Take a fresh look at your lifestyle.

REFLEKSI PENDIDIKAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

131

Oleh Rendy Dwi Maulana

            Bukan hanya Indonesia, melainkan dunia sedang dirundung permasalahan Novel Coronavirus 2019 (Covid-19). Dunia kesehatan benar-benar mengalami ujian berat. Setiap hari korban terus bertambah. Efek Covid-19 ini begitu hebat, penyebarannya yang cepat berdampak pada segala aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Keadaan ini mendorong pemerintah Indonesia melahirkan kebijakan, salah satunya meliburkan sekolah, terutama di wilayah yang sudah masuk kategori zona merah.

            Kegiatan pembelajaran di rumah mengubah konsep belajar konvensional yang biasa dilakukan peserta didik dan guru di sekolah. Pemberian tugas melalui smartphone, mulai dari WhatsApp atau pembelajaran daring lainnya. Namun ada permasalahan dari proses belajar jarak jauh ini, yaitu kontrol terhadap pembelajaran yang dilakukan guru jadi terbatas. Guru sulit menjalin komunikasi yang intens dengan siswa. Selain itu, kesadaran siswa terhadap pentingnya belajar memang masih lemah, mungkin tidak semua. Maka, peran orang tua menjadi penting dalam kegiatan belajar di rumah ini.

            Seiring waktu, tidak sedikit orang tua mengeluh terhadap sikap belajar siswa, salah satunya siswa sulit dibimbing karena sibuk dengan game online yang memang sedang digandrungi ataupun orang tua kesulitan menjadi rekan kerja untuk memecahkan materi ajar. Sementara banyak guru juga terbatas kemampuan menggunakan media untuk sarana komunikasi belajar. Dalam situasi seperti ini, ada dua garis besar yang terbangun dan menjadi refleksi bersama dalam dunia pendidikan.

            Pertama, posisi guru tidak tergantikan, seperti interaksi pengetahuan yang biasa dijalin dalam kelas ketika memecahkan materi bersama. Guru yang biasa menjadi tempat bertanya mengenai materi yang sulit dipahami. Di beberapa sekolah memang sudah mulai menggunakan teknologi, seperti google classroom atau aplikasi zoom. Namun pengakuan beberapa siswa konsep belajar itu masih dirasa tidak cukup karena keleluasaan komunikasi berbeda dengan belajar secara langsung di dalam kelas. Ketika guru diminta untuk menjelaskan materi yang sulit dengan media WhatsApp tetap terbatas walaupun di dalamnya bisa menggunakan fitur chatting, baik teks dan suara tetap siswa masih kesulitan karena guru tidak dapat secara detail menjelaskan sebab siswa terbiasa menerima pemaparan audio dan visual  secara bersamaan dari guru di dalam kelas.

            Lalu, bisa saja digunakan fitur panggilan video dalam aplikasi WhatsApp tetapi jumlahnya terbatas yang dapat terlibat langsung. Mungkin ada yang menyarankan untuk menggunakan zoom? Tetapi kita harus ingat siswa itu bukan mahasiswa, banyak keterbatasan yang dimiliki terutama kuota internet. Maka tidak jarang orang tua yang anaknya belajar dengan media zoom mengatakan “Anak SMP udah kaya mahasiswa aja, boros kuota.

            Pembelajaran daring yang timbul akibat situasi inipun seakan berjalan tidak terkonsep. Akibatnya, pembelajaran tidak berjalan secara komprehensif. Hal itu dapat dilihat dari tugas yang terkumpul. Tidak semua siswa mengerjakan tugas karena beberapa faktor, mulai dari tidak memiliki smartphone, tidak memiliki kuota internet, hingga alasan malas karena tidak ada yang membimbing. Memang situasi ini di luar agenda pendidikan sehingga tidak ada pihak yang dapat kita jadikan terdakwa.

            Kedua, membangun kerjasama yang erat antara guru dan orang tua. Karena tanpa kerjasama dua pihak ini, proses belajar tidak akan berjalan dengan baik. Harus diakui selama ini ada jarak antara guru dan orang tua dalam upaya mencerdaskan siswa. Orang tua memiliki paradigma jika sekolahlah yang bertugas mencerdaskan siswa sehingga orang tua sering tak acuh terhadap permasalahan yang dihadapi guru ketika menghadapi siswa. Bahkan tindakan guru sering diprotes orang tua tanpa melihat duduk perkara secara objektif. Momentum belajar di rumah ini harus dijadikan kesempatan bagi orang tua mengenali lebih dekat bagaimana karakter belajar anak, dan mungkin pada beberapa anak karakter belajarnya juga menyulitkan guru sehingga membangun pemahanan ternyata susah juga jadi guru.

            Jarak yang menganga antara guru dan orang tua itu memang benar. Ada atau tidaknya sekolah formal, peran orang tua di rumah tetap tidak dapat diabaikan untuk mencapai keberhasilan belajar. Seperti yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara dalam bukunya berjudul “Pendidikan”, pendidikan keluarga atau diistilahkan alam keluarga memiliki peran penting terhadap tumbuh-kembang budi pekerti anak. Tidak semuanya dibebankan pada sekolah. Keluarga sebagai orang paling dekat harus ikut berkontribusi secara maksimal karena kedekatan psikis yang dimiliki menjadi kunci untuk dijadikan pendekatan yang paling halus dalam upaya mengarahkan siswa pada proses belajarnya.

            Situasi saat ini menjadi kesempatan kita untuk membangun konsep pendidikan, bahwa sekolah hanya salah satu ruang pendidikan, bukan satu-satunya tempat kita menimba ilmu. Hakikat pendidikan yang sebenarnya harus kita serukan bersama. Pendidikan bukan hanya milik sekolah tetapi bisa diselenggarakan di mana saja, termasuk di lingkungan keluarga atau rumah. Guru bukan hanya orang berpakaian rapi yang setiap pagi menyapa anak di gerbang sekolah, siapa pun bisa menjadi guru di luar sana. Seperti ucapan Bapak Pendidikan Indonesia “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Itulah konsep dasar pendidikan. Dan Covid-19 ini juga menyadarkan kita masih ada kesenjangan ekonomi sehingga sangat sulit rasanya menyelenggarakan pembelajaran daring yang berorientasi pada teknologi. Pemerataan pendidikan harus selaras dengan kesetaraan ekonomi agar cita-cita pendidikan nasional dapat terrealisasi dalam segala keadaan.

*Rendy Dwi Maulana, aktifis pendidikan, alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unpak. Kini mengajar dan menetap di Rancabungur.

Leave A Reply

Your email address will not be published.