Take a fresh look at your lifestyle.

PAKET SETIA

45

Oleh Deden Fahmi Fadilah

Sambil duduk di kursi, tepat di depan televisi yang menayangkan berita-berita selebritis—yang sebenarnya tak benar-benar ditontonnya, dia teringat peristiwa malam itu. Pandangannya kosong. Ingatan seperti sedang membawa jiwanya ke sebuah peristiwa yang, baginya, menjadi petanda buruk: perceraian mereka.

            “Apa maksud dari ‘kalau kau menginginkannya? Perempuan aneh!”

Karena gumamannya itu, sakar rokok yang telah memanjang di batang rokoknya jatuh mencapai lantai: menambah berantakkannya ruangan itu, juga hidup si lelaki. Padahal, dia telah hancur sebelumnya ketika perusahaan tempatnya bekerja menerbitkan surat pemecatannya.

Di luar, panas matahari seperti ingin membakar setiap atap rumah. Lalu, lelaki itu mendengar suara langkah kaki yang berasal dari depan rumahnya. Siapa orang di luar sana, pikirnya. Tak lama, bunyi bel terdengar. Rasa penasaran yang muncul membawanya untuk membuka pintu. Tak ada orang di sana, cuma, ada sebuah paket tergeletak persis di depan pintu.

Paket itu berbentuk sebuah kotak kecil yang terbuat dari kardus, diikat oleh seutas tali untuk merapatkan bagian penutupnya. Ukurannya kecil saja, namun ketika diangkat olehnya, kotak itu serasa berat. Di sana tertulis: “Jangan dibuka! Kotak ini tak berisi apa pun. Kecuali kau cukup bertanggung jawab untuk mengisinya.”

Lelaki itu mengernyitkan dahi dan memicingkan mata. Dia seperti mengingat sesuatu. Sambil membawa paket itu ke dalam, dia mengatakan bahwa dia tak memesan apa pun. Apa mungkin ini adalah paket pesanan dari mantan istriku, pikirnya. Tapi rasanya tidak mungkin karena mantan istrinya tak mengatakan apa pun tentang paket. Lagi pula, paket itu tak seperti paket biasanya. Tak ada tanda dan alamat pengirim di sana. Juga, paket ini terasa berat sekali untuk ukuran kotak kardus yang kosong.

Awalnya paket itu sama sekali tak begitu membuat si lelaki peduli, sepertinya. Sebelum akhirnya dia melihat detail bahwa tertulis alamat tujuan paket itu yang benar-benar alamat rumahnya, juga tertera jelas namanya di sana. Ketakutan sempat hampir akan muncul, namun cepat-cepat ditepisnya.

“Kerjaan orang iseng!” katanya sambil meletakkan kotak itu di meja.

Tak lama, telepon genggamnya bergetar tanda pesan singkat masuk. Nomor tak dikenal.

Dari: 08xxxxxxxxxx2

Sudah kau terima paketnya? Kau tak perlu menjawabnya. Tapi, jika kau membuka pesan ini, mestinya kau sudah menerima paket itu.

Begitulah.

Karena penasaran, dia mencoba melakukan panggilan ke nomor itu. hasilnya sama sekali tak ada jawaban. Lelaki itu menaruh kembali telepon genggamnya, lalu melirik paket itu. Kini, jantungnya berdegup kencang. Dia mulai memikirkan hal-hal menyeramkan. Jangan-jangan paket ini berisi bom, atau tagihan hutang, atau tagihan cicilan rumah dan mobil, atau berisi peringatan yang mengancam dirinya, atau berisi foto mantan istrinya bersama seorang pria yang tempo hari dipergokinya? Tapi lagi-lagi pikiran itu ditepis karena bacaan di sana mengatakan bahwa paket itu kosong. Dia menghela napas. Namun, belum merasa tenang.

Semakin dia memikirkannya, perasaan penasaran ingin membuka paket itu semakin menjadi-jadi. Namun, lagi-lagi dia diselimuti pertanyaan besar. Kalau paket ini dibuka dan benar-benar kosong, apa yang harus diisikan ke dalamnya sebagai bentuk tanggung jawab, pikirnya. Atau jika paket ini dibuka dan tak diisi apa pun, apa yang akan terjadi?

Suasana tidak mencekam seperti dalam film horor atau film misteri. Biasa saja. Yang pasti, suasana hati si lelaki belum tenang. Perasaannya tak keruan. Dia bingung harus membuka paket itu atau tidak. Keberaniannya tak cukup mampu untuk menggerakkan tangannya dan membuka paket itu. Tapi, kalau didiamkan, dia tidak akan pernah tahu apa maksud dari semua ini.

Dari: 08xxxxxxxxxx2

Tidak usah khawatir. Kau bisa memilih untuk tidak membukanya kalau kau mau. Tak ada paksaan di dini.

Begitulah.

Mencoba menenangkan? Pikir si lelaki. Baginya, dalam kondisi semacam itu, hal yang menenangkan malah terasa lebih mengancam. Tangannya yang memegang telepon genggam itu jadi gemetar, juga kakinya, juga alisnya berkedut. Seperti tak ada jalan lain selain menyelesaikan semuanya. Kembali, ragu itu masih ada.

Perlahan, dia menggapai sebotol bir yang ada di atas meja. Tak tanggung, dia meneguknya dengan cepat sampai tak bersisa. Kadang, keadaan mabuk dan setengah sadar mampu meningkatkan adrenalin dan memupuskan keraguan. Setidaknya, itulah yang diharapkannya setelah menaruh kembali botol bir kosong itu di atas meja.

Di pandangnya foto pernikahan yang terpajang di dinding tepat di atas televisi. Sementara televisi masih menayangkan acara selebritis dan memuat segala kehidupan keseharian mereka. Di antara ketidak-peduliannya dengan televisi yang diharapkan bisa menghiburnya, dia teringat betapa manisnya hidup pernikahan mereka. Apa lagi ketika dia masih bekerja dan ekonomi keluarganya masih cukup terpenuhi..

Suatu hari, ketika mereka tengah makan malam di sebuah restoran mahal untuk merayakan satu tahun pernikahannya, lelaki itu berkelakar soal mengapa istrinya mau menikah dengannya.

“Alasan aku mau dinikahimu, itu sama dengan alasan mengapa kau mau menikahiku.” Si istri menjawabnya perlahan dan dengan nada pelan seperti berbisik. Kepalanya disodorkan dan mendekat ke arah wajah si lelaki. Si lelaki secara otomatis mencium bibir istrinya yang saat itu sangat merekah. Di momen seperti itu, ciuman jadi terasa berbeda bagi mereka. Kemudian, si lelaki balik tersenyum merekahkan bibirnya yang hampir tertutup kumis itu.

“Jadi, jika kau tak tahu jawabannya, pastinya aku pun takkan pernah tahu jawabannya!” lanjut si istri.

Sekonyong-konyong si lelaki menjelaskan bahwa alasan dirinya menikahi si istri karena si istri setia sejak mereka berpacaran. Kemudian, si lelaki menanyakan bahwa alasan itu juga-kah yang membuat si istri mau dinikahi olehnya? Si istri tak menjawab. Dia hanya mencium kembali bibir si lelaki yang terus bertanya.

“Makanlah. Makanan ini seharusnya tak bisa mengulur waktu kita. Kasur di kamar kita telah menunggu.” Kata si istri.

***

Si lelaki tersadar dari ingatannya karena telepon genggamnya kembali bergetar.

Dari: 08xxxxxxxxxx2

Bagaimana? Membingukan, bukan?

Begitulah.

Mata si lelaki mulai berlinang. Di antara kekacauan pikiran dan hatinya, dia akhirnya memutuskan untuk membuka paket itu. Dia akan memutuskan untuk mengisi sesutau ke dalamnya setelah memastikan paket itu benar-benar kosong.

Jantungnya jadi berdegup lebih kencang. Dalam keadaan itu, tangannya tak sama sekali jadi perlahan untuk membuka paket itu, seperti efek dalam film-film. Ketika tutup kotak kardus itu dibuka dan dia mendapati bahwa di dalamnya benar-benar kosong, dia sempat menghela napas dan mengembus lega karenannya. Namun tak lama, keanehan tetap muncul bahkan ketika dia sudah membuka kotak itu. Kenapa kotak ini bisa terasa sangat berat? Itu aneh, pikirnya. Kemudian, keringat mengucur setetes demi setetes lewat sela rambut menuju wajahnya yang memucat. Yang pada akhirnya ada dipikirannya adalah apakah dia benar-benar cukup bertanggung jawab?

“Apa yang harus diisikan ke dalamnya?” katanya bergumam.

Yang ada di hadapannya adalah botol bir, sebungkus rokok dan korek api, telepon genggam, dan remot televisi. Apakah salah satu benda itu, gumamnya. Namun, tiba-tiba telepon itu berdering tanda panggilan masuk. Masih nomor tak dikenal itu.

Dia memencet tombol untuk mengaktifkan panggilan tersebut. Dengan tenang dia mencoba mendengarkan. Dari telepon genggam itu terdengar suara perempuan. Suara itu adalah suara yang amat dikenalnya, yang tidak lain adalah suara mantan istrinya. Suara itu terus melafalkan kata “setia” dengan berbagai nada dan kecepatan:

“s. e. t. i. a./setia-setia-setia/se-ti-a/set-ia/s-e-t-i-a!

Si lelaki tercangean karena suara itu hanya melafalkan kata itu, dan terus seperti itu. Si lelaki makin merasa heran. Karena tak kunjung berhenti, dia berusaha untuk menyingkirkan suara itu dengan mengakhiri panggilannya. Namun sekeras apa pun dia berusaha dia tidak bisa melakukannya. Dia mencoba melemparkan telepon genggam itu. telepon genggam itu hancur, tapi suara itu tetap terdengar. Dia mencelupkannya ke air, menindihnya dengan bantal, memukul telepon itu dengan botol bir, bahkan meninggalkan telepon genggam itu di dapur. Akhirnya, dia sadar kalau semua usahanya percuma. Suara itu masih terdengar.

Terakhir, dia berpikir untuk mencoba memasukkan telepon itu ke dalam kotak paket. Dia berharap bahwa itulah yang harus dilakukannya untuk bertanggung jawab. Tapi, suara itu tetap saja terdengar dan seakan terus menyiksanya. Wajahnya yang pucat semakin dibanjiri keringat. Kedua tangannya berusaha terus menutupi telinga agar suara itu tak lagi didengarnya.

“Apa yang harus kulakukan? Suara ini…suara ini ada di kepalaku!” lelaki itu kemudian berteriak kencang sekali.

***

Lelaki itu terbangun dari tidurnya sambil berteriak. Wajahnya berkeringat. Istrinya ikut terbangun mendengar teriakan yang bahkan bisa membangunkan orang satu blok perumahan tempat mereka tinggal. Kemudian, dengus napas yang cepat dan bersuara keras keluar dari hidung dan mulut si lelaki.

“Aku bermimpi kalau kita bercerai. Dan itu sangat seram!” Kata si lelaki.

“Sudahlah. Itu Cuma mimpi, dan semoga akan tetap jadi mimpi.”

“Tapi…”

“Tak ada tapi, kecuali kau menginginkannya!”

Istrinya langsung mengubah posisi tidurnya jadi membelakangi si lelaki. “Apa maksud dengan ‘kecuali kau menginginkannya?”, gumam si lelaki. Sambil tidur memandangi layar telepon genggamnya, dia terdiam dan mulai menenangkan diri. Baginya malam ini akan menjadi malam yang panjang, karena pagi hari nanti dia sudah tak mesti bekerja lagi.

Bogor, Agustus 2020

Deden Fahmi Fadilah
Deden Fahmi Fadilah, seorang guru.

Leave A Reply

Your email address will not be published.