Take a fresh look at your lifestyle.

Tidak Ada yang Bukan Puasa

42

Menjelang memasuki minggu terakhir Bulan Suci Ramadhan tahun ini umat muslim di Indonesia bahkan di seluruh dunia masih tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh suka cita. Meskipun pelaksanaan ibadah puasa tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih gebyar di dalam syi’arnya karena adanya pemberlakuan social distancing di tengah pandemic covid-19. Hastag #dirumahaja memberikan warna yang berbeda pada pelaksanaan ibadah puasa tahun ini. Bagaimana tidak¸ banyak masyarakat yang mengeluhkan keadaan ini karena mengakibatkan adanya pembatasan aktivitas keagamaan yang biasanya dilaksanakan di masjid-mesjid di tengah pandemic covid-19 ini. Bahkan¸ seluruh umat muslim di Indonesia kemungkinan harus dapat menahan rindu terhadap keluarganya di kampong halaman karena tidak memungkinkan untuk mudik. Meskipun berat¸ di sisi lain justru situasi ini baik bagi kita selaku umat muslim untuk memahami esensi puasa itu sendiri secara komprehensif. Puasa dalam pandangan sebagaian orang masih dimaknai sebagai ritual suci yang dikerjakan dengan cukup menahan haus dan lapar dan berorientasi pada pengumpulan pahala-pahala saja. Tetapi dalam pandangan penulis lebih dari itu¸ justru keistimewaan bulan suci Ramadhan terletak pada hakikat dari aktivitas menahan haus dan lapar tersebut. Dengan kata lain¸ penulis berpandangan bahwa aktivitas ibadah puasa selama satu bulan penuh ini merupakan aktivitas kontemplatif dan latihan untuk dapat menjalankan ibadah puasa di bulan-bulan berikutnya dalam bentuk yang lebih mendalam. Penulis memahami puasa sebagai pesan dari Tuhan untuk manusia agar senantiasa mampu menahan diri dari hal-hal yang disenangi atau mampu menjalani ujian dari hal-hal yang tidak disenangi. Selain ujian berupa pandemic covid-19¸ di bulan suci Ramadhan kali ini masyarakat Indonesia duji oleh peristiwa-peristiwa yang ramai di media sosial.  Misalnya peristiwa yang ditampilkan oleh seorang youtuber yang memuat konten prank pembagian sembako berisi sampah terhadap transpuan di chanel youtubnya. Menanggapi konten tersebut¸ sebagian besar netizen mengutuk keras peristiwa tersebut. Tidak sedikit hujatan dan cacian keluar mengomentari peristiwa tersebut. Bahkan ketika tersangka sudah diamankan dan mengalami perundungan di dalam tahanan¸ masih ada sebagian yang tetap menghujat perilaku tersangka. Di dalam suasana bulan suci ramadhan ini¸ menanggapi peristiwa tersebut mestinya dipahami dalam konteks puasa. Artinya¸ kita mesti pandai-pandai menahan diri untuk tidak ikut-ikutan menghujat secara membabi buta perilaku youtuber tersebut. Sebab tidak elok menghujat perilaku youtuber tersebut meskipun atas nama kemanusiaan sementara kita menghujat dan mencaci secara berlebihan. Jika demikian¸ apa bedanya kita dengan perilaku youtuber tersebut?.  Dalam hal ini penulis pun sama sekali tidak membenarkan perilaku youtuber tersebut. Akan tetapi kita sebagai netizen pun harus mampu menahan diri untuk tidak berperilaku sama dengan youtuber tersebut dengan cara tidak menghujat secara brutal. Maka dari itu penulis sebetulnya ingin mengarahkan cara pandang kita sebagai umat muslim yang tengah berpuasa di bulan Ramadhan ini untuk pandai-pandai menahan diri dalam menggunakan media sosial. peristiwa tersebut harus menjadi pembelajaran agar kita tidak terjebak di dalam peristiwa yang sama. Artinya kita pun harus “berpuasa” media sosial dengan menunjukan kemampuan melakukan filterisasi terhadap berbagai fenomena yang dimunculkan oleh media sosial tersebut. Apalagi¸ penulis meyakini bahwa media sosial yang intensitasnya paling tinggi menghiasi kehidupan masyarakat saat ini memiliki potensi yang cukup berbahaya apabila kita tidak “berpuasa” di dalam penggunaanya.

Dengan demikian¸ pelaksanaan ibadah puasa tahun ini seyogiyanya mampu kita refleksikan dan implementasikan esensinya di bulan-bulan berikutnya hingga bertemu lagi dengan puasa tahun depan. Sebab¸ puasa tidak hanya berhenti pada rutinitas di bulan suci Ramadhan saja¸ tidak pula berhenti pada puasa senin-kamis atau puasa Daud. Sesungguhnya esensi puasa itu setiap saat¸ dan setiap detik bahkan di setiap helaan nafas kita. Maka sesungguhnya tidak ada yang bukan puasa di dalam hidup manusia¸ semuanya adalah puasa. Oleh karenanya¸ meskipun dalam suasana pandemic covid-19 ini mari kita berpuasa secara kaffah¸ tidak hanya berhenti pada menahan haus dan lapar saja¸ tetapi harus diaktualisasikan terhadap diri kita untuk senantiasa menahan diri dari hal-hal yang dapat meruntuhkan kemartabatan kita sebagai manusia. Wallahu a’lam bishawab.

penulis : Abdul Azis, Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.