Take a fresh look at your lifestyle.

Apa Itu Bilingualitas, Bilingualisme, dan Diglosia?

2.176

Selain bahasa sebagai alat manusia untuk mengekspresikan pikiran dan perasaanya, bahasa juga mempengaruhi pikiran manusia itu sendiri. Ilmu Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai tingkah laku sosial (social behavior) yang dipakai dalam komunikasi karena masyarakat itu terdiri atas individu-individu, masyarakat secara keseluruhan, dan antarindividu saling mempengaruhi dan saling bergantung. Bahasa sebagai milik masyarakat juga tersimpan dalam diri masing-masing individu. Setiap individu dapat bertingkah laku dalam wujud bahasa dan tingkah laku bahasa individu itu dapat berpengaruh luas pada anggota masyarakat lainnya. Akan tetapi, individu tetap terikat pada aturan permainan yang berlaku bagi semua anggota masyarakat. Oleh karena itu, jika bahasa ditinjau dari segi sosial, kelompok masyarakat terdiri atas beberapa kelompok etnik yang memiliki tingkah laku kebahasaan yang menunjukkan ciri tersendiri dengan bahasa daerah masing-masing dan bahasa Indonesia.

Kepulauan Nusantara memiliki kekayaan bahasa yang sangat beragam. Di dalam sejarah perkembangannya sejumlah bahasa Nusantara mendapat pengaruh dari bahasa asing, seperti bahasa Sanskerta, Arab dan beberapa bahasa Eropa. Sejumlah bahasa Nusantara yang secara langsung memperoleh pengaruh langsung dari bahasa Sanskerta antara lain bahasa di Palembang, Jawa, Bali dan sebagian kecil bahasa di Kalimantan. Pengaruh bahasa Sanskerta di Nusantara ini berlangsung secara langsung dan tidak langsung. Pengaruh secara langsung terjadi pada peradaban-peradaban kuna di Indonesia seperti kerajaan di kawasan semenanjung Malaka, Sriwijaya, Kutai dan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Pengaruh secara langsung ini diperkirakan terjadi akibat kontak langsung seperti perdagangan atau hubungan keagamaan dengan penutur bahasa Sanskerta, sedangkan pengaruh secara tidak langsung adalah berupa peminjaman unsur bahasa Sanskerta yang terlebih dahulu dipinjam oleh bahasa lain. Misalnya adanya unsur bahasa Sanskerta dalam bahasa Indonesia (Melayu Modern) yang diperoleh dari pinjaman bahasa Jawa Kuna dan Melayu Kuna (Gonda, 1952: 33). Dengan kedatangan pengaruh India bersama bahasa Sanskertanya ini diyakini telah memperkaya khasanah kebahasaan dalam bahasa-bahasa Nusantara.

Manusia sebagai mahkluk sosial dapat dicirikan dengan sifatnya yang selalu ingin berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain dalam satu kebudayaan maupun dengan manusia dari kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2001: 8). Interaksi dan komunikasi tersebut dapat menyebabkan keragaman atau bahkan perubahan pada masingmasing kebudayaan yang terlibat langsung dalam proses tersebut. Di dalam proses interaksi dan komunikasi tersebut, bahasa mempunyai peran yang yang penting sebagai sarana transfer penyampaian ide dan gagasan dalam satu masyarakat bahasa yang sama maupun masyarakat bahasa yang berbeda.

   Dengan adanya interaksi dan komunikasi antar masyarakat bahasa yang berbeda, akibatnya akan menimbulkan adanya kontak bahasa. Kontak bahasa tersebut terjadi karena seorang individu atau sekelompok individu yang dengan sengaja ingin mempelajari bahasa kedua selain bahasa aslinya. Selanjutnya, kontak bahasa akan semakin terjalin bila dua bahasa yang berbeda digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama (Ariyanto, 1998: 10-11).

Akibat kontak bahasa tersebut maka, di dalam masyarakat akan terdapat individu-individu yang terbiasa dalam memakai dua bahasa dalam satu masyarakat bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam aktivitas kehidupannya, peristiwa semacam ini disebut sebagai bilingualisme (Nababan, 1991: 26). Peristiwa kebahasaan yang berupa bilingualisme akan dibedakan dengan peristiwa diglosia. Meskipun kedua peristiwa tersebut pada dasarnya memiliki kesamaan yaitu perihal hidupnya dua buah bahasa atau lebih dalam satu masyarakat masyarakat bahasa. Diglosia lebih berkaitan dengan pemakaian dua bahasa yang disesuaikan dengan peranan dan fungsinya masing-masing dalam konteks sosial (Ariyanto, 1998: 17). Peristiwa-peristiwa semacam bilingualisme, bilingualitas dan diglosia secara langsung maupun tidak langsung akan memunculkan penerimaan kosakata asing dalam asing bahasa pribumi.

.

B.    Bilingualitas, Bilingualisme, dan Diglosia

1.    Pengertian Bilingual

Bilingualitas, bilingualisme, dan diglosia merupakan tiga istilah yang dibahas dalam kajian kebahasaan. Dibandingkan diglosia, bilingualitas dan bilingualisme nampaknya lebih populer. Karena di sejumlah literatur, frekuensi pembahasan diglosia tidak sebanyak pembahasan bilingualitas atau bilingualisme. Meskipun terdapat buku yang khusus membahas diglosia, tetapi kedua atau ketiga bahasan ini kadang tidak didikotomikan satu sama lain (Al Falay, 1996). Di antara literatur tersebut, ada yang mengkategorikan bilingualitas dan bilingualisme sebagai kajian kognitif bahasa, sementara kedwibahasaan turut dibahas dalam bahasan sosial bahasa (Kushartanti, dkk, 2007). Ada yang mengklasifikasikan bilingualitas, bilingualisme, dan diglosia sebagai bahasan sosiolinguistik atau sosial bahasa atau bahasan psikolinguistik (Chaer dan Leonie Agustina, 2003). Ada pula yang menggolongkan bilingualisme sebagai bahasan pembelajaran bahasa kedua, bahasan linguistik, dan lain sebagainya (Valdman, 1996).

    Terlepas dari keberagaman pengklasifikasian, ketiga tema tersebut dibahas dalam tulisan ini berdasarkan sudut pandang psikososiolinguistik. Yaitu dari satu sisi dianggap sebagai keadaan psikologis, di sisi lain merupakan gejala sosial, yang dalam hal ini berkaitan dengan fenomena kebahasaan. Secara bahasa, bilingualitas, bilingualisme, dan diglosia, sama-sama menunjuk kepada makna dua bahasa (Lieberson, 1981).

Bilingual (-itas atau –isme) terdiri dari dua kata bahasa Latin, yaitu bi- yang artinya dua, dan lingual (bahasa Perancis: lingua) yang artinya bahasa. Sama halnya dengan diglosia (bahasa Perancis: diglossie) terdiri dari dua kata bahasa Yunani, yaitu di- yang artinya dua dan glossia yang artinya bahasa (Al Falay, 1996:81). Sedangkan secara istilah, bilingualitas dianggap merupakan bagian dari bilingualisme, dalam bahasa Indonesia, bilingulitas disebut kedwibahasawanan dan bilingualisme disebut kedwibahasaan, yang keduanya dibedakan dari diglosia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, selain kata bilingualitas, dapat ditemukan kosa kata bilingualisme dan kedwibahasaan. Bilingualisme menurut kamus tersebut adalah pemakaian dua bahasa atau lebih oleh penutur bahasa atau oleh suatu masyarakat bahasa. Sedangkan kedwibahasaan adalah perihal pemakaian atau penguasaan dua bahasa (seperti bahasa daerah di samping bahasa nasional), yang juga disebut dengan bilingualisme. Menurut Hamers, bilingualitas dan bilingualisme adalah dua konsep yang berbeda. Bilingualitas adalah keadaan psikologis seseorang yang mampu menggunakan dua bahasa dalam komunikasi sosial. Bilingualisme adalah suatu konsep yang mencakup konsep bilingualitas dan juga keadaan yang menggambarkan terjadinya kontak bahasa di antara sebuah masyarakat bahasa tertentu dengan masyarakat bahasa lainnya (Hamers dan Michel H. A. Blanc. 2000:6). Maka dapat dikatakan bilingualitas adalah fenomena psikolinguistik, sedangkan bilingualisme adalah fenomena sosiolinguistik.

Sebagai bandingan dari kata bilingualisme adalah monolingualisme, trilingualisme, quadrilingualisme, dan multilingualisme, yang masing-masing secara berurutan merujuk kepada penggunaan satu bahasa, tiga bahasa, empat bahasa, dan banyak bahasa. Orang yang memiliki bilingualitas disebut bilingual. Akan tetapi perlu diketahui bahwa bilingualisme berbeda dengan bidialektisme, karena istilah pertama mengacu kepada kedwibahasaan sedangkan istilah kedua mengacu kepada kedwidialekan.

Bilingualisme individual tersebut dapat dilihat dari berbagai dimensi, seperti kemampuan berbicara dengan dua bahasa, organisasi kognitifnya (penempatan memori kedua bahasa di dalam otak), atau status keduabahasa baginya. Maka baik kemampuan berbahasa pertama dan berbahasa kedua sama (bilingualitas seimbang), maupun kemampuan berbahasa pertama lebih dominan dari berbahasa kedua (bilingualitas dominan), tetap disebut bilingualitas. Namun dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat, sebagaimana terdapat perbedaan pengertian tentang bilingualisme.

Bilingualitas sebagai kondisi psikologis berkaitan erat dengan aspek kognitif. Penelitian yang dilakukan Lambert untuk mengukur sejauh mana kemampuan dalam dua bahasa mempengaruhi intelegensi menunjukkan terdapat kesalahan persepsi yang menyatakan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam bilingualisme mengalami hambatan dalam perkembagan intelektual atau intelegensinya. Peresepsi tersebut didasarkan pada suatu alasan bahwa anak-anak bilingual harus berpikir dalam bahasa yang satu dan berbicara dalam bahasa yang lain, sehingga menderita kesalahan mental. Padahal sebaliknya, anak-anak bilingual dalam hal IQ lebih tinggi daripada anak-anak monolingual (Mar’at, 2005:93).

Lambert dan Paul juga melakukan riset terhadap fungsi kognitif pada anak-anak usia 10 tahun di Kanada yang notabene masyarakatnya bilingual. Diketahui bahwa anak-anak bilingual memperlihatkan performa yang lebih baik secara signifikan, antara lain dalam tes fleksibilitas mental, pembentukan konsep, melengkapi gambar, dan memanipulasi bentuk. Kelebihan tersebut disebabkan karena mereka mempunyai kemampuan mengenali simbol (symbolic recognation) yang baik, sebab mereka mempunyai dua simbol untuk setiap obyek (berdasarkan dua bahasa yang dikuasainya), dan mereka dapat membuat konseptualisasi kejadian-kejadian dalam lingkungannya hanya dengan bersandar pada sifat-sifat umum saja, tanpa menggantungkan diri pada simbol-simbol linguistik (Mar’at, 2005:93).

Jika demikian, bahwa pembelajaran bahasa asing dapat meningkatkan kemampuan kognitif seseorang, terutama pada masa kanak-kanaknya, maka seorang bilingual sangat beruntung. Sebab ia dapat menggunakan kedua bahasa tersebut dengan kemampuan yang sama atau persis sama dan dapat memperluas wawasannya karena kedua bahasa tersebut. Bilingualitas semacam ini disebut bilingualitas tambahan/plus (additive bilinguality). Sebaliknya, jika bilingualitas malah memperlambat kemampuan kognitifnya, seperti berpikir, berbicara, atau memahami sesuatu, disebut bilingualitas minus (substractive bilinguality).

Perlu diketahui pula bahwa seseorang yang belajar bahasa pertama dan kedua dalam waktu yang hampir sama dan dalam konteks yang sama biasanya mempunyai representasi kognitif yang sama untuk kata tertentu dalam bahasa yang berbeda. Bilingualitas semacam ini disebut bilingualitas majemuk (compound bilinguality). Sebaliknya, bila kata tertentu dalam bahasa yang berbeda mempunyai representasi kognitif yang berbeda disebut bilingualitas sederajat (coordinate bilinguality). Namun, terkait bilingualitas dan aspek kognitif, tidak dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini, melainkan dilanjutkan pada bahasan mengenai bilingualisme.

Bilingualisme sebagaimana diungkapkan oleh Leonard Bloomfield adalah penguasaan (seseorang) yang sama baiknya atas dua bahasa. Sedangkan Uriel Weinreich mengartikannya sebagai pemakaian dua bahasa (oleh seseorang) secara bergantian. Sementara Einar Haugen mengartikannya sebagai kemampuan seseorang menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain. Perbedaan pengertian ini disebabkan oleh sukarnya menentukan batasan seseorang sebagai bilingual.

Dewasa ini bilingualisme mencakup pengertian luas yaitu dari penguasaan sepenuhnya atas dua bahasa hingga pengetahuan minimal akan dua bahasa. Maka seberapa besar penguasaan seseorang atas bahasa keduanya, bergantung pada sering tidaknya dia menggunakan bahasa kedua itu. Penguasaannya atas bahasa kedua sedikit banyak berpengaruh kepada dirinya sewaktu berbicara. Kelancaran bertuturnya dalam beberapa bahasa menentukan kesiapannya dalam memakai bahasa-bahasa tersebut (Kushartanti, dkk. 2007:58).

Mengenai batasan bilingualisme, Mackey dalam A. Chaedar Alwasilah menentukan empat aspek yang dapat membatasi cakupan bilingualisme, yaitu degree (tingkat kemampuan), function (fungsi pemakaian bahasa), alternation (pergantian antar bahasa), dan interferency (interferensi) (Alwasilah, 1993:108). Seorang bilingual akan tercermin tingkat kemampuannya dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Tingkat kemampuan itu pun mencakup level-level fonologi/grafik, gramatik, leksikon, semantik, dan stilistik. Begitu pula tingkat kefasihan, akan bergantung pada fungsi atau pemakaian bahasa tersebut. Semakin sering suatu bahasa dipakai, maka semakin fasihlah penuturnya. Pemakaian bahasa dipengaruhi oleh dua faktor besar yang akan dijelaskan secara rinci sebagai berikut.

a.    Faktor Internal

Faktor internal mencakup pemakaian internal, seperti menghitung (counting), memperkirakan (reckoning), berdoa (praying), menyumpah (cursing), mimpi (dreaming), menulis catatan harian (diary writing), dan mencatat (note taking). Selain itu juga mencakup bakat atau kecerdasan, yang dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, intelegensi, ingatan, sikap bahasa, dan motivasi.

b.    Faktor Eksternal

Faktor eksternal mencakup kontak dan variabel. Kontak yaitu kontak penutur dengan bahasa di rumah, bahasa dalam masyarakat, bahasa di sekolah, bahasa media massa, dan korespondensi. Kontak bahasa tersebut akan mempengaruhi bilingualitas seseorang. Sedangkan variabel adalah variabel dari kontak sang penutur yang ditentukan oleh lamanya kontak, frekuensi kontak, dan bidang yang mempengaruhi kontak, seperti ekonomi, politik, budaya, militer, historis, agama, dan sebagainya.

Di samping tersebut tadi, pergantian antar bahasa akan menunjukkan bilingualitas seseorang. Pergantian bahasa tersebut bergantung pada kefasihan dan juga fungsi eksternal dan internal penutur. Kondisi akan sangat mempengaruhi penutur. Kondisi tersebut paling tidak, didasari oleh tiga hal, yaitu topik pembicaraan, orang yang terlibat, dan situasi kontak berbahasa. Peralihan tersebut baik terjadi dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Ciri penting lainnya yang terdapat dalam diri seorang bilingual adalah interferensi.

Ada beragam definisi interferensi, namun secara sederhana, interferensi adalah pengaruh satu bahasa terhadap bahasa lainnya, baik dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, leksikal, hingga paralinguistik yang menyebabkan terjadinya pertukaran antara unsur-unsur satu bahasa dengan unsur-unsur bahasa lainnya. Aspek lain yang juga disinggung oleh Alwasilah adalah Language shift atau pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa terjadi akibat beberapa situasi, seperti karena melanjutkan studi ke daerah/negara lain, urbanisasi, transmigrasi, dan sebagainya.

Lambert dalam Mar’at membatasi definisi bilingualisme dengan mengembangkan suatu alat ukur kedwibahasaan dengan mengetengahkan beberapa hal, yaitu waktu reaksi terhadap dua bahasa, kecepatan reaksi, kemampuan melengkapi suatu perkataan, sama, maka dianggap sebagai bilingual. Misalnya dalam menjawab pertanyaan yang sama, tetapi dalam bahasa yang berbeda. Maka yang diukur adalah kemampuan dari segi ekspresinya. Sedangkan kecepatan reaksi dapat diukur dari respon terhadap perintah-perintah yang diberikan dalam bahasa yang berbeda. Maka yang diukur adalah kemampuan dari segi reseptifnya. Adapun kemampuan melengkapi suatu perkataan, adalah seperti menyempurnakan kata-kata atau kalimat yang disampaikan kepadanya. Sementara kecenderungan pengucapan secara spontan, adalah seperti kemampuan bilingual dalam mengucapkan suatu perkataan dalam dua bahasa yang dikuasainya.

Dalam tulisan ini tidak akan dibahas seluruh macam bilingualisme tersebut, akan tetapi hanya dibahas salah satu macam, yaitu bilingualisme dari aspek keterampilan berbahasa, yang terbagi ke dalam bilingualisme produktif dan bilingualisme reseptif. Bilingualisme produktif mencakup keterampilan berbicara dan menulis. Sedangkan bilingualisme reseptif meliputi keterampilan menyimak dan membaca. Secara lebih rinci, bilingualisme produktif terdiri dari beberapa spesifikasi seperti:

1) Tahu B1 dan B2 dari segiempat keterampilan berbahasa (selanjutnya disebut maharah saja).

2) Tahu B1 dari segiempat maharah, dan tahu B2 hanya dari segi menyimak, berbicara, membaca, tanpa menulis.

3) Hanya tahu B1 dan B2 dari segi menyimak, berbicara, dan membaca, tanpa menulis.

4) Tahu B1 dan B2 dari segi menyimak dan berbicara saja tanpa tahu membaca dan menulis (keadaan ini juga disebut biilliteracy atau oral bilingualism).

5) Tahu B1 dari segi menyimak dan membaca saja, dan tahu B2 dari segi membaca dan menulis saja (Al Khuly, 1998:35).

Sedangkan secara lebih rinci, bilingualisme reseptif terdiri dari beberapa spesifikasi, yaitu sebagai berikut.

1) Tahu B1 dari segiempat maharah, dan hanya tahu B2 dari segi menyimak dan membaca saja.

2) Tahu B1 dari segiempat maharah (baik aktif maupun pasif), dan tahu B2 dari segi menyimak saja.

3) Tahu B1 dari segiempat maharah, dan hanya tahu B2 dari segi membaca.

4) Tahu B1 dari segi menyimak dan berbicara, dan tahu B2 dari segi menyimak saja.

5) Tahu B1 dari segi menyimak dan berbicara, dan hanya tahu B2 dari segi membaca. Atau disebut buta huruf dalam bahasa pertama dan semi buta huruf dalam bahasa kedua (Al Khuly, 1998:35).

Terkait bilingualisme, Al-Khuly pun berpendapat bahwa bilingualisme mencakup makna masyarakat dua bahasa, mengetahui bahasa, menguasai bahasa, dan menggunakan bahasa. Ia juga mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bilingualisme adalah penggunaan dua bahasa oleh seseorang atau sekelompok orang, dengan tingkat penguasaan tertentu, keterampilan (berbahasa) tertentu, dan untuk tujuan tertentu.

sumber : https://bagawanabiyasa.wordpress.com/2016/08/18/bilingualitas-bilingualisme-dan-diglosia/ diposting oleh Hadi Susanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.