Take a fresh look at your lifestyle.

Jadilah Dirimu yang Terbaik

41

Oleh : Vera Yulistiani @vera.yulistiani

“Tak apa langkahmu perlahan, sementara yang lain berlari. Tak apa gerakmu lambat, sementara yang lain melesat. Cukup bagi kita untuk terus berusaha memperbaiki diri dari diri kita yang sebelumnya. Fastabiqul khairat! Berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

●○●○

Anak perempuan itu tak patah arang untuk berusaha (lagi). Setelah beberapa peluang untuk menembus perguruan tinggi negeri gagal diraih, ia mencoba untuk bangkit (kembali) dengan semangat dan harapan yang sama. Kali ini ia mencoba peruntungan untuk mengikuti seleksi pada dua lembaga sekolah yakni STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara) dan STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) yang merupakan sekolah tinggi kedinasan di dalam negeri; Indonesia.

Sebut saja anak perempuan itu dengan nama Listi. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara seorang guru di Kabupaten Bogor. Selepas lulus sekolah menengah atas ia mencoba mencari lembaga sekolah atau perguruan tinggi untuk melanjutkan studinya. Ia memang tak pernah tahu kelak Allah perkenankan di mana studinya akan berlanjut, tugasnya hanya terus mencoba dan berikhtiar sekuat tenaga.

Tiap tahap seleksi ia jalani dengan kesabaran dan kesungguhan. Pergi pagi pulang petang. Matahari belum nampak pun ia sudah harus bergegas menuju lokasi ujian. Saat matahari sudah terbenam ia baru pulang dari lokasi ujian menuju tempat tinggalnya. Perhatian, peluh, upaya, dan biaya yang tak sedikit telah dikeluarkan olehnya. Berharap kali ini segala pengorbanannya tak sia-sia.

Namun, takdir berkata lain. Lagi-lagi dua sekolah tinggi tersebut bukanlah takdir yang harus ia miliki untuk dijalani. Meski seleksi penerimaan calon mahasiswa baru telah ia tempuh hingga hampir mencapai kuota penerimaan. Kuota mahasiswa yang diterima di STSN amatlah terbatas. Jumlah yang sangat sedikit dari jumlah pendaftar yang masuk. Dari 1.200 pendaftar hanya 40 kuota yang diterima untuk satu angkatan. Sementara, langkahnya harus terhenti pada angka 97. Dari 5 tahap seleksi yang ia jalani, ia telah menempuh perjuangan hingga pada tahap ke-4.

Singkat cerita ia harus menelan pahitnya kekecewaan (lagi). Bagaimana tidak? Mungkin jika ia tak lolos di awal tahap seleksi akan berbeda tingkat kekecewaan yang dirasa. Rasa kecewa muncul justru ketika garis finish telah nampak jelas dalam pandangan, namun tangan tak mampu ia raih. Saat itulah keimanan Listi diuji, karena jika Allah telah berkehendak “Jadi, maka jadilah! Kun fayakun!”
Langkah kaki Listi gontai. Sesampainya di rumah ia menngabari hal tersebut kepada sang Ibu. “Bu, maafkan Listi yang belum bisa membahagiakan Ibu hingga saat ini. Aku belum juga mendapat tempat studi perguruan tinggi, sementara banyak dari teman-temanku sudah diterima di perguruan tinggi ternama. Aku.. aku..” ucap Listi dengan air mata terurai. “Tak apa, Nak, kamu istimewa dengan segala yang ada pada dirimu. Memang hidup itu ujian selain daripada perjuangan. Listi harus bangkit dan Ibu sangat yakin Listi bisa.” ucap Ibu dengan tegas. “Tapi, Ibu…. aku seperti manusia yang tak ada gunanya….” tangis Listi seketika pecah. “Tidak, Nak, ibu yakin kesuksesan seseorang itu bukan di mana kita belajar tapi bagaimana kita belajar. Sudah ya kak, Ibu yakin di mana pun kamu belajar nantinya, insyaallah kamu akan banyak bermanfaat untuk umat. Ibu yakin itu,” ucap Ibu menguatkan sekaligus menenangkan hatiku.

Pada umumnya di zaman ini pecapaian diri kini lebih banyak dinilai pada prestasi. Di mana kita kuliah (belajar), di mana kita bekerja, profesi apa yang kita perankan, jabatan apa yang kita miliki, berapa banyak harta yang kita kumpulkan, dst. Hal ini tengah mengalami penyimpangan konsep dari apa yang sejatinya Allah inginkan dari penciptaan manusia. Ia menyadari bahwa Allah pengin kita menjadi khalifah di muka Bumi ini (Q.S. 2: 30) dan beribadah kepada Allah (Q.S. 51:54) dengan tanpa melihat apa dan siapa kita. Justru yang dilihat adalah hati dan amalannya (H.R. Muslim). Menjadi sebaik-baik manusia yang mengoptimalkan ikhtiar untuk melesatkan potensi terbaik yang telah dititipi oleh Sang Maha Pencipta sebagai bentuk kesyukuran. Tanpa harus membandingkan diri kita dengan yang lain.

Manusia berencana dan Allah sebaik-baik perencana. Manusia saja butuh pembuktian cinta. Pencipta kita pun sama, ingin melihat pembuktian cinta kita dengan semurni cinta. Bergegas menuju cinta-Nya dengan cinta yang sebenar. Menerima sgala yang terjadi di dalam hidup dan tidak mengukur pakaian kita dengan pakaian orang lain. Ingat ada poin keimanan terhadap qada dan qadar!
Perlu pemahaman dan hati yang lapang lebih agar mampu menerima segala kurang dan lebihnya diri. Kiranya membanding-bandingkan apa yang dimiliki oleh diri dengan yang dimiliki orang lain, maka tak akan pernah bisa diri berkembang menjadi lebih baik karena terbayang-bayangi dengan hidup orang lain. Hidup tak terasa nikmat karena ada yang mengintai. Kebayang gak sih gimana enggak enaknya hidup yang dibayang-bayangi oleh suatu hal? Mau apa-apa ada yang mengintai. Hmm, tentu sangat tidak nyaman. Sebelum mendapatkan yang terbaik, kadang kita perlu melewati fase gagal dan kecewa. Itu adalah kewajaran, agar kita bisa belajar.

Oke, kisah ini milik kita, skenario hidup kita sejatinya telah tertulis di lauhul mahfudz jauh sebelum kita tercipta di dunia. Maka kisahmu menjadi milikmu dengan segala keindahan skenario di dalamnya. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Kelebihan menjadi kekuatan untuk berjuang, sementara kekurangan menjadi penyedap agak hidupmu terasa nikmat. Nikmat berjuang. Nikmat berlelah. Nikmat dalam meminta pertolongan-Nya. Nikmat memperoleh hasil setelah menjalani proses-Nya.
Aku, kamu, kita semua sejatinya hanyalah makhluk yang tak sempurna. Maka, optimalkan ikhtiar. Biarlah Allah yang menyempurnakan apa-apa yang telah kita upayakan. Selamat menggapai cinta dari Sang Maha pemilik cinta dengan segala kurang dan lebihnya diri.

Listi berkata pada dirinya sendiri bahwa “Semua akan indah pada saatnya. Bagaimana jika tidak? Terserah Allah saja. Tugasku hanya percaya, bukan memaksa.”

●○●○

“Apapun yang menjadi takdirmu, akan mencari jalannya untuk menemukanmu.”
Ali bin Abi Thalib

PROFIL PENULIS
Vera Yulistiani. Lahir di Citeureup (Bogor) pada 23 Juli 1991. Pernah menempuh pendidikan di Universitas Pakuan Bogor Program Pascasarjana Prodi Pendidikan IPA. Sekarang berdomisili di Citeureup/Bogor. Motto hidupnya adalah “Belajar untuk berkarya, berkarya untuk bermanfaat. Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Laa haula walaquwwata illabillah.”

Leave A Reply

Your email address will not be published.