Take a fresh look at your lifestyle.

Menumbuhkan Semangat Literasi di Masa Pandemi

187

Oleh : N. Rita Kurniawati, S.Pd

Literasi dapat didefinisikan sebagai “ kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam tingkat pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.” ( National Institute for Literacy ). Definisi ini memaknai literasi dari perspektif kontekstual, berdasarkan definisi ini terkandung makna bahwasanya literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Kata literasi identiknya dengan membaca dan menulis. Menurut Lerner ( 1988:349 ) kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami kesulitan dalam mempelajari bidang studi pada kelas–kelas berikutnya. Untuk itu, budaya membaca hendaknya ditanamkan pada anak semenjak dini. Dengan membaca kita dapat menambah wawasan dan memperluas ilmu pengetahuan serta pengetahuan baru. Hobi membaca mampu membuka wawasan cakrawala dunia, bahkan mampu menghantarkan pada kehidupan yang lebih baik.

Pada dasarnya minat masyarakat Indonesia terhadap dunia literasi sangat memprihatinkan. Berdasarkan hasil survey UNESCO ( United Nations Educational Scientific and Cultural Organization ) tahun 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Kondisi seperti ini menempatkan Indonesia pada posisi ke 124 dari 187 Negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia ( IPM ). Sementara itu, berdasarkan perolehan dari survey data PISA ( The Programme for International Student Assesment ) pada tahun 2016, bahwa angka literasi Indonesia dalam posisi mengkhawatirkan, yaitu menduduki peringkat 64 dari 65 Negara. Merujuk pada hal tersebut, tentunya jadi PR bagi kita, bagaimana cara menumbuhkan minat literasi pada masyarakat Indonesia. Terutama bagi generasi – generasi penerus bangsa yang sudah selayaknya memiliki wawasan serta pengetahuan yang luas yang bisa dicapai melalui literasi.

Menurut WHO dalam Health Literacy The Solid Fact ( 2013 ) tingkat literasi menjadi penentu utama status kesehatan seseorang dari pada pendapatan, status pekerjaan, tingkat pendidikan, rasa atau etnis ( Republika.id ), hal ini mencerminkan bahwasanya literasi yang rendah bepotensi meningkatkan perilaku beresiko dan memperburuk kesehatan. Ketika dunia sedang mengalami kondisi pandemi seperti ini, rasanya memupuk budaya litertasi merupakan salah satu cara yang relevan dalam aktifitas kita selama di rumah.

Tatkala kondisi yang memaksa kita mengalami perubahan sosial yang drastis, dimana banyak dari kita yang mengharuskan beraktifitas di rumah, rutinitas yang biasanya dilakukan di luar, berubah menjadi rutinitas di sosial media, seperti bekerja, sekolah, rapat, semuanya dilakukan melalui daring ( dalam jaringan ). Kondisi seperti ini tentunya menjadikan kita semakin memiliki waktu luang di rumah. Tak jarang kita merasa jenuh bahkan bosan dan suntuk ketika yang kita lihat hanya celular atau laptop secara terus menerus untuk melakukan rutinitas via daring. Dalam menyikapi hal ini, kita bisa memanfaatkan waktu dengan memulai untuk menumbuhkan pembiasaan literasi baik dengan membaca atau menulis.

Literasi di tengah pandemi selain mampu menambah wawasan, diharapkan juga  mampu membuat individu mengembangkan potensi dan skill yang dimiliki. Jika kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik – baiknya, yaitu menikmati masa pandemi ini dengan melakukan hal – hal yang positif dan bermanfaat, setidaknya jika tidak berguna untuk hai ini atau esok, maka bisa jadi berguna bagi masa depan. Namun demikian, tak sedikit dari kita yang beranggapan bahwa membaca itu membosankan, terlebih dengan bacaan – bacaan teks yang panjang. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa daya minat membaca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, selain faktor pendorong yang begitu besar yakni rasa malas.

Menumbuhkan kesadaran untuk terciptanya semangat dalam berliterasi tentunya membutuhkan proses dan pengalaman. Salah satu proses yang dimaksud adalah waktu seseorang untuk dapat fokus dan hobi membaca atau menulis. Sementara pengalaman bisa didapat ketika seseorang menyadari dan mersakan betapa pentingnya literasi. Dalam hal ini, lingkungan memiliki peran dalam membentuk kesadaran, tentunya dengan di dorong faktor internal yang terdapat dalam diri kita sendiri. Ketika percikan semangat itu sudah muncul dari dalam diri kita sendiri, niscaya akan mampu membakar gelora semangat untuk berliterasi. Jika kita selalu konsisten dengan terus memupuk semangat literasi, tidak menutup kemungkinan daya minat baca dan tulis di Indonesia meningkat drastis.

Literasi sebagai wadah pengembangan pengetahuan dan wawasan mampu membawa prospek lebih baik guna perkembangan masyarakat, bangsa, bahkan dunia. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kualitas karakter, kompetensi, dan kesejahteraan hidup seseorang adalah dengan menanamkan budaya literasi yang meliputi membaca, berpikir, menulis, dan berkreasi. Dengan kita sering mengkonsumsi bacaan yang rutin akan membantu kita dalam menguasai perbendaharaan kata, mudah mendefinisikan teks yang memiliki makna tinggi, bahkan mampu menjadi pribadi yang kritis dalam menerima pengetahuan atau wawasan baru.

Dengan demikian, sudah selayaknya kita tanamkan pembiasaan literasi mulai dari diri kita sendiri, serta mulai dari hal yang kecil secara perlahan namun tetap konsisten. Tentunya dengan harapan semangat literasi ini tidak hanya kita tanamkan selama pandemi saja, melainkan di setiap kesempatan, kapanpun, dimanapun, kita bisa meluangkan waktu sejenak untuk menoreh dan menambah referensi dalam kegiatan literasi.

**Salam Literasi**


N. Rita Kurniawati, S.Pd, Bogor, 05 Desember 1981. Pengajar di SMA Plus Al – Ittihad  Cianjur dan  MTs Assalafiyyah assirojiyyah – Cikalongkulon. Bisa dihubungi di : ritabundanazhfa@gmail.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.