Take a fresh look at your lifestyle.

KELAS TAKJIL

206

oleh Deden Fahmi Fadilah

Dalam sebuah acara berbuka puasa bersama kawan-kawan di Ramadan yang lalu, seorang kawan mengingatkan saya pada suasana perkuliahan yang sudah tuntas  lama sekali. “Nostalgia”, katanya. Saya yang memang pendiam hanya menyimak yang jadi perbincangan. Mereka, kawan-kawan saya, sempat “mengotak-atik” kata takjil yang memang menarik perhatian di bulan Ramadan seperti ini. Bagaimana tidak, takjil bisa kita temukan di hampir setiap penjuru kota saat bulan Ramadan: di pinggir jalan, warung-warung, dan pasar; yang gratis atau berbayar sekali pun.

Sebelumnya, bakda asar, saya pergi dari rumah menuju sebuah rumah makan tempat kami akan berbuka puasa. Di perjalanan, banyak orang yang mulai menjajakan makanan takjil. “Menyediakan takjil gratis”, “Pasar Takjil Ramadan”, dan beberapa spanduk lainnya yang menggunakan kata takjil, saya temukan sepanjang perjalanan. Awalnya biasa saja. Ketika sampai di rumah makan, bersama kawan yang sudah tiba, kami menunggu magrib sambil mengobrol saja, sebelum salah seorang kawan memulai perdebatan. “Takjil itu bukan makanan!”, tegasnya.

Beberapa orang menanggapi ini sebagai lelucon, tapi saya teringat guru agama saat SMA yang mengatakan bahwa Rasulullah saat berbuka puasa bertakjil dengan memakan tiga buah kurma dan segelas air, mendirikan salat, barulah memakan makanan pokok.

Apakah takjil itu makanan—dalam hal ini makanan pembuka saat buka puasa? Dalam KBBI sendiri, takjil (v) berarti mempercepat (buka puasa). Secara pemahaman pun takjil berarti menyegerakan buka puasa, tidak menunda buka puasa. Memang betul, untuk takjil, kita biasa memakan makanan pembuka yang manis terlebih dahulu seperti kolak, es buah, kurma. Tapi tidak bisa diartikan bahwa takjil adalah jenis makanan pembuka saat berbuka puasa karena kata ini berjenis kata “kerja”. Jika takjil yang dimaksud adalah makanan, maka kata tersebut seharusnya berjenis kata “benda”. Dengan begitu, bagaimana jadinya makna dari “Menyediakan Takjil Gratis”, “Pasar Takjil Ramadan”?

Lalu seorang kawan yang lain mengatakan, “Mengapa takjil tidak diserap menjadi tajil, seperti pada kata jumat?”. Kata takjil adalah serapan dari bahasa Arab (تعجيل‎). Sebagaimana pedoman ejaan yang berlaku, jika huruf ain berada di ujung suku kata maka akan menjadi /k/ dengan pengucapannya yang dihambat, kasus ini serupa dengan kata rakyat, rukuk, makna, bakda. Berbeda dengan kata Jumat. Huruf ain tidak berada di akhir suku kata atau tidak mati, maka menjadi huruf vokal biasa tanpa tanda petik satu, seperti kata dai, syari, taat. Intinya, dalam pembentukannya, takjil bisa diterima.

Akan tetapi, pada eksekusi, masih terdapat kekeliruan. Kata takjil akan lebih tepat lagi jika digunakan dalam kalimat bergandengan dengan kata makanan atau minuman. “Masjid ini menyediakan makanan/minuman takjil gratis”, “Pasar Makanan/Minuman Takjil Ramadan”, kedua rangkaian terebut lebih bisa dipahami ketimbang sebelumnya. Itu menurutku, dan yang ada di pikiranku.

Azan magrib telah terdengar, maka harus disegerakan berbuka puasa. “Takjil!!” kata seorang kawan menyeru agar lekas berbuka. Konon, Rasulullah memerintahkan untuk menyegerakan berbukan puasa saat azan magrib berkumandang, yang manis dan jangan berlebihan untuk kesehatan perut. Kami mulai meminum segelas air minum yang tersedia. Saat mulai santap makanan buka puasa, kawan-kawan saya berhenti berdebat. Semua sibuk memakan makanan takjil yang dipesan. Ah, ya ampun, kami bukan sedang berada di kelas! Maka, Marhaban ya Ramadan.***

Juni 2016

*artikel ini pernah dimuat di harian Pikiran Rakyat pada Bulan Ramadan 2016.

Leave A Reply

Your email address will not be published.