Take a fresh look at your lifestyle.

NGIMPO

99

Oleh Deden Fahmi Fadilah

Rumah Jantra jadi ramai oleh para warga setiap harinya semanjak kejadian malam itu. Orang-orang berbondong-bondong ingin melihat kondisi Jantra yang linglung, sekadar membuktikan gossip-gosip yang berseliweran. Jika kau lihat, mata Jantra melotot-menengadah ke arah atas, mulutnya terbuka, dan tubuhnya hanya bisa diam terduduk di lantai. Sesekali dia meminta minum, makan dan buang air. Lastri, sang istrilah yang benar-benar setia di sampingnya. Kadang, sambil menangis, Lastri mengelap liur suaminya yang selalu keluar dari mulut yang menganga itu. Di luar sana, gosip tentang Jantra membuat hati Lastri semakin tersayat.

Ada orang yang mengatakan bahwa Jantra jadi gila karena tak kunjung menang togel meski sudah mencoba berkali-kali, bahkan sampai menjual harta benda demi modalnya berjudi. Ada juga orang yang berpikir mistis bahwa arwah Jantra diculik oleh setan penunggu pohon keramat di hutan belakang kampung ketika Jantra mencoba untuk menebangnya. Namun, yang kudengar dari Joni, Jantra jadi stres karena sirik melihat dirinya menang togel beberapa bulan yang lalu.

Berita yang begitu simpang siur itu jadi pertanyaan besar buat saya yang baru beberapa hari saja pindah ke kampung itu. Suatu malam, seorang lelaki yang mengaku bernama Jarkasih datang ke kontrakan yang kutempati. Orang tinggi legam dan gondrong itu mengatakan bahwa semua ini karena togel. Dia menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi di kampung ini.

***

Suatu hari di bulan Mei, seantero kampung ini geger karena Joni menang judi togel. Tak kira-kira, Joni mendapatkan keuntungan sebesar lima ratus juta untuk kupon-kupon yang dibelinya. Tak lama kemudian, ramailah gossip tentang bagaimana cara Joni bisa memenangkan togel sebesar itu.

“Dia cuma hoki, dan hoki bisa dipunya sama semua orang.” Kata Ruslan sang Bandar kampung.

Namun, penjelasan Ruslan tersebut tak mudah dipercayai orang-orang. Bagi orang-orang yang sedang kumpul untuk memasang judi togel di lapak Ruslan, soal hoki itu jadi tanda tanya besar. Kenapa si Joni bisa punya hoki? Kenapa hoki itu tidak datang ke Wa Sarim, atau Pak Suta yang sudah bertahun-tahun setia bersama togel, tapi tak pernah sekali pun menang? Artinya, orang-orang akan terus mencari tahu bagaimana cara si Joni menang togel.

Joni, yang sudah menerima uangnya melalui transferan bank dari Bandar besar di luar negeri ke rekening Ruslan, seketika menjadi selebritis. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, kakek-nenek, semuanya membicarakannya. Terlebih jika Joni lewat di kerumunan warga yang sedang bergosip atau duduk-duduk di pos, dia selalu digoda sebagai OKB atau Orang Kaya Beruntung. Bagi Joni, itu suatu yang membanggakan.

“Lihatkan sama kalian. Joni yang dulu kalian hina sebagai pengangguran kini menjadi orang yang mendadak kaya. Sebentar lagi, Joni akan mejadi juragan kambing! Punya rumah baru! Dan sebentar lagi akan menjadi bos toko emas di pasar.” Joni selalu mengucapkan kalimat-kalimat itu sambil tertawa-tawa setiap kali dia digoda oleh warga.

Bagi sebagian besar orang di kampung, kemenangan Joni jadi suatu pembuktian bahwa togel benar-benar menguntungkan. Maklum saja, baru Joni yang bisa beruntung selama togel menjamah di kampung itu. Alhasil, peminat judi togel pun semakin ramai. Anak-anak remaja tanggung jadi ikut pasang togel dan berharap kalau dia bisa seperti Joni. Orang-orang yang sempat lesu karena tak pernah menang togel, jadi kembali bergairah. Terlebih Jantra, teman sepengangguran Joni.

Pasca-keduanya di-PHK oleh pabrik di kota setahun lalu, keduanya jadi gila judi. Tabungan Jantra yang seharusnya bisa dipakai buka usaha bersama Lastri dipakainya untuk modal berjudi. Lastri kadang geram melihat kelakuan suaminya itu. Namun, ada saja perkataan Jantra yang membuat Lastri tidak bisa berbuat lebih selain mengingatkan suaminya itu.

“Bangsat si Joni itu! Bagaimana bisa dia seberuntung itu!” kata Jantra.

“Sudahlah, Kang. Togel itu judi, dan judi itu haram. Tidak baik!” jawab Lastri sambil membawakan Jantra sepiring nasi goreng pagi itu.

“Aku yakin Lastri. Aku bisa menang di kesempatan berikutnya. Kau tak usah lagi jadi kuli cuci atau memotong rumput untuk pakan kambing orang. Hidup kita bisa lebih baik.”

“Lebih baik kau melamar kerja lagi ke kota, Kang.”

“Mana bisa? Zaman sekarang cari pekerjaan itu susah, Lastri. Aku saja baru dipecat dari pabrik. Bahkan, jadi gembel dan mengemis di kota saja susah di zaman sekarang. Lagian, togel lebih menjanjikan! Lihat si Joni!”

Lastri tak bisa berkata apa pun selain meratapi wajah kesal suaminya itu.

***

Tak lama kemudian, tersebarlah kabar tentang cara Joni mendapatkan nomor togel untuk menang dalam perjudian itu. Konon, Joni mendapatkan nomor togel itu dari hasil ngimpo. Mendengar hal itu, orang-orang sempat menelan ludah. Butuh keberanian tinggi untuk melaksakan ritual ngimpo. Salah-salah, kalau gagal, bisa-bisa celaka akan menimpa orang yang meminta nomor. Jadi, orang-orang akan berpikir dua kali untuk melakukannya, sambil memikirkan betapa nekatnya si Joni melakukan ngimpo.

“Serius?” wajah Jantra seketika tegang.

“Seriuslah! Tanya Ikin kalau tidak percaya.” Jawab Guntur meyakinkan.

Jantra langsung pergi dari pos: berlari ke rumahnya, mengambil sesuatu dan pergi menuju lembah gunung, tempat tinggal Ki Kismin.

Jantra yakin kalau Joni pasti pergi ke sana. Dulu, mereka berdua sempat membicarakan tentang ngimpo untuk memperoleh nomor togel dari makhluk gaib. Dukun di sekitaran daerah itu yang sangat terkenal untuk melaksanakan ngimpo hanyalah Ki Kismin. Namun, dulu, mereka berdua tak cukup yakin karena beberapa orang pernah mencobanya dan tak ada yang benar-benar dapat membuktikan. Kali ini berbeda, Jantra cukup yakin. Bahkan sangat yakin.

***

Tibalah saat Jantra dan Ki Kismin melaksanakan ritual ngimpo, di suatu malam berbulan sabit dan tak banyak bintang di langit. Jantra telah mempersiapkan segala sesajen untuk ritual tersebut. Di bawah sebuah pohon keramat di tengah hutan, mereka berdua memulai ritualnya. Ki Kismin berkomat-kamit, sementara Jantra menadahkan kedua tangannya ke depan. Sebelumnya, Ki Kismin memperingatkan Jantra bahwa dia tak boleh terkaget-kaget atau ketakutan ketika makhluk gaibnya jatuh dipangkuan tangannya. Jantra hanya mengangguk.

Angin di seputaran pohon itu cukup kencang dan menjatuhkan dedaunan pohon itu. Suasana jadi semakin menegangkan. Jantra sempat gentar, tapi ketika mengingat keberhasilan Joni, kegentarannya itu langsung sirna.

“Sebentar lagi, ritualnya selesai. Ketika makhluk itu datang, lekaslah cari nomor itu di dahi, atau di dada, atau di punggungnya. Ingat! Semuanya bergantung pada dirimu sendiri.”

Benar saja. Dari atas pohon jatuhlah sesosok pocong ke tangan Jantra. Jantra sempat goyah dan hampir menjatuhkan pocong itu ke tanah. Setelah beberapa saat pocong itu tertangkap oleh tangannya, pocong itu dipindahkan ke pangkuan kakinya yang bersila. Sekonyong-kononyong dia periksa dahi, dada, dan punggung pocong itu. Meski wajah pocong itu menyeramkan, namun Jantra tetap berpikir bahwa lebih menyeramkan melihat Joni sukses dengan keberuntungannya. Ditemukanlah empat nomor di punggung pocong itu: 2408. Wajah Jantra sumringah. Dan seketika angin kencang menghempaskan pocong ke atas kembali. Jantra tertawa-tawa.

***

Beberapa hari kemudian, Jantra tak ragu memasang nomor yang didapatkannya. Dan kabar tentang dirinya telah melaksanakan ngimpo telah tersebar luas. Di lapak Bandar, dirinya sudah mulai disebut-sebut sebagai pemenang berikutnya. Tak ayal, hal itu membuat Jantra semakin besar kepala.

“Aku pasang angka 2408 di seratus kupon!”

Orang-orang serasa tak percaya. Jika dihitung-hitung maka keuntungan Jantra bisa mencapai satu miliar jika keempat nomornya tembus. Dengan percaya dirinya, Jantra pergi dari lapak dan menunggu hasil pengumumannya nanti sore lewat SMS yang dikirim oleh Ruslan.

“Lastri! Lastri! Lastri!” teriak Jantra dari luar rumah.

“Iya, Kang.”

“Sebentar lagi kita pindah rumah, buka usaha, beli sawah dan kita ternak banyak kambing!”

Lastri bingung: harus senang dengan perkataan Jantra atau harus sedih karena suaminya itu masih saja percaya togel. Namun, begitu tegarnya Lastri, dia berusaha untuk mempercayai perkataan suaminya.

***

Sore hari sebelum magrib tiba, Jantra yang sedang memperhatikan istrinya mengangkat jemuran di depan rumah tergeming melihat telepon genggamnya berdering, tanda ada SMS masuk. Dengan segera, Jantra membuka SMS dari Ruslan itu. Diperhatikannya secara saksama, tak ada satu pun nomor yang dipasangnya muncul. Dia cek kembali, dan tetap saja tidak ada. Akhirnya, dia mencoba menelepon Ruslan. Dia marah-marah pada Ruslan soal mengapa nomornya tidak muncul, dan dia tidak jadi menang togel. Ruslan yang hanya seorang Bandar kampung menjelaskan bahwa nomor itu dikocok di luar negeri, dan dia hanya melaporkan saja.

Jantra kesal bukan main. Wajahnya geram dan menampakkan wajah yang penuh amarah. Seketika dia pergi ke dapur dan mengambil sebilah golok, kemudian berlari. Lastri mencoba untuk memanggilnya, namun Jantra tetap berlari.

“Kismin! Keluar kamu!”

“Saya sudah tahu, bahwa kamu pasti akan kemari.”

“Kau juga sudah tahu bahwa saya kalah judi dan ini semua sudah kau rencanakan, hah?”

Kismin tetap tenang walau Jantra menodongkan golok itu ke arahnya. Kismin menjelaskan bahwa semuanya benar-benar tergantung pada nasib. Dia malah mengatakan bahwa jika ngimpo itu mudah, dia tak akan seperti sekarang.

“Kalaupun kau  membunuhku, kau tetap kalah Jantra. Semuanya tidak akan mengubah apa pun.”

Jantra kesal dan hampir kehilangan akal sehatnya, sebelum akhirnya dia berlari menuju pohon keramat. Jantra mengamuk di sana. Dia menantang makhluk gaib yang pernah memberinya nomor togel, dia mencoba menebang pohon keramat yang konon berapa kali pun ditebang, pohon itu akan kembali berdiri.

Dari saat itulah Jantra jadi seperti sekarang, kata Jarkasih.

***

Malam jadi lebih menyeramkan. Kopi yang tadi disuguhkan ke Jarkasih, tak sedikitpun diteguknya. Sesekali dia hanya memperhatikan bulan yang hampir purnama. Saya sempat mau menanyakan bagaimana cara Jantra untuk bisa kembali seperti semula, namun urung. Jarkasih terlanjur mengatakan bahwa Jantra tidak akan selamat. Sukmanya sudah berada di alam lain, dan saat ini sedang terus mengamuk dan menyebabkan kengerian setiap malam.

“Jantra, tinggal menunggu kematiannya!”

Terakhir, sebelum dia pergi, Jarkasih memperingatkan untuk batal bekerja sama dengan Joni untuk masalah peternakan kambing. Sekali kau menceburkan diri dengan lingkungan di sini, kau akan menjadi seperti mereka, katanya.

Dari jauh, ketika Jarkasih mulai meninggalkan teras kontrakan, saya melihat cahaya dari punggungnya. Cahaya itu menyuratkan segurat angka bertuliskan 6841. Saya menelan ludah perlahan. Tubuh saya merinding, kaki tidak bisa digerakkan, dan mata tak mampu dikedipkan. Tangan yang bergetar segera menutup pintu kontrakan dan tak membiarkan angin itu masuk lebih dalam. Tiba-tiba kepala saya pusing: terpikirkan tentang Joni, juga Jantra.

Note: kisah ini terinspirasi dari kisah Bulengkeukan karya Agung J.

Deden F. Fadilah
Deden Fahmi Fadilah, pernah kuliah di Unversitas Pakuan dan Universitas Negeri Jakarta. Aktif bersastra bersama Kelas Sore. Kini tinggal di Leuwiliang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.