Take a fresh look at your lifestyle.

Kenangan Tentang Rasa Cinta

40

oleh Deden Fahmi Fadilah

1

Setelah lama-lama melihat pantulan dirinya di kaca masjid, anak kecil itu  berubah menjadi orang yang sangat bahagia. Tiba-tiba, dalam dirinya, muncul rasa cinta yang membuncah seperti air zam-zam yang keluar dari tanah bekas hentakkan Ismail. Seluruh darah dalam tubunya mengalirkan perasaan itu. Kemudian, tersungging segurat senyum di wajahnya yang masih basah karena air wudu. Dengan hati yang gembira, dia melangkahkan kaki mungilnya—yang juga masih basah—ke dalam masjid yang masih sepi. Terlihat tapak-tapak kecil itu di keramik masjid yang dingin. Kemudian, diraihnya mikrofon seraya mengucapkan salam—yang baginya juga merupakan seruan untuk kawan-kawan lain agar segera menuju masjid. Sebentar lagi, waktu Magrib akan tiba.

2

Anak kecil lain terburu-buru, berlari-lari kecil keluar dari rumahnya. Di tubuhnya, sebuah kain sarung bermotif kotak-kotak berwarna hijau sempat  diselempangkan terlebih dahulu, juga peci hitam lepek sempat ditemplokkan di kepalanya meski terlihat masih miring. Untung saja, sepasang sandal Swalow yang hampir putus itu tidak keliru dipakainya. Jadi, dia benar-benar berlari kencang setelah keluar dari rumahnya. Jarak rumahnya dengan masjid memang agak jauh, itulah alasan dia berlari-lari—dia tak ingin melewatkan sesaat menuju Magrib ini. Dia melewati kelokan demi kelokan jalan kampung, melangkahi tanah basah bekas hujan tadi siang, dan tak acuh pada gerimis yang masih tersisa. Di kepala anak itu hanya terbesit bahwa dia harus segera tiba di masjid, bergabung dengan kawannya yang lain.

3

Ada juga anak kecil yang bergerombol dengan membawa sebuah buku Juz Amma. Mereka membicarakan hafalan surat yang mesti disetorkan setelah solat Magrib nanti ke Pak Ustaz. Ada juga di antara mereka yang membicarakan kekecewaannya karena tidak menunaikan kegiatan bermain layang-layang akibat hujan. Padahal, mereka semua sudah berniat dari kemarin malam—sehabis pulang mengaji di rumah Ustaz Somad—untuk saling bertarung di udara menggunakan layang-layang. Tapi tak apa. Hal itu tak cukup mampu melunturkan kebahagiaan mereka menyambut seruan salam dari kawannya yang sudah terlebih dahulu tiba di masjid. Dan kebahagiaan itulah yang setiap harinya ditunggu-tunggu oleh mereka, selain pulang dari sekolah.

4

Ustaz Somad tak mau kalah semangat oleh anak-anak didiknya itu. Setelah mengepel lantai keramik masjid yang basah, akhirnya dia menggelar karpet masjid yang sempat digulungnya tadi siang. Selepas solat Zuhur tadi hujan tiba. Dia memutuskan menggulung semua karpet dan menyimpannya di gudang masjid, di sela antara sebuah keranda dan beduk masjid yang bolong. Maklum, setiap hujan tiba, atap masjid tak mampu menahan air yang masuk melalui celah-celah genting yang bocor dan merembas di langi-langit masjid yang masih terbuat dari triplek. Isi keropak yang selalu dihitung setelah solat Jumat belum cukup juga untuk membetulkan itu semua. Di sela ibanya, Ustaz Somad tertegun. Si anak kecil itu menanggalkan mikrofon seraya menyalami Ustaz Somad yang muncul dari gudang membawa karpet-karpet itu. Ternyata Pak Ustaz telah lebih dulu ada di masjid, gumam si kecil. Ustaz Somad tersenyum bahagia, di dadanya muncul semacam perasaan cinta. Apa lagi, ketika menjawab salam dari segerombolan anak yang akhirnya tiba di masjid dengan wajah basah sisa wudu.

5

Suara pompa air yang dinyalakannya sejenak lalu, bagi Ustaz Somad, adalah sebuah karunia. Dilihatnya beberapa anak masih berwudu bersama beberapa bapak-bapak di tempat wudu itu. Suara air yang keluar dari kocoran itu seperti tempo kehidupan yang sangat menenangkan. Meski air sumur itu keruh kekuningan, tapi tak sama sekali tak membuat wajah mereka menjadi dekil dan jelek. Wajah-wajah itu malah memancarkan sebongkah cahaya yang tak dapat dilihat oleh mata biasa: mata yang tak memiliki cinta.

6

Di ufuk barat, matahari bersinar malu-malu seakan tak mau melewatkan kepergiannya yang diselimuti kebahagiaan orang-orang. Di ujung langit lainnya, pelangi terlihat juga meski samar-samar dan berwarna pudar. Mulai terdengar suara-suara selawat dari pengeras suara masjid. Suara-suara itu terpantul ke seluruh penjuru kampung. Selain suara-suara lugu lantunan selawat dari anak-anak itu, orang-orang juga merasakan keceriaan, dan rasa cinta yang terkandung di dalam selawat itu. Sebab itu, seluruh warga merasa sangat senang: ibu-ibu senang melihat anak dan suaminya berangkat ke masjid, dan yang lainnya tak ada yang merasa ketakutan menghadapi gelap seperti dikatakan orang lain.

7

Para remaja yang selesai bermain bola dan telah siap menuju masjid, mulai melangkahkan kakinya mengikuti seruan. Masing-masing di antara mereka juga memiliki ingatan yang sama tentang selawat yang dilantunkan oleh anak-anak itu. Dulu, merekalah yang melakukannya. Sambil berjalan menuju masjid, mereka membicarakan hal itu: sebuah kenangan yang membuat mereka tetap merasa bahagia sampai sekarang.

8

Salah satu di antara remaja itu bercerita ketika mendengar selawat nabi yang dilantunkan. Dia teringat bapaknya yang mengajarkannya berselawat waktu kecil dulu. Bapaknya juga seorang Ustaz, namun terbunuh di masjid itu ketika melawan pencuri keropak. Saat itu, bapaknya baru saja selesai menunaikan solat malam. Seorang pencuri dipergokinya tengah membongkar gudang masjid dan membawa keropak itu. Karena mencoba untuk menegur si pencuri, si pencuri sekonyong-konyong menusuknya menggunakan sebilah golok ke perut sang Ustaz. Dia ingat, subuh itu, sang ayah telah tergeletak berlumur darah di sebelah keropak yang hancur dan tak lagi berisi. Namun, dia juga ingat perkataan Ustaz Somad setelah pemakaman sang ayah kalau ayahnya insyaAllah khusnul khotimah karena beliau ialah salah satu orang yang sangat mencintai masjid. Sambil dipeluk oleh kawan-kawannya, remaja itu tenang melenggang ke masjid dengan penuh rasa cinta.

9

Muludan, Rajaban, dan Muharaman adalah waktu yang sangat membahagiakan bagi seluruh warga kampung. Ibu-ibu memasak bersama untuk acara tersebut. Bapak-bapak bergotong royong mendekorasi masjid. Anak-anak menyambutnya dengan pawai obor dan melantunkan selawat nabi. Di acara puncak, biasanya ada ceramah dari Ustaz Somad atau Ustaz undangan dari kampung lain. Sepertinya, jika masjid adalah makhluk hidup, dia akan selalu tersenyum setiap harinya, juga setiap orang-orang beramai-ramai memenuhi masjid dalam kegiatan tersebut.

10

Suatu hari, masjid kampung itu terkena musibah angin badai. Genting-genting tuanya beterbangan. Sebagian temboknya roboh karena tertimpa pohon Trembesi tua yang, awalnya, tumbuh rindang di halaman masjid. Terlihat pancaran kesedihan dari anak-anak itu, juga setiap warga desa. Ustaz Somad juga cukup kebingungan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Untungnya, warga memang peduli. Dengan satu komando dari Ustaz Somad dan uang donasi dari para dermawan dan desa, warga desa bergotong royong untuk kembali membetulkan masjid itu. Sementara itu, kegiatan solat berjamaah dan lain-lain dipindahkan ke majlis taklim tempat para ibu-ibu melaksanakan pengajian. Meski merasa sedikit berbeda, anak-anak itu tetap melantunkan selawat setiap menjelang Magrib sambil tak sabar menunggu masjid mereka berdiri kokoh kembali dengan wajah baru.

11

Masjid itu memiliki wajah baru. Warga bersyukur karena memang telah lama masjid itu tidak direnovasi. Genting yang bocor akhirnya diganti genting baru dengan kerangka baja ringan. Tembok-tembok yang terbuat dari batako diganti bata merah yang lebih kokoh. Cat masjid yang sudah pudar dan tembok yang mengelupas di beberapa bagian sudah tidak ada lagi. Peralatan pengeras suara juga baru. Bacaan kaligrafi yang indah terpampang di sudut-sudut masjid. Mimbar baru gagah berdiri di sebelah tempat imam. Jendela kaca dan pintu yang baru membuat kagum anak-anak itu. Keramik yang baru dimanfaatkan oleh anak-anak untuk melihat wajah mereka yang terpantul di sana. Karpet masjid yang baru membuat jidat mereka nyaman. Semuanya serba baru. Tapi cinta mereka tetap yang dulu, masih sama, malah semakin membesar.

12

Itulah ingatan yang saya miliki soal masa kecil di kampung halaman. Sebenarnya, setelah hampir dua puluh tahun meninggalkan kampung karena harus kerja di kota, saya sudah terbiasa kehilangan semuanya. Saya kehilangan berlari-larinya teman-teman saya ke masjid sebelum Magrib tiba. Saya rindu acara-acara keagamaan yang menyatukan seluruh warga. Saya kangen dengan bagaimana suara-suara lantunan ayat suci yang berasal dari rumah Pak Ustaz Somad. Kini, saya jauh dengan itu semua. Di kompleks perumahan tempat tinggal saya sekarang, semuanya seakan hanya impian atau bahkan sebuah kemustahilan. Beberapa kali saya sempat pergi ke masjid kompleks untuk solat Magrib, tapi suasananya berbeda. Saya tak bisa merasakan suasana cinta yang sama.

13

Mendengar itu semua, Ustaz Somad, yang sudah sangat tua itu, mengangguk-angguk mencoba memahami kesedihan saya. Tangannya yang kini keriput menepuk pundak saya sambil mengatakan kata-kata yang cukup mencengangkan. Katanya, ingatlah itu semua dengan baik-baik, sebab di kampung ini pun semuanya hanya tinggal kenangan. Dia tersenyum dan kemudian meminum teh yang berada di hadapannya. Kemudian, Ustaz Somad bercerita soal anak-anak sekarang yang mulai enggan pergi ke masjid, apa lagi berselawat sebelum Magrib tiba. Kini, masjid hanya berisi bapak-bapak yang beberapa di antara mereka sudah mulai kesulitan untuk berjalan. Para remaja lebih asyik nongkrong di warung-warung kopi pinggir kampung sambil bermain game online. Semuanya tak seperti dulu, sekarang. “Saya juga rindu, Man.” Katanya lesu.

14

Waktu Magrib hampir tiba. Saya dan Ustaz Somad memutuskan untuk pergi ke masjid yang kini semakin gagah tapi sepi. Setelah mengambil wudu, Ustaz Somad memerintahkan saya untuk azan. Saya seperti merasakan suatu kebahagiaan yang tak lagi saya dapatkan sekian lama. Kata Ustaz Somad, kalau kamu masih mencintai masjid, coba kamu mulai dari azan. Setelah lama-lama melihat pantulan diri di kaca masjid, seketika saya  berubah menjadi orang yang sangat bahagia. Tiba-tiba, dalam diri saya, muncul rasa cinta yang membuncah seperti air zam-zam yang keluar dari tanah bekas hentakkan Ismail. Seluruh darah dalam tubuh mengalirkan perasaan itu. Kemudian, tersungging segurat senyum di wajah saya yang masih basah karena air wudu. Dengan hati yang gembira, saya melangkahkan kaki—yang juga masih basah—ke dalam masjid yang selalu sepi sambil berselawat dalam hati. Saya melihat tapak-tapak kaki itu di keramik masjid yang dingin. Kemudian, saya raih mikrofon itu dan mulai mengawali azan dengan bertakbir di sana.

15

Sebelum saya pulang, Ustaz Somad berbisik pelan: teruslah beribadah, berselawatlah terus di hatimu, dan selalu ingatlah semuanya. Saya tidak dapat berbuat banyak pada akhirnya. Maka, saya putuskan untuk menulis cerita ini. Mungkin, anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, yang membaca cerita ini juga bisa mengingat semuanya: mengingat kenangan-kenangan tentang rasa cinta.

Bogor, November 2019

BIODATA PENULIS

Deden F. Fadilah
Deden Fahmi Fadilah, lahir di Bogor, 18 September 1992. Lulusan program Pendidikan Bahasa di Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Menulis puisi, esai, cerita pendek, dan naskah drama. Pendiri komunitas diskusi sastra Kelas Sore di Bogor. Juga seorang guru di sebuah SMP di Bogor.

Leave A Reply

Your email address will not be published.