Take a fresh look at your lifestyle.

PENYUTRADARAAN

29

  

Istilah sutradara tentu sudah menjadi istilah umum yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Sutradara merupakan salah satu bagian dalam pertunjukan, termasuk pementasan drama. Tentu banyak orang pasti mengetahui apa itu sutradara, bahkan mengetahui nama-nama sutradara. Namun, tidak banyak orang tahu perihal penyutradaraan.

Bukan hanya dalam film, dalam pementasan drama pun peran sutradara sangatlah penting. Sutradara menjadi orang yang bertanggung jawab dalam keseluruhan proses produksi pementasan drama. Ada beberapa tugas-tugas sutradara yang dijalankan mulai dari proses praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi. Tugas-tugas tersebut kemudian dapat kita sebut sebagai bagian dari penyutradaraan.

Sebelum masuk ke dalam penyutradaraan, kita harus memahami terlebih dahulu tentang apa itu sutradara. Menurut KBBI, sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab atas masalah artistik dan teknis dalam pementasan drama, pembuatan film, dan

sebagainya. Seorang sutradara memiliki beberapa tugas yang harus dikerjakan agar suatu pertunjukan berjalan dengan lancar, baik dari segi artistik maupun teknis. Maka dari itu dapat kita simpulkan bahwa penyutradaraan adalah proses penggarapan suatu pertunjukan yang dilakukan oleh sutradara, baik dari segi artistik maupun teknis, serta memberikan arahan agar pertunjukan berjalan lancar.

Dalam buku Play Direction (1955: 3), John E. Dietrich mengemukakan bahwa penyutradaraan adalah sebuah seni (art) dan suatu keahlian atau keterampilan (craft). Hal ini dikarenakan tugas sutradara yang tidak hanya berhubungan dengan seni saja. Seorang sutradara juga harus terampil dalam menggarap karya yang akan ia tampilkan bersama timnya. Seorang sutradara (director) haruslah seorang organisator terhadap pikiran-pikiran, konsepsi-konsepsi, penafsiran-penafsirannya terhadap naskah lakon, mimpi-mimpi atau imajinasinya; serta organisator dan pimpinan bagi kelompok (grup) teater yang dipimpinnya. Ia harus sederhana, walaupun menjadi orang yang penting. Ia harus akrab dengan seluruh kerabat teater dan penonton. Seorang sutradara merupakan apa yang disebut the stimulating element of a theatrical company,

atau istilah Derek Bowskill (1973:265), sutradara adalah “a creator of possibilities”.

Mengapa Derek Bowskill menyebut demikian? Seorang sutradara memang harus mampu menciptakan berbagai kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan tersebutlah yang dapat merangsang berkembangnya elemen-elemen yang ada dalam produksi teater. Bukan hanya anggota, melainkan semua unsur dalam penggarapan teater. Oscar Brockett (1964:363) kemudian menyebutkan bahwa terdapat lima fungsi sutradara, yaitu:

  1. melakukan penafsiran terhadap naskah lakon,
  2. memilih para pemeran (casting),
  3. melakukan kerja sama dengan penulis naskah, penata pentas, dan lain-lain dalam merencanakan pementasan,
  4. melatih (memimpin latihan) para pemeran, dan
  5. menjadi koordinator dalam menyelesaikan tugas-tugas terakhir.

Kelima fungsi tersebut dapat kita hubungkan pula dengan tugas yang diemban oleh sutradara. Pertama, seorang sutradara harus mampu melakukan penafsiran naskah lakon. Hal ini berkaitan dengan apa yang akan disampaikan dalam naskah kepada penonton.

Sutaradaralah yang berperan sebagai menafsirkan tulisan menjadi suatu pertunjukan.

Oscar G. Brockett berpendapat bahwa sutradara mempunyai kebebasan untuk menafsirkan, mengubah, dan memberi penekanan lain dari apa yang telah digambarkan dalam naskah lakon sesuai dengan penafsirannya. Sutradara bisa menciptakan kembali atau membangun penafsiran-penafsiran baru terhadap a central visual device or a key image. Sebaliknya, Boen S. Oemarjati (1971: 211) mengemukakan seorang sutradara tidak berhak sedikitpun untuk mengobrak-abrik makna yang dihayati penulis lakon dengan cara memaksakan interpretasi dan tanggapannya. Nilai kreatif sutradara terletak justru dalam penfsirannya terhadap pesan lakon dan metode produksinya. Lain halnya dengan Putu Wijaya maupun Arifin C. Noer sebagai penulis naskah lakon, mereka tidak keberatan jika sutradara menafsirkan lain dari naskah lakonnya.

Kedua, memilih peran. Seorang sutradara harus mampu memilih pemeran yang tepat untuk naskah yang telah ia tafsirkan. Pemilihan peran sangat krusial dalam pementasan teater, karena pemeranlah yang akan berperan sebagai penyampai pesan yang telah sutradara tafsirkan dari suatu naskah kepada penonton.

Masuk ke fungsi sutradara yang ketiga, sutradara harus melakukan kerja sama dengan penulis naskah, penata pentas, dan lain-lain dalam merencanakan pementasan. Walaupun ada pimpinan produksi yang bertugas mengoordinasi seluruh anggota tim produksi, sutradara pun harus melakukan kerja sama yang baik. Bahkan, memasuki fungsi sutradara yang keempat dan kelima, sutradara harus mampu melatih dan/atau memimpin latihan para pemeran serta menjadi koordinator dalam menyelesaikan tugas- tugas akhir.

Oleh karena itu, penyutradaraan merupakan proses yang tidaklah singkat. Terdapat banyak tugas-tugas yang harus dilakukan sutradara, bukan sekadar mengarahkan pemeran dalam bermain peran semata. Penyutradaraan merupakan bagian krusial dibalik suksesnya suatu pertunjukan.

A.                Langkah-Langkah Penyutradaraan

Penyutradaraan merupakan serangkaian proses yang harus dilakukan oleh sutradara dalam menggarap suatu pertunjukan teater. Oleh karenanya, terdapat langkah- langkah yang dilakukan dalam penyutradaraan, yaitu sebagai berikut.

1.         Seleksi Naskah

Pertama-tama, sutradara harus menyeleksi naskah terlebih dahulu. Ia harus betul-betul memilih naskah mana yang kiranya akan ditampilkan. Pertimbangan tersebut dapat didasarkan tujuan yang ingin disampaikan, situasi, kondisi, dan lain sebagainya. Namun, hal itu tidak mutlak dilakukan. Banyak sutradara yang memilih langsung naskahnya, bahkan sutradara membuat, menerjemahkan, mengubah, atau mengadaptasi naskah.

2.         Penafsiran Naskah Lakon

Sutaradara diharuskan menafsirkan naskah lakon. Dalam praktiknya, sutradara memberi kesempatan ke seluruh anggota teater untuk bersama-sama menafsirkan naskah yang akan dipentaskan.

3.         Percobaan

Sebelum teater dipertunjukkan secara resmi, hasil penafsiran harus diuji coba terlebih dahulu. Dari hasil uji coba ini, kita dapat melihat kekurangannya untuk direvisi sebelum pementasan resmi.

  • Menentukan Pemeran (Casting)

Casting ialah penentuan pemain berdasarkan analisis naskah yang hendak dipentaskan. Casting dilakukan atas hal berikut.

  1. Kemampuan atau kecakapan

Pemeran harus mampu dan terampil saat memerankan tokoh. Artinya pemeran ditentukan dari seberapa terampilnya seorang untuk memerankan tokoh.

  • Fisik atau jasmani

Pemilihan didasarkan kecocokan fisik si pemain dengan tokoh yang ada dalam naskah.

  • Antifisik atau antijasmani

Pemilihan didasarkan pada kenyataan fisik atau jasmani pemain yang bertentangan dengan peran yang dibawakan.

  • Emosi atau perangai

Pemilihan dilihat dari kecocokan pemain dengan tokoh yang akan dia perankan.

  • Pengobatan

Pemilihan yang bertentangan dengan watak aslinya.

5.         Menyelenggarakan Latihan dan Pengulangan Latihan

Setelah pemeran ditentukan, kini pemeran-pemeran tersebut harus melakukan latihan, lalu diulang terus- menerus agar bermain dengan semakin baik.

6.         Melaksanakan Pertunjukan

Pada tahap ini, bukan berarti tugas sutradara selesai. Dalam pelaksanaan pertunjukan pun seorang sutradara masih tetap bertugas seperti bagian lainnya. Saat melaksanakan pertunjukan, sutradara memang tidak banyak turun tangan, tetapi ia memberi komando, motivasi, dan arahan-arahan.

7.         Evaluasi

Setelah pertunjukan selesai, barulah sutradara melakukan evaluasi terhadap apa yang telah ia dan tim tampilkan, selain itu penonton yang sungguh-sunguh menonton tentu bukan sekadar orang yang duduk dan melihat pementasan, namun lebih dari itu mereka akan melakukan pengevaluasian secara tidak langsung. Banyak penonton yang akan berkomentar, menulis di media massa dari apa yang dia saksikan.

B.                Teori Penyutradaraan

  1. Ada tiga model sutradara
    1. Sutradara sebagai pemimpin tunai, penafsir utama naskah lakon, dan konseptor (pencipta gagasan baru).
  1. Sutradara sebagai koordinator. Tugasnya mengoordinasi kegiatan kreativitas seluruh kerabat kerja teater.
    1. Sutradara sebagai polisi lalu lintas. Tugasnya sekadar mengatur dan mengawasi jalannya kegiatan kreativitas seluruh kerabat kerja teater.
  • Ada tiga sifat penyutradaraan
    • Mutlak (absolut), di mana setiap anggota dalam tim produksi harus tunduk dengan segala perintah sutradara.
    • Tidak mutlak (nisbi, relatif), di mana kerabat kerja dan pemain diberi kesempatan untuk menafsirkan naskah dan berkreasi terlebih dahulu, kemudian mendiskusikannya pada sutradara.
    • Bebas, di mana sutradara betul-betul membebaskan kreativitas seluruh anggotanya. Di sini, sutradara hanya berperan sebagai pengawas.
  • Sutradara hendaknya memiliki pengetahuan yang luas tentang:
    • Pengetahuan umum tentang ilmu kemasyarakatan, ilmu jiwa, ilmu pendidikan, filsafat, agama, sejarah dan ilmu bangsa-bangsa.
    • Pengetahuan tentang kebudayaan dan seni
    • Pengetahuan tentang drama

sumber : Buku Drama dalam Drama, Penulis Wildan F. Mubarock, Aam urjaman, Sri Rahayu Dwiastuti Angga Yuda Septiyan Teater Gandjil

Leave A Reply

Your email address will not be published.