Take a fresh look at your lifestyle.

Pahlawan Reformasi

35

Demontrasi berjalan marathon bersama-sama sembari diikuti langkah-langkah para aparat yang juga datang dari berbagai penjuru arah untuk mengamankan massa. Para demonstan bergandengan tangan, satu suara menyuarakan aksi protes terhadap ketidakbecusan presiden soeharto dalam mengayomi masyarakat Indonesia, mahasiswa yang identikkan sebagai anggota masyarakat kritis merasa geram terhadap pemerintah Orde baru yang tidak menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan demokrasi Pancasila yang dianut, dan merasa sudah saatnya berbuat “lebih” dalam rangka melindungi rakyat atas ketidak sewenang-wenangan pemerintah. Tak berselang lama demonstrasi besar-besaran pun dilakukan. Melihat massa begitu besar rupayanya aparat tidak setuju dengan tindakan yang diambil oleh para mahasiswa Trisakti, dengan itu mereka mengerahkan kekuatan lengkap dengan persenjataan untuk menghalau para demonstran, tembakan dilepaskan ke segala penjuru tempat kerumunan massa, mahasiswa kebingungan tak tertentu arah dan panik begitu sejadinya sehingga langkah yang dapat dilakukan hanyalah menyelamatkan diri masing-masing dari kejaran, amukan, siksaan, pelecehan dari para aparat. Akhir dari sebuah tontonan yang tidak memberikan tuntunan kala itu kepada masyarakat Indonesia dan dunia, 4 mahasiswa Triksakti harus kehilangan nyawa karena tertembus peluru tajam akibat insiden yang tak bermoral tersebut, mereka yang mati diantaranya Elang Mulia Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, dan Heri Hartanto pahlawan reformasi yang akan terus dan selalu dikenang masyarakat Indonesia sepanjang masa.

Kejadian itu telah menorehkan tinta hitam pada sejarah perjalanan demokrasi di negeri ini, berpuluh tahun yang lalu sesudah kejadian besar itu terjadi, tidak satu pun dari regenerasi pemerintahan mampu mengungkap dalang dibalik peristiwa tersebut, pemerintah begitu apatis terhadap kepedihan yang dialami oleh ayah, bunda, keluarga, serta kolega perjuangan merebut reformasi dengan menjadikan nyawa jadi taruhannya. Jika seandainya Negara bersikap empati terhadap kepedihan yang dialami korban peristiwa 12 Mei 1998 tentu pemerintah beserta alat kelengkapaannya akan berusaha sekuat tenaga mengerahkan potensi dan kekuatan agar dalang dibalik peristiwa itu bisa di temukan dan dihukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Ini merupakan PR besar bagi pemerintah Indonesia untuk dapat mengembalikan nama baik negeri ini dikancah Internasional, kalaupun alih-alih pemerintah gagal dalam mengusut peristiwa tersebut, tentu Pengadilan HAM Internasional akan terjun langsung menyelesaikan kasus yang tidak pernah terungkap berpuluh tahun lamanya, yang mengindikasikan Pemerintah Indonesia tidak punya nyali dan tidak bertanggung jawab. Indonesia disebut sebagai negara hukum akan tetapi pelanggaran HAM berat masa lalu tak kunjung ada penyelesaianya.

Sebagaimana tertuang dalam Konstitusi tertulis UUD 1945 Pasal 1 Ayat (3) menyebutkan Negara Indonesia adalah Negara hukum, artinya segala bentuk penyimpangan yang dilakukan pemerintah, aparat, para dalang dimasa lalu mesti diadili dengan hukuman yang seadil-adilnya, karena setiap warga negara di mata hukum adalah sama berlaku prinsip Equality before the law, jangan gara-gara dalang dibalik peristiwa 12 mei 1998 itu adalah yang memerintah hari ini (misal) lalu pemerintah hari ini berusaha menutupi, tentu tindakan semacam ini bisa dikategorikan sebagai pemerkosaan terhadap demokrasi dan nomokrasi.

Sebetulnya kita mesti bisa move on dari peristiwa 12 mei 1998 yang tragis dan memilukan itu, Pemerintah mungkin menginginkan masyarakat agar cepat Move On, pertanyaan yang mesti dijawab oleh pemerintah adalah mungkin saja keluarga korban, kolega, aktivis HAM, dan masyarakat Indonesia umumnya bisa menerima dan mengiklaskan kejadian dimasa lau, bisa saja mungkin, tapi apakah Negara menjamin dapat mengusut dan menangkap para dalang dalam kerusuhan 12 mei???? Bagaimana bisa Move On kalau kepastian itu belum ada, ya ibarat di gantuang indak batali.

Kita masyarakat Indonesia percaya pada presiden Jokowi dan jajarannya mampu mengusut tuntas dalang pembunuhan 4 mahasiswa Trisakti dimasa lalu, kalaupun pemerintah sekarang sangat getirnya melawan corona covid-19, berharap pemerintah juga menyelipkan dalam buku catatan hariannya 12 mei berdarah, dan sewaktu-waktu ketika pandemi telah berpisah dengan masyarakat Indonesia, pemerintah dapat secara konsekuen dan khusu’ menyelami kasus tersebut, tentu tidak hanya menyelam tapi membuahkan hasil ke permukaan. Dengan itu masyarakat Indonesia akan kembali menaruh berempati pada Presiden jokowi setelah sekian banyak janji-janji yang terlewati.

Para mahasiswa yang menjadi pelaku peristiwa 12 Mei 1998, kalian menjadi saksi dan pelaku sejarah yang akan dan terus dikenang, dedikasi kalian begitu banyak dalam megembalikan demokrasi pancasila ke tempat yang semestinya yaitu dengan adanya reformasi. 4 sahabat kami tercinta dari perguruan tinggi Triksaksi,  kalaupun kita tak pernah bersua tapi yakinlah nama kalian akan selalu menetap dalam sanubari dan sejarah Indonesia, kami berterimah kasih pada kalian dan elan perjuangan akan kami lanjutkan untuk masa dan masa selanjutnya. (ALFATIHAH BUAT PARA SYUHADA YANG SYAHID DALAM 12 MEI 1998)

penulis : Gandi Putra,    Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN IB Padang

Leave A Reply

Your email address will not be published.