Take a fresh look at your lifestyle.

SEMANGAT DALAM KARANTINA

219

oleh Maliq Adhyaksa Al Ayyoubi

2020 merupakan tahun dengan banyak kejutan. Sayangnya kebanyakan kejutan tersebut tidak menyenangkan. Banyak juga kejutan peristiwa yang merubah drastis tatanan masyarakat. Mulai dari segi ekonomi sampai segi social dan kebudayaan. Itu semua disebabkan oleh sebuah makhluk baru yang kemudian kita akrab dengan memanggilnya virus korona.

Virus ini konon berasal dari daerah Wuhan, Tiongkok. Dari pasar tradisional yang penduduknya senang memakan makanan yang anomaly kebanyakan manusia. Virus ini memiliki tingkat penyebaran yang sangat tinggi. Karena tingkat peyebaran yang sangat tinggi, semua orang dipaksa untuk karantina di rumahnya masing-masing agar tidak terjangkit. Seseorang bisa mudah terjangkit dengan hanya tersentuh saja, atau bisa melalui hirupan napas dan cipratan airliur saat berbincang. Kalau sudah tertular, kondisi tubuh bisa sangat mengkhawatirkan, apalagi yang memiliki penyakit bawaan.

Mungkin karena kekhawatiran tersebut, semua bidang pekerjaan dipaksa melakukan aktivitas dari rumah, termasuk bidang pendidikan. Semua aktivitas sekolah dirumahkan, diganti dengan sekolah daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ bukanlah hal yang mudah. Kita harus lebih fokus belajar selama karantina ini karena kebih banyak godaan dari pada saat sekolah biasa. Mulai dari kelonggaran selama belajar. Kelonggaran ini maksudnya kita sambal belajar daring bisa sambal membuka sosial media yang kita punya. Kita juga bisa sambal main games. Bahkan, bisa sambal main bareng (mabar) dengan teman.

Godaan-godaan tersebut lumrah dan cenderung bisa diatasi. Hal yang menjadi tantangan dan resiko paling besar justru masalah kesehatan, terutama kesehatan mata. Menurut para ahli, menatap layar terlalu lama akan mengakibatkan kerusakan mata. Kalau mau bukti kongkret, saya bisa menjadi contoh karena saya memiliki mata minus disebabkan terlalu banyak menatap layar gawai dan laptop. Selain itu, mata bisa cepat lelah dan daya akomodasi menurun.

Di luar kesehatan mata, tantangan yang tak kalah besar dalam PJJ adalah jaringan dan perangkat. Banyak orang yang tidak memiliki fasilitas untuk PJJ. Misalnya di pedalaman Sulawesi, anak-anak harus mendaki bukit untuk mendapat jaringan internet. Di Jawa Timur, belajar malah menggunakan handy talky yang dimiliki oleh tantara. Bahkan, ada juga yang belajar melalui siaran radio. Kita masih beruntung masih bisa daring melalui aplikasi video conference.

Saya bukan dokter maupun ahli ekonomi. Saya juga bukan menteri yang bagi-bagi pulsa. Saya hanya manusia biasa yang mengaku orang yang kritis. Dari tantangan-tantangan di atas, saya tidak bisa menyelesaikan semua. Saya hanya bisa memberi saran agar teman-teman terus semangat dalam keadaan ini. Bagi yang berkecukupan, manfaatkan semaksimal mungkin fasilitas yang dimiliki untuk belajar serius. Bagi teman-teman yang fasilitasnya terbatas, jangan patah semangat. Kita ada dalam pandemik yang sama. Kita harus bersama menjalani ini agar bisa melewatinya. Harapannya, semoga korona cepat pergi.

Maliq Adhyaksa AL Ayyoubi, Lelaki berhobi menonton film. Sekolah di SMA Dian Didaktika Depok. Penulis bisa disapa di @maliq_youbi

Leave A Reply

Your email address will not be published.