Take a fresh look at your lifestyle.

SEKELUMIT PEMBAHASAN TENTANG KOSAKATA BAHASA INDONESIA

133

oleh Deden Fahmi Fadilah

Untuk mengawali tulisan ini, saya terlebih dulu ingin berkisah tentang awal saya kuliah di jurusan bahasa Indonesia sepuluh tahun lalu. Saat itu ada sebuah acara debat bahasa antar-mahasiswa. Sang moderator yang merupakan salah satu dosen di lingkungan program studi kami mengizinkan audiens unruk bertanya. Saya tidak mengerti maksudnya apa, namun saya kira hal itu bertujuan agar ada interaksi dengan audiens. Atau agar kami, yang saat itu baru masuk kuliah, bisa belajar kritis dari kegiatan itu.

Kemudian, saat itulah saya mengacungkan tangan—saya akui bahwa saya tidak sadar—untuk bertanya. Yang saya tanyakan adalah yang begitu saja lewat di kepala saya, yaitu suatu hal bodoh dan saya ingat sampai sekarang: mengapa Bahasa Indonesia menyerap begitu banyak kosa kata dari bahasa Asing? Seketika saya menjadi pusat perhatian, dan seakan-akan semua orang menertawakan saya.

Saya bilang bahwa pertanyaan itu sangat memalukan bagi saya karena pada akhirnya saya tahu bahwa bahasa Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang tentang peneyerapan kata (adaptasi, adopsi, dst) dari bahasa Asing. Jika kita membaca sebuah buku dari Remy Sylado (Alif Danya Munsyi) yang berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing (1997), kita mungkin akan terperangah menyaksikan bahwa bahasa Indonesia yang kita gunakan, kebanyakan kata yang ada di sana, adalah hasil penyerapan dari bahasa Asing.

Saya ambil contoh beberapa kata yang kita anggap benar-benar asli bahasa Indonesia, yaitu gadis, bapak, mobil, karisma, setia, hasil, lumayan, bakwan dan jejaka. Kata-kata tersebut sangat akrab dengan telinga dan lidah kita bukan? Dan ternyata jika diurutkan asal dari kata-kata tersebut yaitu sebagai berikut: Gadis (Minangkabau), Bapak (Tiongkok/Cina, baba), Mobil (Belanda), Karisma (Belanda, charisma), Setia (Sansekerta, satya), Hasil (Arab), Luamayan (Jawa), Bakwan (Tiongkok/Cina), Jejaka (Sunda, jajaka).

Saya paham bahwa hal itu sama sekali bukan suatu permasalahan yang gawat dan mengkhawatirkan. Itu karena kata-kata tersebut secara sukarela digunakan oleh masyarakat dan sudah termanifestasi sebagai kata bahasa Indonesia. Namun, yang ingin saya bahas adalah banyak kata yang diusahaan dicarikan padanannya dalam bahasa daerah di Indonesia atau disesuaikan dengan kosakata yang sudah ada dalam bahasa Indonesia, dan penggunaannya di masyarakat cukup memprihatinkan.

Saya ambil contoh yang familiar yaitu efektif dan efisien yang berasal dari bahasa Asing. Kedua kata tersebut pernah diajukan padanannya yaitu Mangkus dan Sangkil dari bahasa Minang  oleh Prof. Anton Moeliono, seorang Linguis dan mantan Kepala Pusat Bahasa. Atau unduh dan unggah dari bahasa Jawa untuk dipadankan dengan kata download dan upload. Atau gawai (bahasa Jawa) untuk padanan dari kata gadget. Atau daring untuk mengatakan online, dan luring  untuk mengatakan offline (kedua kata ini bukan berasal dari bahasa daerah, namun cenderung berasal dari akronim kata dalam jaringan dan luar jaringan).

Contoh-contoh tersebut hanyalah sedikit dari banyaknya padanan kata yang ada di masyarakat. Kita bisa menilai sendiri frekuensi pemakaian kata itu dari keseharian kita sendiri dan lalu kita bandingkan dan pikirkan. Seringkah kita menggunakan kata mangkus dan sangkil, unggah dan unduh, daring dan luring, dan gawai? Atau kita lebih sering menggunakan kata efektif, efisien, download, upload, online, offline, dan gadget? Tidak. Penggunaan yang mana pun sama sekali tidak bermasalah. Semuanya diserahkan kepada masyarakat bahasa itu sendiri.

Jika sama sekali tidak bermasalah ketika kita menggunakan kata-kata asli atau yang bukan padanan dari bahasa Indonesia dan atau bahasa daerah, mengapa perlu dibahas? Seperti yang kita tahu, bahwa suatu bahasa akan hilang dan punah (untuk tidak mengatakan musnah), jika tidak digunakan atau penuturnya habis. Upaya-upaya pemadanan kata tersebut pun bukanlah upaya omong kosong belaka. Hal itu merujuk pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 40 tahun 2007 yang kurang lebih menyebutkan bahwa bahasa daerah adalah pilar utama dan penyumbang terbesar kosakata bahasa negara, yaitu bahasa Indonesia.

Siapa yang bisa melakukan entri dan melakukan pengajuan atas padanan kata dalam bahsa daerah atau bahasa Indonesia dari kata asing yang masuk ke Indonesia? Jelas, kita memiliki Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk mengupayakan hal itu. Hal tersebut juga pastinya dilakukan sesuai dengan pedoman penyerapan atau pembentukan istilah yang sudah diatur oleh mereka sendiri. Kata-kata yang dicontohkan di atas adalah buktinya. Kata-kata tersebut sudah masuk ke dalam KBBI, yang artinya kata tersebut sudah bisa dibilang sebagai kata dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan makna leksikal yang dimaksud.

Lalu, upaya-upaya seperti itu akan menjadi upaya yang melelahkan saja jika kata-kata tersebut hanya menjadi sekadar koleksi dan tidak digunakan di masyarakat bahasa. Artinya, tidak bisa sekonyong-konyong kita membebankan hal demikian kepada lembaga tertentu, katakanlah Pusat Bahasa dan jajarannya. Perlu bantuan banyak pihak tentunya, utamanya adalah masyarakat bahasa itu sendiri untuk terus memperkaya khazanah dan mempertahankan lokalitas, sejak dari bahasa.

Lalu, apakah kita perlu menyaring bahkan memberhentikan penyerapan dari bahasa Asing? Tentu itu juga bukan pilihan yang bijak. Kita percayakan pada Pusat Bahasa yang terus melakukan yang terbaik untuk sekelumit dari sekian banyak pembahasan seperti ini demi bahasa Indonesia yang kita cintai. Namun, entah mengapa, semakin saya menyadari hal itu, saya semakin malu dengan pertanyaan saya waktu awal kuliah, dulu. Maju terus bahasa Indonesia!

*Deden Fahmi Fadilah, pernah kuliah di Universitas Pakuan dan Universitas Negeri Jakarta. Kini menetap di Leuwiliang, Bogor.

Leave A Reply

Your email address will not be published.