Take a fresh look at your lifestyle.

Pembelajaran Bahasa Kedua

187

Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua

Bahasa pertama dan bahasa kedua sama-sama memiliki urgensi dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Semua kegiatan memerlukan bahasa, tetapi tidak semua bahasa diperlukan dalam setiap kegiatan. Bahasa merupakan sebuah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer sekaligus konvensional. Kesewenangan bahasa diterima oleh masyarakat karena adanya kesepakatan bersama, sehingga hal ini yang menjadikan setiap bahasa memiliki kekhasannya masing-masing. Pengunaan istilah bahasa pertama perlu dibedakan dengan istilah bahasa ibu. Bahasa pertama mengacu pada bahasa yang dikuasai anak sejak lahir sedangkan bahasa ibu mengacu pada bahasa yang dikuasai oleh ibu si anak (sejak lahir). Sebagai contoh , seorang ibu yang menguasai bahasa Indonesia sejak lahir tetapi hanya berkomunikasi dengan anaknya dalam bahasa Inggris menyebabkan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama si anak.

Pembahasan mengenai bahasa kedua (B2) tidak terlepas dari pembahasan mengenai bahasa pertama (B1). Bahasa kedua diperoleh setelah penguasaan bahasa pertama. Pemerolehan bahasa kedua berbeda dengan pemerolehan bahasa pertama. Perbedaan ini terletak dari proses pemerolehannya. Penguasaan B1 melalui proses pemerolehan sedangkan penguasaan B2 melalui proses pembelajaran. Pembelajaran B2 dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun informal hanya dengan cara sengaja dan sadar. Hal ini berbeda dengan pemerolehan bahasa pertama yang sifatnya alamiah serta dengan cara tidak sengaja dan tidak sadar.

Kanak-kanak cenderung lebih mudah menguasai bahasa lain bahkan mengganti bahasa yang sudah dikuasainya dengan bahasa baru. Berbeda dengan orang dewasa atau mereka yang masa kritisnya sudah lewat tidak akan mudah belajar bahasa lain, apalagi mengganti bahasa yang sudah dinuranikannya dengan bahasa lain (Chaer, 2003: 243). Mungkin hal ini yang dimaksud oleh Aitchison sebagai bekal kodrati (innate properties) dalam pemerolehan bahasa.

Tipe-tipe Pembelajaran Bahasa

Ellis (via Chaer, 2003: 243) menyebutkan ada dua tipe pembelajaran bahasa yaitu tipe naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Tipe naturalistik bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa kesengajaan. Tipe ini umumnya banyak dijumpai di dalam lingkungan masyarakat bilingual (multilingual). Contoh kasus yaitu seorang mahasiswa dari Bali kuliah ke Jogja, sehingga setiap hari mahasiswa ini berinteraksi dengan teman kos, teman kuliah, pedagang di sekitar kos, sopir angkutan, dan sebagainya yang kesemuanya berbahasa Jawa. Awalnya mahasiswa ini mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa Jawa terutama soal aksen yang masih kental dengan aksen Bali, tetapi setelah sekian tahun tinggal di Jogja akhirnya ia bisa berbahasa Jawa dengan aksen Jawa. Hal ini jauh berbeda dengan tipe formal yang sifatnya nonalamiah, dengan guru, materi, dan perangkat bantu lainnya yang memang sengaja dipersiapkan sebagai pendukung pembelajaran.

Kedua tipe ini secara jelas menunjukkan perbedaan komponen pendukungnya. Perbedaan yang selanjutnya mengarah pada fakta di lapangan bahwa hasil pembelajaran bahasa tipe natural lebih berkemungkinan baik daripada tipe formal. Penyebab terjadinya fenomena seperti ini menurut Chaer (2003: 244) karena tidak adanya kedisiplin yang keras, tidak adanya motivasi yang kuat, serta tidak adanya tenaga pengajar yang kompeten. Selain itu, tidak semua orang memiliki kepentingan yang sama dalam memosisikan bahasa kedua dalam berkomunikasi.

Dua tipe pembelajaran lainnya yang merujuk pada dua konsep ahli psikolinguistik dari Amerika adalah Krashen dan Terrell (via Subakyanto-Nababan, 1992: 82) yaitu: 1) pemerolehan B2 yang terpimpin; dan 2) pemerolehan B2 secara alamiah. Keduanya mirip dengan dua tipe yang diungkapkan oleh Ellis yaitu tipe naturalistik (alamiah)dan tipe formal (terpimpin). Tingkat keberhasilan pemerolehan bahasa kedua dari dua tipe ini tergantung dari individu serta keadaan ligkungan masyarakat pendukungnya. Sebagai contoh yaitu kehadiran lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan pembelajaran bahasa kedua. Serta tuntutan globalisasi yang mengharuskan individu menguasai bahasa internasional dalam komunikasi dunia.

Hipotesis-hipotesis Pembelajaran Bahasa

Hasil penelitian yang dilakukan oleh para pakar bahasa belum sepenuhnya disebut sebagai teori karena belum teruji validitasnya. Hal ini yang melandasi pemilihan istilah hipotesis daripada teori. Di antara hipotesis-hipotesis itu yang perlu diketengahkan adalah: (1) hipotesis kesamaan antara B1 (bahasa pertama) dan B2 (bahasa kedua); (2) hipotesis kontrastif; (3) hipotetsis Krashen; (4) hipotesis bahasa-antara; dan (5) hipotesis pijinisasi (Chaer, 2003: 246).

Secara ringkas berikut penjelasan berbagai hipotesis tersebut.

1.Hipotesis kesamaan antara B1 dan B2 terletak pada urutan pemerolehan struktur bahasa.

2.Hipotesis kontrastif dikembangkan oleh Charles Fries dan Robert Lado. Jadi, adanya perbedaan antara B1 dan B2 akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, yang mungkin juga akan menimbulkan kesalahan; sedangkan adanya persamaan antara B1 dan B2 akan menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar B2 (Chaer, 2003: 247).

3.Hipotesis krashen yang merupakan hasil pemilkiran dari Stephen Krashen ini terdapat sembilan buah hipotesis. Kesembilan hipotesis itu adalah: (1) hipotesis perbedaan antara pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning), (2) hipotesis urutan alamiah, (3) hipotesis monitor, (4) hipotesis masukan, (5) hipotesis afektif, (6) hipotesis bakat, (7) hipotesis filter, (8) hipotesis bahasa pertama , dan (9) hipotesis variasi individudalam penggunaan monitor ( Chaer, 2003: 247-248).

4.Hipotesis bahasa-antara (interlanguage) adalah bahasa/ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua itu (Chaer, 2003: 250).

5.Hipotesis pijinisasi menyatakan bahwa dalam proses belajar bahasa kedua, bisa saja selain terbentuknya bahasa antara terbentuknya juga yang disebut bahasa pijin (pidgin), yakni sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu (ibid).

Faktor-faktor Penentu dalam Pembelajaran Bahasa Kedua

Pembelajaran bahasa kedua ditentukan oleh berbagai faktor. Hal ini sesuai dengan berbagai hipotesis yang disampaikan sebelumnya bahwa pembelajaran bahasa kedua bukan suatu hal (proses) yang sederhana. Bahasa kedua akan rumit dipelajari jika pembelajar tidak memiliki faktor pendukung yang memadai. Dalam buku Psikolingustik:Kajian Teoritik, Abdul Chaer menyebutkan lima faktor penentu dalam pembelajaran bahasa kedua, yaitu: a) faktor motivasi; b) faktor usia; c) faktor penyajian formal; d) faktor bahasa pertama; e) faktor lingkungan.

a.Faktor Motivasi

Dalam pembelajaran bahasa kedua ada asumsi yang menyatakan bahwa orang yang di dalam dirinya ada keinginan, dorongan, atau tujuan yang ingin dicapai dalam bahasa kedua cenderung akan lebih berhasil disbanding dengan orang yang belajar tanpa dilandasi oleh suatu dorongan, tujuan, atau motivasi lain ( Chaer, 2003: 251).

b.Faktor Usia

Perbedaan umur mempengaruhi kecepatan dan keberhasilan belajar bahasa kedua pada aspek fonologi, morfologi, dan sintaksis; tetapi tidak berpengaruh dalam pemerolehan urutan ( Chaer, 2003: 253).

c.Faktor Penyajian Formal

Pembelajaran bahasa secara formal memiliki kemiripan dengan tipe pembelajaran formal yang sifatnya nonalamiah serta didukung oleh perangkat formal pembelajaran.

d.FaktorBahasa Pertama

Bahasa pertama memiliki pengaruh terhadap pembelajaran bahasa kedua. Pada saat pembelajar menggunakan bahasa kedua kadang kala secara sadar atau tidak telah mengalihkan unsur-unsur bahasa pertamanya sehingga menimbulkan interferensi, alih kode, campur kode, dan kekeliruan (error). Dengan demikin, menurut Banathy (via Chaer, 2003: 257) bahwa mengetahui keadaan linguistik bahasa pertama sangat penting bagi usaha menentukan strategi pembelajaran bahasa kedua, sebab belajar bahasa kedua tidak lain dari pada mentransfer bahasa baru di atas bahasa yang sudah ada.

e.Faktor Lingkungan

Lingkungan bahasa sangat berpengaruh dalam pembelajaran bahasa kedua. Yang dimaksud dengan lingkungan bahasa adalah segala hal yang didengar dan dilihat oleh pembelajr sehubungan bahasa kedua yang dipelajari (Tjohhjono, 2003: 259).

Oleh: Eka Damayanti, Mahasiswa Ilmu Budaya UGM

https://www.kompasiana.com/ekadamayanti/5517d41f813311a0669deb1a/pembelajaran-bahasa-kedua

https://www.kompasiana.com/ekadamayanti/5517d41f813311a0669deb1a/pembelajaran-bahasa-kedua

Leave A Reply

Your email address will not be published.