Take a fresh look at your lifestyle.

Fobia Kucing

227

oleh : Shatrani Zareeva Maryam Akbar

Menurut KBBI fobia adalah ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Jenis fobia dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu Fobia Sosial, Agorafogia dan Fobia Spesifik. Fobia Sosial adalah rasa takut berlebihan bila berada dalam situasi sosial seperti berkumpul dengan orang lain atau banyak orang. Agoraphobia adalah rasa takut akan tempat atau situasi tertentu. Fobia spesifik adalah rasa takut terhadap benda atau hewan, seperti Hemophobia, yaitu rasa takut yang berlebihan pada darah. Arachnophobia, yaitu rasa takut yang berlebihan pada laba-laba. Cynophobia, yaitu rasa takut yang berlebihan pada anjing. Dari semua jenis fobia spesifik itu, fobia kucing termasuk yang jarang terjadi.

Hal ini bisa jadi karena kucing termasuk hewan peliharaan yang seringkali dianggap lucu atau menggemaskan. Kucing memiliki bulu yang lembut dan warna yang beragam. Jika dipegang, kucing sering menggeliat-menggeliat manja. Sayangnya, dari semua itu, menurut saya kucing tidak demikian.

Rasa takut terhadap kucing sudah saya rasakan sejak kecil. Sejujurnya saya tidak tahu alasannya kenapa yang saya ingat hanya beberapa kejadian buruk yang saya alami dengan beberapa kucing sejak kecil. Misalnya pada waktu balita saat sedang makan malam bersama keluarga di rumah. Tiba-tiba ada seekor kucing masuk ke bawah meja. Saya pun sangat kaget. Rasa kaget yang berlebihan membuat metabolisme tubuh saya lebih cepat. Terasa sesuatu akan keluar melalui hidung, sampai akhirnya saya mimisan.

Lain lagi saat saya sedang berjalan pada suatu malam di komplek bersama saudara kembar saya dan pengasuh kami. Seekor kucing datang mendekat. Saya otomatis berlari menghindar, tapi si kucing malah lari mengejar. Anehnya semakin saya takut dengan kucing, kucing semakin berani dengan saya.

Dari beberapa kejadian yang saya alami saat kecil itu, akhirnya terbawa sampai sekarang. Awalnya saya mengira mungkin saya hanya takut kucing di malam hari. Tetapi hipotesa itu terbukti salah besar.

Pernah di suatu siang yang cerah saat berumur lima tahun saya bersepeda keliling komplek dengan teman-teman. Karena sudah lelah kami pun pulang ke rumah masing-masing. Saat saya mau masuk rumah, ada seekor kucing sedang tidur siang di depan pintu rumah. Saya sangat bingung bagaimana cara masuk ke rumah. Bulu kuduk saya berdiki karena takut membangunkannya. Saya takut kalau kuncing tersebut bangun dan marah kepada saya karena sudah membangunkannya. Jadi saya berkeliling beberapa kali dengan harapan si kucing akan bangun sendiri dan beranjak pergi.

Saya berkeliling sampai lelah tapi si kucing masih asyik terlelap. Saya akhirnya minta tolong kepada tukang kebun untuk mengusir si kucing supaya saya bisa masuk ke dalam rumah. Syukurlah, saya akhirnya bisa masuk ke dalam rumah tanpa membangunkan kucing pula situ.

Tidak hanya itu, suatu hari saat saya bersama abang dan saudara kembar saya mengunjungi kantor ibu. Saya terjebak dengan seekor kucing anggora hitam dalam ruangan yang gelap. Saya panik hingga naik ke atas meja dan menangis meminta tolong. Taka da yang mendengar, kecuali saudara kembar saya. Sayangnya, ternyata ia juga fobia kucing. Tak lama kemudian Ibu kami datang dan memberi pertolongan.

Mengetahui fobia kucing kami yang sangat parah, ibu memutuskan untuk memelihara seekor kucing agar mental kami dapat terlatih. Kucing yang kami pelihara berjenis mainecoon dan kami memanggilnya Boggie.

Pertama kali melihat Boggie, saya sangat takut karena bulunya yang lebat dan badannya yang besar. Awalnya saya sangat terintimidasi dengan keberadaan Boggie karena saya merasa was-was setiap kali saya keluar kamar. Puncaknya pada suatu malam saat saya hendak ke kamar ibu, saya meminta tolong abang untuk memegangi Boggie. Akan tetapi Boggie terlepas dan saya pun panik sehingga berlari kembali ke kamar kakek.

Ternyata Boggie mengira bahwa saya akan mengajaknya bermain lari-larian. Ia pun berlari kencang mengejar saya hingga menabrak pintu. Kasihan sekali. Saya jadi iba dan mendekatinya. Setelah saya amati, ternyata Boggie memiliki wajah yang sangat lucu. Tingkahnya juga menggemaskan. Lama-kelamaan kami pun mulai bisa beradaptasi dengan Boggie. Saya dan saudara kembar saya mulai bisa bermain bersama. Tapi sayangnya kebersamaan itu sangatlah pendek, pada suatu hari Boggie menghilang.

Setahun setelah kenangan dengan Boogie berlalu, ibu kembali memelihara dua ekor anak kucing berwarna hitam dan putih campuran jenis angora, serta kucing kampung. Saat mereka datang, awalnya saya dan kembaran saya merasakan fobia kucing kembali. Namun setelah beberapa lama kembaran saya sudah mulai menunjukkan keberanian dengan mau memberikan makan dan main dengan anak-anak kucing tersebut. Sedangkan saya masih sangat takut terutama dengan anak kucing yang berwarna hitam.

Rasa takut itu terlebih karena si hitam suka sekali bermain di area kaki. Setiap keluar kamar saya selalu membawa sapu ijuk atau sapu lidi untuk berjaga-jaga agar dia tidak menyerang kaki saya.

Sampai saat ini saya tidak tahu bagaimana cara mengatasi fobia kucing ini. Dibilang hilang, nyatanya saya masih takut jika ada kucing. Dibilang ada, nyatanya saya kadang juga ingin bermain dengan kucing. Sejujurnya terkadang saya merasa bersalah karena kucing adalah binatang kesayangan Nabi Muhammad Saw. Saya berharap kucing-kucing bisa diajak bekerja sama untuk mengerti isi hati saya. Yang saya inginkan hanya hidup damai tanpa adanya gangguan kucing dan tentu saya pun tidak akan mengganggu kehidupan mereka. Kucing, bisakah kita hidup berdampingan dengan tenang?

Murid Kelas 8
SMP Ar Ridha Al Salaam, Depok
Suka Main IG dan Rebahan,
Takut Kucing,
IG : @shatrani.zv

Leave A Reply

Your email address will not be published.