Take a fresh look at your lifestyle.

Kobo dan Noyo

87

Oleh: Shatrani Zareeva Maryam Akbar

Di samping sungai, di antara bongkahan kayu, hiduplah seekor semut merah kecil. Namanya Kobo. Kobo adalah anak semut yang selalu senang bermain. Biasanya ia bermain sendiri di pinggir sungai.

Suatu hari saat ia sedang bermain di sisi sungai, tak terasa hari hampir sore. Kebetulan langit mendung dan menunjukkan akan hujan. Akan tetapi Kobo tidak ingat waktu untuk pulang.

Sesaat kemudian, Kobo merasa haus. Melihat air sungai mengalir di sampingnya, ia mencoba untuk meminum air sungai tersebut. Tetapi karena badannya yang terlalu kecil, ia tidak sanggup menggapai air meskipun sudah di pinggir sungainya. Akhirnya, ia beranikan diri menjatuhkan sedikit tubuhnya agar mengenai aliran air. Nahas, ia pun terjatuh ke dalam sungai tersebut karena arus sungai mulai deras.

Ia berteriak meminta tolong tetapi tidak ada yang mendengar. Kobo terbawa arus dan tak sanggup melawan. Kobo harus berjuang dan mencari cara untuk menyelamatkan dirinya agar tidak mati tenggelam. Semut kecil tersebut masih berteriak sekuat tenaga meminta tolong.

Suara Kobo terdengar oleh seekor ikan yang sedang kelaparan. Ikan itu bernama Noyo. Noyo dengan cepat berenang mendekati Kobo. Melihat ikan tersebut semakin dekat, Kobo pun panik karena takut dimakan. Ia mencoba berenang secepatnya agar menjauh dari ikan tersebut.

Semakin dekat Noyo kepada Kobo. Mulut Noyo terbuka dan tertutup seperti akan segera memangsa Kobo. Hingga akhirnya Noyo membuka mulut lebar dan Kobo dimasukan ke dalam mulutnya. Suara Kobo sudah hilang. Kemungkinan ia sudah ditelan Noyo yang lapar.

Kemudian Noyo berenang ke pinggir sungai. Tak disangka, mulutnya kembali terbuka dan dimuntahkannya Kobo sehingga terlempar mencapai daratan. Noyo ternyata tak memakan Kobo. Ia memasukan Kobo ke mulutnya hanya ingin mengangkutnya dan mengembalikannya ke darat. Sungguh ikan yang berjiwa mulia.

Kobo sudah kembali ke daratan dan pulang ke sarangnya. Ia kapok dan tidak akan bermain melebihi waktu lagi. Sedangkan Noyo masih berenang-renang di sungai. Tak lama kemudian, mengalir sisa-sisa makanan manusia di aliran sungai. Sisa-sia makanan tersebut bisa dimakan oleh Noyo yang kebetulan masih lapar.

Tunai, kebaikan Noyo kepada Kobo terbayar seketika.

Shatrani Zareeva Maryam Akbar, Murid Kelas 8
SMP Ar Ridha Al Salaam, Depok
Suka Main IG dan Menulis
Takut Kucing,
IG : @shatrani.zv

Leave A Reply

Your email address will not be published.