zaman ini mulai terlena dengan semua hal yang serba berbau teknologi canggih (high tech) dan serba tinggal sentuh (high touch).

Terlenanya manusia oleh kondisi demikian membuatnya merasa berhak melakukan segala sesuatu. Manusia merasa berhak melakukan apa saja termasuk hal yang dilarang oleh agama. Di kalangan teman-teman dekat, saya menyaksikan ada orang tua yang membolehkan anak perempuannya membuka aurat. Hal tersebut dilakukan dengan sama sekali tidak merasa bersalah, baik orang tua maupun anaknya. Padahal aurat adalah sesuatu yang harus ditutup, dan anaknya adalah tanggung jawab orang tua ketika di akhirat.

            Selain itu, ada juga teman-teman yang merasa bangga karena diri mereka dicap bandel dan tukang buat keonaran. Mereka senang dengan perkataan kasar yang biasa mereka pergunakan dalam pergaulan. Ada lagi yang merasa hebat karena sudah bisa merokok dan mengkonsumsi alkohol. Yang paling parah adalah mereka yang sudah menyalahgunakan narkoba dan melakukan sex bebas.

            Hal-hal demikian bisa terjadi karena berbagai faktor, di antaranya faktor keluarga. Beberapa teman menjadi salah pergaulan karena orang tuanya sendiri yang memberi contoh salah. Beberapa yang lain terlibat salah pergaulan karena orang tuanya masih ada dan sudah mencontohkan baik, tetapi mereka memilih jalan pergaulan yang salah. Sebagian lagi teman-teman yang orang tuanya sudah meninggal. Khusus teman-teman yang begitu, mereka terjebak dalam kesedihan dan bertemu orang yang memengaruhinya untuk ikut pergaulan yang salah. Saat orang tuanya masih ada, hidup mereka teratur. Sedangkan saat sudah tidak ada, mereka merasa bebas melakukan apapun sehingga tidak teratur.

Faktor lain yang menjadi penyebab adalah salahnya memilih contoh atau figur teman dalam pergaulan. Kebanyakan teman-teman dalam pergaulan lebih hafal lagu-lagu barat dibanding Al Quran juz 30, lebih bertenaga jika membicarakan budaya yang merusak dari pada mendengarkan Sirah Nabawiyah, malah lebih senang mencontoh perilaku artis-artis daripada meniru perilaku Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya.

Maka, dengan demikian terbukti bahwa peran utama dalam hal pendidikan kepada anak adalah figur orang tua. Pentingnya peran orang tua dalam islam, khususnya Ibu digambarkan dalam ungkapan Al Ummu wa Rabbatul Bait dan Al Ummu Madrasatul Ula. Ibu dan pengatur rumah tangga serta Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Jika Ibu dikatakan sekolah, maka Ayah adalah kepala sekolahnya. Peran Ayah dalam pendidikan anak lebih kompleks. Di dalam Al Quran, Allah memberikan banyak contoh bagaimana cara mendidik anak. Contoh yang paling bagus adalah dalam Surat Luqman. Di sana dijelaskan bagaimana seorang Ayah mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang selalu beriman dan bertaqwa.

Kedua peran Ibu dan Ayah yang maksimal akan mampu memberi contoh yang selalu bisa diikuti dan dijalankan. Anak-anak akan lebih menurut pada orang tua yang mencontohkan ketimbang yang hanya bisa berkata atau sekadar menyuruh. Anak selanjutnya akan punya figur untuk diteladani secara perilakunya.

            Perilaku baik yang dicontohkan terus menerus bisa menghasilkan rasa simpati dan empati. Rasa tersebut muncul sebagai respon hal yang bukan hanya bisa dilihat, tetapi juga bisa dirasakan. Kalau orang lain sudah merasa nyaman dengan perilaku yang kita tunjukkan, maka mereka dengan sendirinya akan mengikuti. Mungkin itulah sebabnya Rasulullah Saw dihadiahkan kepada kita untuk menyempurnakan akhlak. Dengan akhlak yang sempurna, beliau diikuti oleh sebagian besar manusia di dunia, bahkan setelah beliau wafat ribuan tahun yang lalu.

            Setelah peran orang tua, sebetulnya yang tak kalah penting adalah ketahanan diri sendiri. Ketahanan yang dimaksud adalah sikap dalam pergaulan yang tidak terpengaruh hal-hal yang negatif seperti yang disebutkan di atas. Kita sebagai generasi milenial bisa memilih fight or flight. Fight adalah bagaimana kita sebagai generasi milenial bisa melawan arus negatif pergaulan agar tidak ikut salah pergaulan. Sedangkan flight berarti terbang alias kabur. Seseorang berpotensi kabur khususnya karena kesedihan sehingga ia terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.

            Dalam pergaulan yang terlanjur salah, biasanya muncul keinginan untuk hijrah. Hijrah menjadi sesuatu yang popular di kalangan masyarakat Muslim kita. Bagaiamana tidak, dari artis hingga ibu rumah tangga, dari anak muda perkotaan hingga desa, semuanya mengenal istilah ini. Namun jika ditanya makna di dalamnya, sebagian besar hanya menjawab bahwa hijrah hanya sebatas aspek ritual saja. Contohnya, hijrah bagi sebagian besar teman-teman adalah dari tadinya tak memakai kerung jadi memakai kerudung. Dari tadinya tidak shalat menjadi rajin shalat. Padahal hijrah lebih luas dan dalam dari hal itu.

            Dalam Islam, hijrah yang inti bisa kita temukan dalam Al Quran surat At Thalaq ayat 11. Makna hijrah dalam ayat tersebut adalah “terus bergerak” dari kegelapan (zhulumat) menuju kehidupan bercahaya atau terang benderang (nur). Artinya hijrah bukan hanya dalam satu aspek saja, melainkan seluruh aspek kehidupan hingga kita menemui ajal sebagai batas perjuangannya. Jadi bukan hanya ritual apalagi hanya bicara “Ingin jadi lebih baik!”.

            Menurut Husein Ja’far Al-Hadar, minimal ada empat aspek yang harus dilakukan jika ingin berkomitmen untuk hijrah. Pertama, spiritual atau sufistik-tasawuf. Aspek ini menitikberatkan pada pergerakan atau perjuangan seorang hamba menuju Allah. Jalannya dengan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji.

Kedua, aspek kultural. Aspek ini berarti kita sebagai muslim harus mengakulturasikan Islam yang datang dari negeri Arab dengan nilai-nilai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini sudah dicontohkan oleh para wali sanga ketika mendakwahkan Islam di Indonesia. Beliau para wali sanga, menggabungan inti ajaran islam dengan budaya Indonesia sehingga ajaran Islam bisa diterima masyarakat.

Ketiga, aspek filosofis. Filosofis yang dimaksud adalah bahwa islam membawa umatnya berhijrah dari keterbelakangan menuju kemajuan. Sebab, salah satu misi Islam adalah melawan kebodohan (jahiliah). Caranya dengan ilmu pengetahuan yang sudah terdapat dalam pedoman yang suci, yaitu Al Quran dan Hadits.

Keempat aspek sosial. Dalam aspek ini, disajikan bagaimana seseorang yang berhijrah hendaknya membumikan nilai-nilai Islam. Sederhananya, menjadikan Islam rahmat bagi semesta (Islam Rahmatanli ‘Alamiin), bukan hanya bagi umat islam atau malah sebaliknya. Jangan sampai setelah seseorang mengatakan dirinya hijrah, mungkin ibadahnya rajin tapi perilakunya tidak lebih ramah. Jangan sampai setelah mengatakan hijrah, kita malah tidak bersosialisasi. Apalagi setelah menyatakan hijrah tetapi mudah menghakimi orang lain salah atau kafir. Termasuk dengan teman-teman yang memiliki pilihan yang berbeda atau masih belum memahami makna hijrah.

Berdasarkan keempat aspek dalam komitmen hijrah tersebut, hijrah seharusnya dilakukan dalam perkataan dan perbuatan. Seorang yang menyatakan dirinya berhijrah hendakanya lebih rendah hati dan menjadi pribadi yang lebih menyenangkan dan tidak menganggap rendah orang lain. Seorang yang hijrah dalam perkataan dan perbuatan tidak akan menyepelekan kata hijrah dengan perkataan di mulut saja. Ia akan juga menyelaraskan setiap perkataan dan perbuatannya. Dengan demikian, jika sudah hijrah dalam kata dan perbuatan, semoga kita bisa berperan lebih besar sebagai seorang Muslim di era ini.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hadar, Husein Ja’far. 2020. Tak di Ka’bah, di Vatikan, atau di Tembok Ratapan, Tuhan Ada di Hatimu. Jakarta: Noura Books.

Al-Qur’an dan terjemahannya. 2008. Departemen Agama RI. Bandung: Diponegoro.

Maliq Adyaksa Al Ayoubi
SMAI Dian Didaktika
, Depok
Senang Menulis. Gemar membaca karya-karya Fiersa Besari dan Pidi Baiq

Leave A Reply

Your email address will not be published.