Take a fresh look at your lifestyle.

18 FEBRUARI 2007

291

Oleh: Shatrani Zafira Latifa Akbar

Seorang anak perempuan dari ibu yang berprofesi sebagai guru dan ayah seorang wartawan swasta. Saya memiliki seorang kakak laki-laki dan saudara kembar perempuan. Saya dan kembaran saya lahir di Rumah Sakit Puri Cinere, Jakarta 18 Februari 2007. Pada kesempatan ini, saya akan sedikit bercerita tentang seputar kelahiran kami.Awal tahun 2007 sepertinya tidak bersahabat bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Pasalnya saat itu, Jakarta direndam banjir sangat parah.

Kamis, 1 Febriari 2020 tidak ada yang menyangka bahwa air akan mengalir begitu deras dan cepat. Air yang terkumpul dari 13 sungai yang melintasi Jakarta menyergap begitu saja. Drainase yang buruk menjadi pendukungnya. Akibatnya 60% wilayah Jakarta basah. Kendaraan harus berhenti, apalagi yang beroda dua.

Warga yang terdampak lebih dari separuh Jakarta. Akses-akses jalan utama tak luput dari amuk air yang kian meninggi. Evakuasi sempat terhalang. Suasana yang tadinya ramai menjadi sepi. Hanya kendaraan besar yang bisa lewat. Malamnya, hanya gelap melanda. Listrik mati selama tiga hari. Ragam aktivitas perkantoran sempat lumpuh. Jaringan internet dan telepon juga terganggu. Di tenda-tenda pengungsian, wagra berjubal menunggu bantuan.

Hasilnya, lebih dari 82 ribu meter persegi jalan di Jakarta rusak. Jalur kereta api ikut rusak. Lebih dari 1000 rumah hanyut. Dan kerugian setelah banjir ini diperkirakan tembus di angka triliunan. Banjir ini tak hanya di Jakarta. Daerah penyangga ibukota seperti Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor juga terkena imbasnya.

 Selain banjir, pada bulan Januari dan Februari 2007 silam terjadi bencana alam angin puting beliung yang melanda banyak daerah di Indonesia. Pada tanggal 18 Februari 2007, terjadi angin puting beliung yang mengguncangkan daerah Cinere. Pada saat kejadian itu, ada dua anak kembar yang baru lahir. Mereka sedang berada di dalam ruang inkubator rumah sakit.

Begitu kencangnya angin puting beliung, sangat mengejutkan warga sekitar, termasuk para perawat dan dokter. Seisi rumah sakit menjadi panik. Alat-alat mulai bergoyang terkena angin dan semua orang mulai berlarian menyelamatkan diri.

Namun pada saat saat yang sama, seorang nenek dengan berani malah datang ke ruang bayi. Bersama dengan keluarganya, nenek itu menyelamatkan para bayi lainnya yang masih berada di dalam ruangan. Ruangan itu pun tak luput dari angin. Sesaat kemudian, ruangan tersebut kacanya pecah dan atapnya ambruk. Untung para bayi sudah dievakuasi ke tempat yang lain.

Di sudut yang lain, seorang pemuda yang kebetulan sedang memegang kamera, merekam semua adegan yang terjadi pada saat bencana tersebut. Dalam rekamannya, terlihat bagaimana seisi rumah sakit dibuat berantakan oleh angin puting beliung. Semua ketakutan. Alat-alat kesehatan dan barang-barang yang ada di rumah sakit beterbangan dan berantakan.

Ketika keadaan sudah mulai membaik, satu per satu perawat, dokter, dan orang-orang yang ada di rumah sakit lainnya mulai menenangkan diri dan membantu untuk merapikan ruangan. Rekaman video kejadian diberikan kepada ayah kami dan ditayangkan lewat saluran telivisi swasta. Melihat berita tersebut, pihak rumah sakit sangat berterima kasih. Berkat bukti peristiwa yang ada di dalam rekaman video tersebut, pihak rumah sakit mempunya bukti untuk asuransi peralatan dan semua fasilitas lainnya. Perekam itu om saya dan yang menyiarkannya adalah ayah saya melalui tempat beliau bekerja.

Sebagai rasa terima kasih, pihak rumah sakit meringankan biaya kelahiran kami. Orang tua kami hanya harus membayar dengan total penuh pembayaran sebesar Rp.50.000. Hal tentang pembayaran kelahiran itu hanya diketahui oleh kedua orang tua kami awalnya. Tidak boleh diberi tahu ke anggota keluarga dengan alasan apapun. Sampai pada akhirnya, hal itu diberi tahu kepada yang lainnya pada saat sudah berumur enam tahun. Dalam perjalanan hidup kamI yang sudah memasuki tiga belas tahun, kami bersyukur telah melewati masa itu. Ketika kami mengingatknya kembali, kami selalu bersyukur karena bisa selamat dan terus bernapas hingga kini. Begitu banyak peristiwa yang mengiringi kelahiran kami. Banjir, angin puting beliung. Apakah itu sebuah pertanda? Pertanda apa? Yang penting, doa kami, semoga kami selalu bisa menjalani hidup dengan kuat dan bermanfaat.

Shatrani Zafira Latifa Akbar,
Kelas 8 SMP Ar Ridha Al Salaam, Depok
Suka menulis dan edit video
Intagramku : @shtrani.zr
1 Comment
  1. Virgie JB says

    Anak perempuan hebat dari awesome parents 😄 Great story!

Leave A Reply

Your email address will not be published.