Take a fresh look at your lifestyle.

Analisis Fakta Sosial Pada Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA

64

Oleh :

Elizabeth Anja Pradita1, Aam Nurjaman2, Wildan Fauzi Mubarock3

ABSTRAK

Elizabeth AnjaPradita. 2019. Analisis Fakta Sosial Pada Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan, Bogor.

                Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai fakta sosial material dari sebuah novel yang berjudul Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan fakta sosial sastra. Adapun analisis yang dilakukan dengan mencari nilai fakta sosial material berupa, norma agama, yang berhubungan dengan kejadian-kejadian spiritual yang dilakukan oleh tokoh, kemudian norma kesusilaan yang berhubungan dengan sikap simpati atau empati yang muncul dari hati nurani tokoh, lalu norma kesopanan yang berhubungan dengan tatakrama budaya tokoh, serta norma hukum yang berhubungan dengan kejadian-kejadian yang mengandung unsur hukum yang ditetapkan di masyarakat. Data yang ditemukan pada penelitian ini sebanyak 21 data (29%) untuk norma agama, 42 data (60%) untuk norma kesusilaan, 7 data (10%) untuk norma kesopanan, dan 1 data (1%) untuk norma hukum. Berdasarkan data yang telah dianalisis, maka dapat disimpulkan bahwa nilai fakta sosial materal yang terkandung di dalam novel Sang Pemimpikarya Andrea Hirata lebih mendominan kepada nilai fakta sosial material berupa norma kesusilaan. Penelitian ini juga memberikan implikasi terhadap pembelajaran sastra di SMA pada kelas XII dengan KI 3.9 dan KD 4.9 yang berguna untuk memperoleh pemahaman siswa mengenai novel, khususnya dalam menganalisis sebuah novel.

Kata kunci: nilai fakta sosial material, novel Sang Pemimpi.

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

2Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

3Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

ABSTRACT

Elizabeth Anja pradita. 2019. The Social Analysis On the Novel by Andrea Hirata Sang Pemimpi and Implications of Learning, Literature in High School The Program, Indonesian Language Education The Teaching, Education and Knowledge Pakuan University, Bogor.

This study attempts to described social values the material of a novel calledSang Pemimpi work of Andrea Hirata. The kind of research was conducted are descriptive qualitative approach fact social literary. But analysis undertaken to find value in the form of social, material fact religious, norm relating to events spiritual, conducted by figures then norm decency that deals with the sympathy or empathy that arises from conscience, figures and norm courtesy manners, figures relating to culture and a law that deals with days of contain a law enacted in the community. The data found on this research as many as 21 data (29 %) for norm, religion data 42 (60%) to your common decency, data 7 (10 %) for norm modesty, and data 1 (1 %) to. norms and lawsBased on data have been analyzed, then we can conclude that the value of the fact social material contained in the novel Sang Pemimpi work of Andrea Hirata more dominant to value the fact of social norms of decency. Material the research also give the implications of learning literature in high school on class XII with KI 3.9 and KD 4.9 useful to gain an understanding about the novel, students especially in analyzing a novel.

Keywords: the value of the fact social material, Sang Pemimpi novel

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan sehari-hari   sering kali menemukan istilah sastra. Sejarah perkembangan sastra di Indonesia, khususnya karya sastra, telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan dan perubahan karya sastra sepadan dengan makna kreativitas yang selalu melekat pada karya sastra. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya novel dan cerpen yang tersebar luas di masyarakat Indonesia dengan berbagai cerita dan konflik yang diangkat oleh penulisnya ke dalam sebuah novel atau cerpen tersebut. Banyak karya sastra yang tercipta dari berbagai tema. Salah satunya adalah tema fakta sosial.         

Fakta sosial memiliki arti sebuah aliran sosiologi positif dengan pengkajian yang berasal dari atribut eksternalitas mencangkup struktur sosial, norma kebudayaan, dan nilai sosial. Fakta sosial memiliki institusi-institusi sosial yang berada dalam ruang lingkupnya. Institusi sosial memiliki arti sebuah bagian struktural dari masyarakat yang berfungsi memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga dapat bertahan hidup. Ada bermacam-macam institusi sosial, seperti keluarga, pendidikan, agama, kesehatan, politik dan pemerintahan, ekonomi.

LANDASAN TEORI

D. Pengertian Fakta Sosial

Fakta sosial bukanlah merupakan sesuatu yang tabu dalam kehidupan masyarakat, fakta sosial dinyatakan sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan.

Durkheim (Saiffudin, 2015:175) menyatakan bahwa fakta sosial merupakan cara bertindak, apakah tepat atau tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau hambatan eksternal bagi seorang individu. Secara spesifik, menurutnya fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan perasaan yang berada di luar individu dan koersif dalam bentuk masyarakat. Fakta sosial merupakan bagian sosiologi penilaian positif berasal dari eksternalitas yang mencangkup struktur sosial, norma-norma budaya, dan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat sosial. Fakta sosial ditanggapi sebagai gejala lain yang disebut realitas eksternal yang independen atau entitas kolektif.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Ritzer (2000:73) mengemukakan pendapatnya bahwa struktur sosial, norma-norma budaya, dan nilai-nilai sosial termasuk dan ditegakkan (paksaan) untuk masyarakat sosial. Secara garis besarnya fakta sosial terdiri atas dua tipe, yaitu struktur sosial dan pranata sosial. Secara terperinci, fakta sosial itu sendiri terdiri atas: kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, sistem sosial, posisi, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan, dan sebagainya.

Dalam hal ini, tentu saja setiap individu memiliki sebuah keluarga sejak ia dilahirkan. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, bahwa keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting. (3) kesehatan dan perawatan medis, bagian ini juga menjadi salah satu dari fakta sosial yang tidak kalah penting. Secara sepintas, masalah kesehatan lebih berhubungan dengan masalah medis dari pada masalah sosial. Sering kali kesehatan diartikan dengan tidak adanya penyakit. Tetapi Badan Kesehatan Dunia, WHO mengartikan kesehatan lebih sedikit lebih luas. WHO (Macionis 2002:517) mengartikan kesehatan sebagai suatu keadaan di mana makhluk hidup itu sempurna secara fisik, mental, dan sosial. (4) pendidikan, bagian inilah merupakan suatu institusi yang paling penting dalam proses sosialisasi.Durkheim mengemukakan hal-hal yang terdapat di dalam fakta sosial, yaitu:

  1. Spiritual
  2. Sejarah
  3. Hubungan masyarakat
  4. Ekonomi
  5. Pendidikan

Sejalan dengan hal-hal yang termasuk dalam fakta sosial, Durkheim juga menjelaskan bagian penting dalam fakta sosial, yaitu:

  1. Material

Pada pembahasan bagian material ini berkenaan dengan dengan norma atau aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat. Perilaku masyarakat yang beranekaragam menimbulkan polemik bila tidak ada pengatasan berupa aturan, kesadaran atas tindakan dalam aturan inilah yang menjadi salah satu bagian dari pada fakta sosial ini Durkheim (Saiffudin, 2015:177). Dapat dikatakan bahwa fakta sosial bagian material merupakan bagian dari aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku di dalam kehidupan sosial. Seperti halnya masyarakat tidak pernah terlepas dari kehidupan sosial dan budaya. Berkaitan dengan sosial dan budaya, masyarakat Indonesia pada dasarnya tidak bisa terlepas dari norma-norma yang berlaku dan terbentuk dari masyarakat itu sendiri maupun dari sebuah lembaga atau negara. Norma-norma yang mencangkup pembahasan ini adalah:

  1. Norma agama
  2. Norma kesusilaan
  3. Norma kesopanan
  4. Norma hukum

METODOLOGI PENELITIAN

        Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta sosial pada kutipan novel yang berjudul Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang kemudian dianalisis. Metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang akan menghasilkan data yang akurat berupa deskripsi kalimat mengenai fakta-fakta sosial material yang terdapat pada novel yang tertulis.

Data dan Sumber Data

1. Data Penelitian

Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah kutipan-kutipan berupa unsur kalimat, makna fakta sosial yang terdapat pada kalimat dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini.

2. Sumber Data Penelitian

Judul           : Sang Pemimpi

Penulis        : Andrea Hirata

Penerbit      : PT BentangPustaka

Kota Terbit : Yogyakarta

TahunTerbit: 2006

Tebal Buku: 247 Halaman

Bahasa        : Indonesia     

Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan catat. Peneliti sebagai instrumen penelitian akan membaca novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata secara berulang-ulang, kemudian peneliti akan mencermati setiap kalimat,  serta mencatat hal yang berkaitan dengan penelitian ini.

Analisis Paparan data

Data kutipan nomor 6 (norma agama)

“Kesedihan hanya tampak padanya ketika dia mengaji Al-Quran. Di hadapan kitab suci itu, dia seperti orang mengadu, seperti orang yang takluk, seperti orang yang lelah berjuang melawan rasa kehilangan pada seluruh orang yang dicintainya.” (Hal 26-27)

Pada kutipan  di atas menunjukan nilai fakta sosial material berupa norma agama. Hal tersebut terlihat dari aktivitas yang dilakukan tokoh yang sedang mengaji. Dalam aktivitas tersebut tokoh meluapkan rasa sedihnya di hadapan Tuhan dengan cara berdoa. Tokoh berdoa sambil menangis seolah mengadu kepada Tuhan tentang kehidupannya selama ini dan rasa rindu yang besar kepada orang yang dicintainya yang lebih dulu berpulang ke surga. Penggalan tersebut juga menyatakan bahwa tokoh memiliki sifat yang tegar dan pantang menyerah, tetapi saat ia berdoa ia dapat meluapkan semua rasa sedih dan kelemahannya terhadap kehidupan yang ia jalani dengan iklhas. Norma keagamaan yang ditunjukkan pada penggalan kutipan tersebut merupakan sebuah kejadian yang sering terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan berdoa dan mengadu kepada Tuhan YME, manusia akan memperoleh ketenangan dan kesanggupan untuk menerima nasib yang sudah digariskan dalam kehidupannya.

Analisis Paparan data

Data kutipan nomor 2 (norma kesusilaan)

“Ayahku berlinang air mata. Dipeluknya pundak Arai erat-erat.” (Hal 19).

Pada penggalan kutipan di atas terdapat nilai fakta sosial material berupa norma kesusilaan. Hal tersebut terlihat dari perlakuan tokoh “Ayah” yang memiliki rasa empati yang sangat tinggi sehingga dapat merasakan kesedihan yang dihadapi oleh tokoh “Arai”. Dengan memeluknya diharapkan dapat mampu mengurangi rasa sedih yang dialami oleh “Arai”. Rasa simpati yang dimiliki oleh “Ayah” terlihat jelas pada saat berlinang air mata yang seolah sangat mengerti kondisi “Arai” pada saat itu. Dengan rasa simpati inilah yang membuat hubungan sosial manusia satu dengan manusia yang lainnya terasa nyata.

Analisis Paparan data

Data kutipan nomor 11 (norma kesopanan)

“Nyah” Sapa Arai kepada Nyonya Deborah. Santun dan berwibawa, seolah dia akan memborong seluruh isi toko dengan koin-koin itu. (Hal 37)

Dalam penggalan kutipan di atas menyatakan nilai fakta sosial berupa norma kesopanan. Hal tersebut terbukti dari bentuk kutipannya yang dijelaskan oleh tokoh “Aku”. Pada kutipan tersebut menyatakan sikap tokoh “Arai” yang memiliki rasa sopan santun kepada pemilik toko kelontong. “Arai” yang menegur sang pemilik toko dengan sopan menjadi bagian dari poin norma kesopanan pada fakta sosial material yang dikemukakan pada kutipan tersebut.

Analisis Paparan data

Data kutipan nomor 52 (norma hukum)

“Siang ini aku menemukan jawaban. Tiba-tiba, aku mengerti mengapa hukum membolehkan orang berusia delapan belas tahun ke atas menimbuni dirinya dengan rupa-rupa kebobrokan.” (Hal 132)

Pada penggalan kutipan di atas terdapat penjelasan mengenai norma hukum yang berlaku saat ini. Hal tersebut dapat dibuktikan dari bentuk kutipannya. Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa norma hukum yang ditetapkan di negara Indonesia melindungi anak-anak di bawah umur untuk melakukan sesuatu yang tidak pantas, seperti nonton film dewasa yang belum boleh mereka ketahui pada saat usia sekolah. Anak-anak usia sekolah masih belum bisa dewasa dalam menentukan sesuatu bagi dirinya sendiri dan masih polos sehingga mudah saja dapat dibodohi oleh film-film dewasa. 

Penelitian Kedua Sebagai Pembanding (Triangulasi)

Untuk mengecek keabsahan penelitian, terdapat satu cara untuk memenuhi syarat penelitian yang dilakukan, yaitu triangulasi. Triangulasi merupakan sebuah cara dalam upaya pemeriksaan data yang dilakukan oleh tiga orang. Di dalam penelitian ini terdapat 70 data yang terbagi menjadi 4 kategori fakta sosial material data yang dianalisis, yaitu 21 data norma agama, 42 data norma kesusilaan, 7 norma kesopanan, dan 1 norma hukum dengan menggunakan sebuah angket yang diberikan kepada tiga orang triangulator.

Peneliti meminta bantuan kepada Stella Talitha, M.Pd (ST) Sselaku dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, Fanni Padini Septiani, S.Pd (FPS) selaku guru Bahasa Indonesia di SMA, Muhammad Nurul, S.Pd (MN) selaku guru Bahasa Indonesia di SMA. Adapun hasil triangulasi dari ketiga narasumber tersebut, adalah sebagai berikut:

  1. Berdasarkan analisis pertama, ST menyetujui 70% data yang telah dianalisis dari hasil keseluruhan dan tidak menyetujui 30% data yang telah dianalisis pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.
  2. Berdasarkan analisis kedua, FPS menyetujui 90% data yang telah dianalisis dari keseluruhan dan tidak menyetujui 10% data yang telah dianalisis pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.
  3. Berdasarkan analisis ketiga, MN menyetujui 98% data yang telah dianalisis dari keseluruhan dan tidak menyetujui 2% data yang telah dianalisis pada novel Sang Pemimpikarya Andrea Hirata.

Perbedaan pendapat dalam analisis fakta sosial material pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang diajukan kepada tiga narasumber dan seluruh narasumber memiliki jawaban yang berbeda-beda. Hal tersebut terlihat dari salah satu data yang dikemukakan oleh narasumber pada data nomor 5 dengan kutipan “Sebenarnya Pak Mustar itu orang penting. Tanpa dia, kampung kami tidak punya SMA. Dia salah satu perintisnya.” Satu diantara tiga narasumber memilih kategori norma kesopanan dalam kutipan tersebut, dan satu diantara tiga narasumber memilih norma kesusilaan sebagai kategori pada kutipan tersebut. Kemudian pada data nomor 22 dengan kutipan “Sangat berbahaya! Sangat berbahaya dan menjatuhkan martabatmu. Anak-anak Melayu bangsa pujangga, jika menonton film yang dengan melihat pemainnnya saja kita sudah dapat menduga ceritanya.”Pak Mustar mengancam tak main-main.” Pada kutipan tersebut, ketiga narasumber memiliki persamaan dalam menyetujui kategori norma kesusilaan yang terdapat pada kutipan tersebut. Peneliti meyakini dengan hasil analisisnya. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa hasil analisis dalam penelitin ini layak untuk digunakan sebagai pengayaan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di ranah SMA sesuai dengan kurikulum 2013 yang beraku.

IMPLIKASI

Berdasarkan hasil analisis kutipan pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, ditemukan beberapa implikasi. Hasil dari analisis tersebut berimplikasi dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di taraf SMA. Pada jenjang pendidikan taraf SMA ditemukan materi pembelajaran pada  Kurikulum Tiga Belas dengan acuan Kompetensi Dasar 3.9 menganalisis isi dan kebahasaan novel yang akan dipelajari oleh siswa XII, serta 4.9 merancang novel atau novelet dengan memerhatikan isi dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis.

Dalam Kurikulum Tiga Belas (K13) yang berlaku pada taraf SMA, materi ajar mengenai novel terdapat di kelas XII. Berikut ini merupakan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan analisis fakta sosial material berupa norma-norma dalam ranah SMA.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil Analisis Fakta Sosial pada Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA. Peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Terdapat empat kategori nilai fakta sosial material dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum. Nilai fakta sosial yan dikemukakan dalam penelitian ini merupakan norma yang ada di dalam lingkupan budaya masyarakat. Norma yang berkembang dalam masyarakat, tentunya sudah menjadi acuan untuk masyarakat hidup disiplin. Norma agama merupakan acuan petunjuk kehidupan yang berasal dari Tuhan yang Maha Esa disampaikan melalui utusan-Nya yang berisi sebuah larangan, perintah, serta anjuran-anjuran untuk membuat manusia selalu dekat dengan Sang Pencipta. Norma kesusilaan merupakan norma yang mengatur hidup manusia yang berlaku secara umum dan bersumber dari hati nurani manusia. Norma kesopanan merupakan norma yang mengatur kehidupan yang timbul dari hasil pergaulan komunitas. Norma hukum merupakan aturan sosial yang dibuat oleh sebuah lembaga, misalnya pemerintah.
  • Terdapat 70 data dalam analisis fakta sosial material pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Temuan data yang dihasilkan dari analisis tersebut, yaitu norma agama 30%, norma kesusilaan 59%, norma kesopanan 10%, dan norma hukum 1%. Dengan demikian, dalam analisis fakta sosial material pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata terdapat norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan hukum. Norma yang mendominan di dalam novel tersebut adalah norma kesusilaan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia yang lainnya.
  • Berdasarkan hasil analisis, maka norma kesusilaan merupakan tingkatan paling tinggi yang dibahas dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Sedangkan data yang paling sedikit adalah norma hukum.
  •  Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dapat dijadikan media pembelajaran bahasa Indonesia dalam ranah SMA sesuai dengan kajian kurikulum 2013 yang ditetapkan dalam bidang pendidikan di Indonesia. Novel tersebut dapat dijadikan media pembelajaran karena banyaknya kutipan-kutipan motivasi yang terkandung serta cerita yang dikemukakan oleh penulisnya menggunakan bahasa yang sederhana sehingga dapat dimengerti oleh peserta didik.

B. Saran

Adapun saran yang akan dikemukakan oleh peneliti mengenai analisis fakta sosial material pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata adalah sebagai berikut:

  1. Novel Sang Pemimpikarya Andrea Hiratadapat dijadikan model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di ranah SMA dengan kurikulum 2013 yang telah ditentukan oleh dinas pendidikan. Dengan novel Sang Pemimpi diharapkan peserta didik dapat belajar dengan efektif dan tidak jenuh dalam memahami pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
  2. Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dapat berguna untuk mempermudah guru untuk menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik.
  3. Bagi peneliti diharapkan penelitian ini menjadi sumber referensi dalam memperbanyak penelitian-penelitian selanjutnya pada jenjang yang semakin tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Bernad, Raho. 2004. Sosiologi-Sebuah Pengantar. Surabaya: Seminari Tinggi

            Ledalero.

Budianta, Melainie, dkk. 2002. Membaca Sastra. Magelang: Indonesiatera

Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta:

            Depdikbud.

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra.Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR

Elly M. Setiadi, UsmanKolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan   Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana Jaya.

Emzir dan Saifur. 2015. Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajawali Pers.

Hardiman F Budi. 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kansius.

Hirata, Andrea. 2006. Sang Pemimimpi. Yogyakarta: Penerbit Bentang.

Kartajaya, Hermawan. 2006. On Marketing Mix Seri 9 Elemen Marketing. Bandung: PT Mizan.

KBBI. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online] Aviable at: http://kbbi.web.id/di.

Macionis, John. J . 2009. Society: The Basic. New Jersey: Person Education.

M. Munandar. Soelaeman. 2005. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: PT Refika

            Aditama.

Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ritzer, George. 2000. Sosiologi Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Raja

            Grafindo.

Rosdiana, Rina dan Suhendra. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA. Bogor: Universitas Pakuan.

Saiffudin, Ahmad Fedyani. 2015. Logika Antropologi. Jakarta: PT Fajar Interptratama Mandiri.

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Setiadi, E. 2006.Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenanda Media

            Grup.

Setiawan, H. 1997. Ilmu Sosial di Asia Tenggara. Jakarta:  Pustaka LP3ES Indonesia.

Siswanto,Wahyudi. 2013. Pengantar Teori Sastra. Malang: Aditya Media Publishing

Soelaeman, Munandar. 2005. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: PT Refika.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, CV.

Sugono, Dendy. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta Pusat: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Tarigan, Henry Guntur. 2015. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa Bandung

Taum. 1997. Pengantar Teori Sastra. Ende: Penerbit Nusa Indah.

Zainuddin. 1991. Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra edisi Kedua. Jakarta: Depdikbud

https://www.endonesa.wordpress.com/2014/06/fungsi-dan-tujuan-pembelajaran-bahasa-indonesia. (Diakses pada tanggal 12 Juni 2019)

https://media.neliti.com/media/publications/55527-ID-pembelajaran-sastra:sebagai-salah-satu.w-pdf (Diakses pada tanggal 12 Juni 2019).

http://ramlan.blogspot.com/2014/08/pengertian-novel.html/ (Diakses pada tanggal 15 Mei 2019 pukul 14.00).

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sinopsis_novel (Diakses pada tanggal 30 Mei 2019).

Leave A Reply

Your email address will not be published.