Take a fresh look at your lifestyle.

PUISI-PUISI AHMAD GINANJAR

188

PERTEMUAN MAHASISWA

mahasiswa berkumpul
bertukar rencana dan gagasan
bagaimana menangkan perang
dalam mobile legend.

pertemuan mahapenting itu
dijejali adu-pendapat berbahasa nir-santun
entah alasan apa, nama-nama binatang
mampu menyampaikan maksud bincang.

tangan mereka dirampas smartphone
tak sebebas tangan pemuda pemungut sampah plastik

mata mereka bergulir dan awas sekali pada layar
tak secekatan mata petani
yang memilah rumput hama dan padi

mulut mereka terus saja bicara kosakata asing seputar game
tak sefasih guru yang kering tenggorokannya
mengajarkan huruf, kata, dan kalimat ke anak-anak nakal.

amboy, mahasiswa
naik level mobile legend
sepertinya lebih menantang dan menarik perhatian kalian
daripada meningkatkan level bangsa ini
ke tangga yang tinggi derajatnya.

aku jadi ingin bertanya
mana yang lebih genting bagimu,
game over pada gawaimu,
atau kata tamat pada nasib di sekelilingmu?

(2019)

BERKEMAH

aku ingin mendirikan tenda
di jalanmu
sekadar istirahat
menjernihkan siasat
agar selanjutnya tak lagi tersesat

panaskan tendaku dengan mataharimu
hingga cintaku matang sempurna padamu

hujani aku selebat kesedihan
sampai gigil
sehingga aku gagal
mengigaukan selain namamu

aku ingin terus berkemah
di sini
sampai anginmu merubuhkan tenda
lalu kuakhiri menunda
temukan semua tanda.

(2019)

MERAWAT RINDU

kita mesti mengasing diri
jauh dari rumah sesekali
merentangkan jarak
perbanyak gerak

berjalan jauh ke luar rumah
meyakinkan bahwa
tak ada yang lebih hangat
dari suhu rumah sendiri

tambah pula
kembali sederhanakan rindu
yang tercemar polusi
sehingga kita cukup punya bahasa
tak rumit
bahwa rindu adalah temu.

(2019)

MENGASINGKAN DIRI

–di alun-alun Suryakancana

perjalanan ini upaya mengasingkan diri
menghindari pikiran-pikiran
yang dikacaukan penguasa

dari jarak sejauh ini dari kota
aku terbebas dari janji-janji mereka
yang dipaku lukai pohon-pohon

telingaku dijernihkan dari pidato kenegaraan
yang tak mengandung kebahagiaan
dan mengundang keberanian.

batinku disucikan dari hasrat menggunjing tetangga,
alasan pemogokan supir angkutan,
juga hardikan orang tua siswa
yang ingin anaknya baik
tapi murka saat dididik
dengan cara tidak laik.

aku menyepi di sini
dari keramaian yang bahaya.

(2019)

*Ahmad Ginanjar, Penyair asal Cianjur dan alumni Pascasarjana Universitas Suryakencana, Cianjur. Pernah mengikuti pertemuan sastrawan Mitra Praja Utama (2017) dan Majelis Sastera Asia Tenggara (2017).

Leave A Reply

Your email address will not be published.