Take a fresh look at your lifestyle.

Masalah Serius Pendidikan Kita

136

Oleh: Aldi Cikal Yudawan*

            Saya sangat semangat berdiskusi jika topiknya pendidikan. Sebab, Pendidikan adalah Rahim peradaban. Yang keluar dari dalamnya adalah generasi-generasi yang akan hidup, jauh menjadi pengelola kehidupan.

Berawal Dari Sebuah Diskusi

Beberapa malam lalu, ada sebuah diskusi menarik antara saya dengan istri. Tentu bukan hanya soal popok dan menu makan sehari-hari. Diskusi kami tentang ekosistem pendidikan yang langsung bersentuhan dan ada di sekitar. Utamanya tentang konsep pendidikan yang ada.

Pada awalnya, ia bertanya bahwa kenapa sangat banyak orang tua yang menganggap bahwa belajar itu harus diawali dari definisi. Kemudian, masih banyak orang tua yang ingin anaknya belajar dengan mengenal ciri-ciri apa yang dipelajari. Lalu pada akhirnya, baru para orang tua itu ingin anaknya diberi contoh dan diajak berlatih menyelesaikan soal yang diberikan. Setelah semua itu diberikan, baru para orang tua itu menyebut anaknya sudah belajar.

Sedangkan istri saya mengajar lukis, yang notabene sesuatu yang tidak bisa dibuat seperti itu. Ia mengatakan bahwa belajar melukis itu sangat tidak terikat dengan apa yang disebut definisi, ciri-ciri, langkah-langkah. Lebih dalam, melukis bukan soal benar atau salah dan perlu dicatat bahwa melukis bukan soal bagus dan jelek. Saat itu, ia tumpahkan semua unek-unek yang ada di benaknya.

Saya diam lama, mendengarkan paparannya hingga selesai dan siap untuk memberi tanggapan. Saat ia berhenti, saya coba bertanya kepadanya apakah yang dimaksud sangat banyak orang tua itu sudah dipastikan jumlahnya? Ia mengangguk. Saat saya kejar tentang tahukah ia tentang latar belakang pendidikan ornag tua yang dimaksud, ia mulai menghela napas, berpikir. Lalu, jawaban yang keluar dari mulutnya adalah kebanyakan dari orang tua tersebut adalah yang terdidik dengan cara di mana belajar itu ya harus tahu dulu apa pengertian atau definisi yang dipelajari, ciri-ciri hal yang dipelajari, dan baru menyelesaikan contoh soal.

Baik. Sampai sini, saya coba mengambil ancangan untuk menanggapi dengan pernyataan.

Sebuah Tanggapan

Kalau memang demikian, kemungkinan besar para orang tua yang dimaksud istri saya adalah mereka yang terdidik dengan cara serba terstruktur, penuh tekanan, dan semua hal yang dilaksanakan berdasarkan dua pilihan; pertama hukuman, kedua imbalan. Cara serba terstruktur adalah model penjajah kala menghisap sumber daya dari setiap tanah jajahannya. Penuh tekanan dilakukan agar tidak boleh ada interupsi, kritik, dan penolakan. Sedangkan hukuman dan imbalan merupakan cara paling ampuh untuk mengadu domba. Hukuman akan diberikan bagi siapa yang tidak patuh, sedangkan imbalan akan diberikan bagi siapa saja yang manut.

Model begitu jelas sangat berbahaya jika pernah dan masih dilakukan dalam proses pendidikan. Dari sumbernya saja sudah kadung terlarang-penjajah-, apalagi nanti luaran yang dihasilkannya. Sistem yang bergulir adalah keseragaman, feodalisme, dan paksaan. Tak ayal, produk pendidikan bukan manusia, melainkan mesin-mesin yang “siap dipakai”. Tak usah berharap muncul inventor atau kreator, tidak plagiator saja sudah bagus. Sampai di sini, istri saya nampak setuju dan kami meneruskan diskusi pada pemotretan masalah lebih dekat.

Hal yang begitu tampak kemudian adalah bahwa kondisi yang dialami orang tua yang demikian bisa jadi adalah suatu masalah. Masalah itu bisa saja ada pada kita, termasuk kami yang saat ini menjadi sebagai orang tua. Orang tua menganggap bahwa belajar itu ya menghafal pengertian, ciri-ciri, lalu puncaknya mengerjakan latihan soal. Kalau ada diskusi tentang topik lain di luar materi yang dipelajari, anggapannya bukan bagian dari proses belajar. Sehingga jangan heran jika terkadang sedang asyik diskusi dengan murid, ada saja yang bertanya, “Kok, kita gak belajar-belajar, sih!” atau “Kapan belajarnya? Dari tadi cuma ngomongin film, lagu”. Nah!

Baca Juga :  Menumbuhkan Semangat Literasi di Masa Pandemi

Padahal nyatanya, setiap kejadian di dalam kelas (daring atau luring) adalah bagian dari proses belajar. Kita tahunya, selama ini belajar adalah pemberian materi dari guru dengan disertai penjelasan, murid yang mendengarkan dan menulis hal-hal penting, lalu dipuncaki dengan penilaian melalui pengerjaan tugas berupa soal-soal. Kita tidak tahu bahwa belajar bermakna sangat luas, lebih dari itu. Selama ini jarang sekali-baik orang tua, guru, dan murid-diajak kembali memaknai belajar sebagaimana mestinya. Bahwa belajar adalah semua hal yang dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, sehingga dari kegiatan tersebut kita memeroleh pengalaman untuk menjadi lebih tahu atau lebih bisa melakukan sesuatu, itu menjadi hal yang tabu.

Sekarang Beda

Kalau zaman dahulu iya, bahwa belajar begitu. Tetapi zaman sudah berganti dan cara kita menjalani zaman yang baru juga hendaknya berganti. Kewaspadaan semacam ini saya temukan dalam buku Pnduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now (Bukik dkk, 2018). Pada masa lalu cara belajar mungkin sesuai dengan zamannya, namun sekarang sudah berbeda. Zaman dulu, sumber informasi terbatas sehingga guru menjadi satu-satunya sumber informasi yang ada. Peralatan juga terbatas sehingga tidak memungkinkan murid dan guru untuk berinovasi. Tuntutan pekerjaan juga hanya sebatas mekanis dan hanya butuh kemampuan kognitif tingkat rendah bernama hafalan. Tapi sekarang, zaman berubah sehingga tantangannya pun berubah.

Kita ada di mana para murid bisa mengakses informasi dari mana pun, kapan saja, dan di mana saja. Asalkan ada sinyal dan kuota internet. Peralatan sudah tinggal pesan sehingga karya-karya bisa dibuat. Tuntutan pekerjaan sudah bukan lagi secara mekanis, yang mekanis bisa dengan mudah tergantikan mesin. Nah, kita masih-sebagai orang tua atau guru-menggunakan cara lama untuk mendidik? Coba pikirkan ulang.

Inginnya si anak cepat mencapai hasil yang dibayangkan sehingga terlihat nyata buah dari proses belajarnya. Lalu biasanya, yang disebut hasil itu jadi alat saling membanggakan diri dengan orang tua yang lain. Akhirnya, hasil itu menjadi pembanding satu anak dengan anak yang lain. Terjadilah faith a compli antaranak karena orang tua membanding-bandingan satu anak dengan anak yang lain. Dalam satu keluarga maupun antara satu keluarga dengan anak di keluarga lain.

Bukan hanya itu, dalam kerangka pedagogi, memandang belajar harus selalu terstruktur justru malah mengekang kebebasan dan daya nalar anak. Misalnya saja anak diminta menggambar burung, sudah pasti hasil gambaran si anak berbeda, entah objeknya sama atau dibebaskan. Kita cenderung, sudah objeknya diberi sama, cara menggambarnya harus sama, bahkan hasilnya pun harus sama. Sampai di sini, sudah bisa dilihat terdapatnya sebuah hal yang disebut pendiktean saat anak menjalani proses belajarnya. Pendiktean itulah yang kemudian menjadi sangat serius bagi pendidikan.

Tidak final di situ-dalam pelajaran seni saja-tetapi dalam semua pelajaran. Bayangkan, selama ini anak-anak harus belajar materi yang sama, dengan cara mengajar guru yang sama, dan cara menilai mereka juga sama. Ampun, tidak mungkin ayam akan menggonggong dan mustahil anjing akan mengembik.

Sambung Menyambung

Saya jadi ingin menyambungkannya dengan sains, matematika, agama, bahkan bidang-bidang lain yang biasanya disebut mata pelajaran. Dalam sains, misalnya saat akan melakukan percobaan tentang pertumbuhan kecambah. Meskipun alat dan bahan yang dipakai sama, panduan cara dan langkah-langkah percobaan diberikan, pasti hasilnya akan beda-beda. Hal tersebut tentu tergantung anak sebagai subjek belajar yang melakukannya.

Baca Juga :  Mengungkap Jejak Terobosan Kadisdik Jabar

Ada yang mungkin saat memilih kacang hijaunya, atau saat menggunakan tanahnya, atau saat menambahkan air untuk menyiramnya, bahkan saat menyimpannya. Semua itu dinamika dalam belajar dan dari sisi sebagai guru (orang tua) kita harus memafhuminya. Apapun saja yang dilakukan subjek belajar saat melakukan setiap tahapan belajar harus tetap diapresiasi, bukan malah disudutkan untuk kemudian terdiskriminasi karena melakukan hal yang berbeda.

Belum lagi di matematika, banyak cara untuk memeroleh hasil perhitungan. Contohnya untuk mendapat hasil 10. Sejatinya, anak bisa memerolehnya dengan cara 1+9, bisa juga 2+8, 3+7, bahkan bisa 20-10 dst. Tergantung jalan mana yang akan ditempuh. Dan setiap jalan menyajikan rintangan yang berbeda-beda. Itulah yang dinamakan pengalaman belajar. Bukan yang melulu diatur, ditekan, lalu dipaksa.

Dalam pelajaran agama bisa lebih parah. Sependek yang saya saksikan, selalu saja ada alur belajar yang linier; merasa bahwa apa yang dianut adalah yang lebih baik bahkan satu-satunya yang baik. Kalau sudah demikian, melekatlah dogma baha yang lain berarti belum baik, cenderung salah, dan sudah pasti buruk. Akibatnya, pergaulan kita dengan yang lain secara tidak sadar sudah dikendalikan dengan rasa kecurigaan meskipun tak dibicarakan. Aduhai, lihatlah wajah-wajah lugu itu. Mereka sejak masuk sekolah harus menyimpan bara dalam alam bawah sadarnya yang kapan saja bisa membakar dirinya untuk menjadikan orang lain yang berbeda menjadi musuh.

Yang Bisa Dilakukan

            Sungguh serius sekali masalah pendidikan kita-setidaknya bagi saya dan istri saya-. Hanya dari kurang presisi saja memandang makna pendidikan, kompleksitasnya bisa berlipat ganda. Mungkin ada benarnya jika kita kembali pada filosof lama yang dimiliki bangsa, Ki Hadjar Dewantara. Beliau yang menyebut bahwa setiap anak memiliki kodrat untuk tumbuh dan berkembang. Jangan kodrat itu terhalang oleh sesuatu yang kita sangka itu rapi, terarah, mengikuti sistem, namun malah membunuh potensi tumbuh kembang.

Sangat disayangkan jika benih-benih istimewa yang sudah hadir di dunia ini harus layu sebelum panen. Potensi anak itu tidak perlu lagi ditanam, sudah ada dan tinggal ditumbuhkan. Malah, tidak perlu repot-repot menumbuhkan karena akan tumbuh dengan sendirinya sesuai dengan rasa ingin tahu yang terfasilitasi dengan baik.

Sayng jika kita merasa paling tahu tentang apa yang dibutuhkan anak, padahal secara generasi saja sudah berbeda. Kalau kita tidak perlu menanam dan menumbuhkan, yang perlu dilakukan adalah tidak membunuh rasa ingin tahu setiap anak dengan terlalu mengatur, dan memaksakan sesuatu kepada mereka. Lebih baik, mulailah dengan sedikit demi sedikit menghapuskan pendiktean dalam pendidikan.

Beri ruang bagi anak untuk menjadi subjek belajar sesuai apa yang mereka butuhkan dan penting bagi masa depannya. Itu pun dengan cara yang membuatnya senang akan belajar. Sehingga mereka dengan riang gembira melaksanakan setiap proses pembelajarannya tanpa paksaan dan hukuman. Lalu, alangkah baiknya kita rundingkan kembali apa saja tentang belajar. Apa yang kita sangka selama ini belajar dengan tahapan-tahapan tertentu dan paten, mungkin bisa diolah dan diperbaiki menjadi sesuai dengan apa yang anak-anak butuhkan dan bisa terus dinamis, menyesuaikan zaman. Biarkan anak-anak menjalani proses belajarnya tanpa sekat definisi, ciri, dan latihan.

            Tapi ngomong-ngomong, semakin saya jelaskan panjang lebar, istri tampaknya sudah mengantuk. Tanpa banyak bicara, saya lalu mengajaknya melanjutkan di atas kasur busa.


*Guru Sains, Riset, dan Teknologi
Senang menonton film dan tinggal di Bogor

Leave A Reply

Your email address will not be published.