Take a fresh look at your lifestyle.

Lima Puisi untuk Sukma—M. Fajar Muttakin

97

SUKMA (1)

Jika ada suatu hal yang kau ikhlaskan padaku
atas kau
Meski bisunya temu masih tabu kala itu
Dan bisingnya suara belum tampak jelas siapa pemiliknya

Aku kini insaf betul,
Luputnya khazanah kata menjadi maslahat paling manfaat
bagi kita

Lalu atas itu, dan atas ikhlasnya kau
Aku hanya ingin…
Kebahagian selalu menyertaimu
setiap hari
dan
seterusnya

Bogor, September 2020

SUKMA (2)

Bila aku mengingati kau di siur doa yang tak pernah henti kusebut “sukma”
Ada debur yang membuncah di kala kau kelu menimang yakin

Aku tiba-tiba menjelma bagai bibir laut yang merindukan para peziarah
Merindukan bau telapak kakimu yang perlahan melangkah memelukku
Tenggelam dalamku, dalam aku, yang paling dalam

Sukma..  Sukma.. Sukma.. 
Aku merindukan kau dalam sepi yang agung
Aku merindukan kau tanpa risih berkecamuk

Sukma..  Sukma..
Tanpa apa aku menyambangi kau di ujung hari?
Dengan apa kubawa sekantung pasir bekas jejakmu?

Sukma..
Terlelaplah, tanpa lupa aku

Bogor, September 2020

SUKMA (3)

Aku telah mengenal kau di sepertiga kau
Mendengar suara kau, sunyi kau, sepi kau,
dan -kau yang lain
Aku sedikit tau kau akan aku, bingung kau akan aku, resah kau akan aku,
dan -aku, akan yang lain
Dari mana pun kau memulai, menepilah pada tempat yang tepat

Sukma…
Jika jua kau terisak di belantara tanpa ufuk yang kau lihat
Meringislah bersama hati yang tabah, yang yakin, yang tak henti bermunajat
Sebab aku, mungkin tidak ingin kau cari lagi

Sukma…
Teruslah membaik dan damai bersama rekahan bunga bibir yang memerah,
yang niscaya, yang tanpa dusta.

Sukma…
Teruslah, tanpa lupa kau

Bogor, September 2020

SUKMA (4)

Aku tatkala waktu yang semakin senyap diperundungan pilu
Pada kau, yang tak jua berbisik apa-apa
beberapa hari ini
Kau hilang dalam peradaban aku tanpa aku mau
Menyelinap, diam-diam, dan semakin hilang saat
redup cakrawala waktu

Sukma…
Rindu kian membuncah dan pecah pada sebongkah peti mati yang kosong
Yang tak ada degup, yang ada hanya redup

Sukma…
Jika benar kau telah merestui diri kau untuk pulang pada satu jalan
yang berbeda
Maka, jangan lagi kau ketakutan
Dekaplah setiap doaku yang harumnya menyelimuti tubuhmu

Sukma…
Jangan kau pedulikan apa-apa padaku
Merdekalah, atas semua ingin kau

Bogor, September 2020

SUKMA (5)

Sukma…
Aku insaf
Sukma…
Kau tak perlu ucap maaf

Sukma…
Maaf, aku
Jika tak lebih aku, untuk kau

Sukma…
Terimakasih, aku
Kau, terkasihku

Sukma…
Baik-baik dalam kalbu siapa saja
yang cukup akan kau

Bogor, September 2020

M. Fajar Muttakin
M. Fajar Muttakin, Seorang guru. Lulusan PBS Indonesia FKIP Unpak. Pegiat Teater dan Sastra.

Leave A Reply

Your email address will not be published.