Take a fresh look at your lifestyle.

Seni Peran (Aktor)

296

SENI PERAN

Seni peran dapat kita sebut juga dengan pemeranan. Seorang pemeran yang melakukan pemeranan dapat disebut dengan aktor, aktris, pemain, tokoh, dan seterusnya. Apabila pemeranan tidak ada maka sebuah pertunjukkan yang memukau tidak akan hadir. Namun, perlu digarisbawahi tidak semua pertunjukkan yang memukau dapat menarik perhatian penonton secara sempurna. Hakikat yang paling penting dalam seni peran adalah meyakinkan (make believe). Jika berhasil meyakinkan penonton bahwa apa yang sedang dilakukan aktor adalah benar, paling tidak, itu sudah cukup. Sebagai alat aktor yakni tubuh atau raga dan jiwa atau sukma harus terus menerus dilatih dan diasah agar siap dalam menghadapi, menggali, dan memainkan peran.

Dalam berperan memang bakat diperlukan, namun penguasaan bermain dapat menutupi kekurangan seorang aktor dalam hal bakat. Walaupun seorang pemeran memiliki bakat apabila tidak diasah maka ibarat pisau, bakat akan berkarat sehingga seorang aktor maupun aktris tidak siap

untuk memainkan perannya. Lalu apakah seorang yang tidak memiliki bakat tetap bisa untuk bermain teater?

Jawabannya adalah bisa. Meskipun tidak memiliki bakat, seseorang tetap bisa bermain teater asal rajin berlatih. Oleh karena itu, aktor ataupun aktris dapat bermain berdasarkan bakat atau teknik bermain. Jika aktor atau aktris telah memiliki bakat untuk berakting atau berperan maka ia harus siap untuk mengawinkan bakatnya dengan teknik bermain peran. Apabila hal tersebut tidak bisa ia lakukan maka akan berdampak pada permainan perannya yang bisa jadi semakin buruk ketika ia tidak tahu persoalan tentang teknik.

Seorang aktor harus melakukan pengamatan dan penelitian apabila ingin berperan dengan baik. Pada mulanya, aktor adalah seorang peneliti. Aktor harus mengamati dan meneliti berbagai aspek yang ada di lingkungan sekitarnya. Penelitian itu dapat dimulai dari aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek budaya. Setelah melakukan pengamatan sedemikian rupa aktor atau aktris harus melatih tubuhnya. Mengapa? Agar penonton yakin dengan apa yang diperankannya. Misalnya untuk menjadi kakek, seorang aktor harus melatih tubuhnya agar menjadi seperti seorang kakek. Bukan harus bongkok-bongkok, tapi

bertindak serta bersikap sesuai tubuh dan jiwa seusia kakek tersebut. Jadi, setelah aktor mendapatkan perannya maka yang harus dilakukan adalah seperti berikut.

  1. Membaca naskah dengan seksama
  2. Mengetahui identitas tokoh yang akan diperankannya (usia, jenis kelamin, material status, pendidikan, maupun asal etnis-geografis, biografi).
  3. Mengetahui latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya (cara bicara, logat), dan segala atribut yang menyertainya. Seperti cara berpakaian, sikap, dan pandangan hidupnya, serta nilai moral/sosial budaya. Misal, ada tokoh yang tidak mungkin memakai warna merah karena warna merah dalam kondisi sosial budayanya dianggap sakral. Atau mungkin didekat rumahnya banyak banteng, dia tidak mungkin memakai baju warna merah karena bisa dikejar-kejar banteng yang marah.
  4. Mengetahui alasan dan tujuan dan keberadaan tokoh yang diperankan.

Selain itu dalam seni peran dikenal dengan teknik yang dapat digunakan oleh aktor. Teknik adalah cara, metode dan strategi dalam melaksanakan atau menyelesaikan sesuatu kegiatan dengan baik dan benar. Teknik

pemeranan dapat dipahami sebagai suatu cara, metode atau cara untuk mengoptimalkan keterampilan potensi pikir, perasaan, vokal dan tubuhnya dalam membawakan peran atau tokoh dengan totalitas dan penuh kesadaran, sehingga diperoleh manfaat dalam meningkatkan akting atau seni peran dari suatu tokoh atau peran yang diekspresikan.

Pembelajaran teknik pemeranan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang dilakukan Boleslavsky melalui aplikasinya dilakukan melalui tahapan- tahapan teknik pemeranan seperti berikut ini.

A.                Olah Tubuh

Olah tubuh adalah pembelajaran praktik melalui pengolahan atau pelatihan agar tubuh kalian memiliki stamina yang kuat, kelenturan tubuh dan daya refleks tubuh. Dalam hal ini jelas, kalian harus memakai pakaian latihan (olahraga).

  1. Stamina (KekuatanTubuh)

Kekuatan tubuh adalah pelatihan pada tubuh agar kalian memiliki ketahanan fisik dan pernapasan yang sehat. Dengan pembimbingan aktor berlari beberapa keliling sesuai dengan luas lapangan atau sesuai dengan luas ruangan (kalau di dalam gedung). Lalu aktor dapat melatih

pernapasan dengan cara menarik dan membuang udara pernapasan melalui hidung dengan dada, diagfrahma dan perut kembung kempis. Setelah melakukan pengolahan daya tubuh dilanjutkan dengan aktifitas peregangan bagian otot tubuh.

  • Streching (Peregangan)

Peregangan adalah pengolahan atau latihan pada bagian otot-otot tubuh agar lentur dan mempunyai daya gerak refleks. Latihannya, dengan bimbingan mulai dari mata, mulut, muka, leher, bahu, dada, pinggul, pantat, lengan, pergelangan tangan, jari tangan, paha, kaki, dengkul kaki, betis, engkel kaki, tumit, dengan cara digerak- gerakan atas-bawah, kanan-kiri, putaran, ke luar ke dalam atau dengan cara penguncian dengan 2×8 hitungan. Setelah melaksanakan peregangan latihan dilanjutkan dengan menjaga keseimbangan tubuh.

  • Keseimbangan Tubuh

Pelatihan keseimbangan tubuh membekali seorang aktor agar dilatih kemampuan otak dalam menguasai tubuhnya. Tumpuan pada keseimbangan tubuh ini ditekankan pada kekuatan kaki. Latihannya, dengan bimbingan para aktor melaksanakan gerakan berdiri dengan dua kaki, satu kaki, dengan posisi tangan bisa di

pinggang atau lepas seperti terbang. Cara berlatihnya yaitu dengan diam beberapa hitungan, berdiri atas bawah, dengan penguncian atau dengan staccato (patah-patah). Setelah melaksanakan latihan keseimbangan tubuh dilanjutkan pada olah suara.

B.                Olah Suara

Olah suara adalah praktik pengolahan atau pelatihan elemen-elemen yang berhubungan dengan suara melalui teknik pernapasan dan pengucapan agar para aktor memiliki artikulasi yang jelas, intonasi suara, dinamika suara, dan kekuatan suara.

  1. Artikulasi

Artikulasi dapat diartikan kejelasan dalam pengucapan kata-kata agar yang dikatakan menjadi jelas dengan apa yang diterima pendengarnya. Latihannya, dengan bimbingan aktor melaksanakan pengucapan kata-kata bersuara atau tidak bersuara dengan tempo yang berbeda- beda untuk membantu pengolahan suara melalui mulut dan bibir secara diulang dengan pernapasan yang teratur. Berikutnya latihan terfokus pada materi intonasi.

  • Intonasi

Intonasi suara adalah irama suara dengan penekanan mengucapkan kata-kata sehingga dihasilkan pengucapan yang tidak monoton atau kesan datar. Latihannya, dengan bimbingan para aktor mengucapkan sebuah kalimat atau dialog yang pendek dengan cara diulang dan melaksanakan tekanan pada salah satu kata yang dianggap penting.

Contohnya:

Pagi ini hujan tidak turun. (Penekanan pada kata pagi ini)

Pagi ini hujan tidak turun. (Penekanan pada kata hujan) Pagi ini hujan tidak turun. (Penekanan pada kata tidak turun).

Setelah kalian berlatih intonasi dilanjutkan pada materi dinamika.

  • Dinamika

Dinamika suara adalah tempo pengucapan suara dengan cara cepat-lambat-sedang (wajar) dari sebuah kalimat. Latihannya, para aktor dengan bimbingan mengucapakan sebuah kalimat atau dialog yang pendek dengan cara diulang dan melaksanakan perubahan tempo pengucapan pada salah satu kata yang dianggap penting.

Contohnya:

Pagi ini hujan tidak turun. (Ucapkan dengan cepat) Pagi ini hujan tidak turun. (Ucapkan dengan lambat) Pagi ini hujan tidak turun. (Ucapkan dengan sedang).

  • Power / Kekuatan

Kekuatan suara adalah keras lemahnya suara yang dihasilkan dari pengucapan suatu kata atau kalimat. Latihannya, para aktor dengan bimbingan mengucapkan sebuah kalimat atau dialog yang pendek dengan cara diulang dan melaksanakan pengucapan terdengar tidaknya apa yang dikatakan, tetapi tidak berteriak.

Contohnya:

Pagi ini hujan tidak turun. (Ucapkan dengan suara keras)

Pagi ini hujan tidak turun. (Ucapkan dengan suara lemah)

C.                Olah Rasa (Sukma)

Olah rasa adalah suatu proses latihan yang menempatkan perasaan sebagai objek utama dari pengolahan/latihan. Latihan dilakukan untuk menggali “Potensi Dalam” agar dapat diatur dan dikendalikan sesuai dengan kebutuhan emosi peran.

Fungsi latihan olah rasa di sisi lain akan mampu membangun kejujuran rohani dan pembebasan rohani dari hal-hal yang mengikat dan membatasi. Selanjutnya pembebasan itu diharapkan membantu sikap perasaan untuk melahirkan ide-ide atau ilham dan kreativitas pemeranan. Adapun materi latihan yang kalian harus dilakukan antara lain seperti berikut.

  1. Teknik Konsentrasi

Konsentrasi adalah gerbang yang sangat menentukan kelangsungan mengatur dan mengendalikan fenomena psikologis seorang aktor dalam menguasai peran. Pada bagian ini (konsentrasi) seorang aktor akan berupaya mengalienansi (mengasingkan) dirinya dari kehidupan nyata yang dijalaninya sehari-hari untuk selanjutnya ia akan menimbulkan segala cipta, rasa, dan karsanya pada satu pusat perhatian. Pada dasarnya ajaran konsentrasi adalah ajaran mengenai penguasaan/pengendalian diri atau pemusatan pikiran serta rohani kita pada apa yang akan dan sedang kita lakukan dalam waktu yang kita perlukan. Latihan yang dapat dilakukan aktor adalah mengosongkan pikiran, pemusatan pikiran pada suatu objek, misalnya lilin yang menyala, bunga, kursi, warna, bunyi, suara, kucing, dan harimau. Pemusatan pikiran pada peristiwa tertentu

secara khayal.

  • Pengindraan

Kemampuan peralatan tubuh dalam merespon atau bereaksi pada berbagai hal terutama yang berhubungan dengan sifat-sifat, yaitu sebagai berikut.

  • Mata, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek penglihatan (visual).
    • Hidung, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek aroma (penciuman).
    • Telinga, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek suara/bunyi (pendengaran).
    • Lidah, berfunsi untuk menangkap dan bereaksi pada rasa (taste): manis, asin, pahit, masam dst. (pengecapan).
    • Tubuh, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada sentuhan/ rabaan.

Seluruh kemampuan panca indra dalam hubungan olah rasa senantiasa ditujukan untuk membangun kepekaan rasa yang nantinya hadir sebagai rangsangan emosi dalam teknik pemeranan.

  • Kepekaan Sukma/Rasa

Tahapan pembelajaran/latihan bagian ini adalah tujuan utama dari latihan olah rasa, di mana sejak diawali tahapan konsentrasi, meditasi dan pengindraan maka diharapkan kalian memiliki suatu kepekaan sukma/rasa atau penghayatan batin yang mampu menghadirkan keterampilan mengatur/mengendalikan permainan emosi kapan saja bila diperlukan. Rasa/sukma adalah kekuatan dalam dari aktor yang lalu ditampilkan kepada penonton melalui media-media mime (mimik/air muka), gesture (gerak-gerik tubuh), emosi suara (dialog), laku dramatik, dan karakter atau perwatakan. Media-media di atas secara langsung atau tidak langsung absolut dapat dihadirkan sebab ada dorongan perasaan yang melatarbelakanginya. Dorongan perasaan itu di antaranya melalui latihan kepekaan emosi rasa sedih, rasa takut, rasa marah, rasa gembira, dan rasa benci.

  • Imajinasi

Imajinasi adalah kemampuan dalam menciptakan daya khayal sebagai hasil kepekaan ingatan emosi dari kehidupan sehari-hari, perumpamaan (metaforik) pada binatang, tumbuhan, unsur alam atau hasil sebuah perenungan mendalam yang mampu menghadirkan

khayalan positif. Latihan dapat dilakukan dengan bimbingan kemudian berimajinasi melaksanakan kegiatan keseharian, seperti orang berjumpa (jabat tangan–memeluk), orang berpisah jauh (melambaikan tangan), dan orang berpapasan (senyum–membungkukkan badan), dan sebagainya.

D.                Ruang

Pengertian ruang dalam seni teater adalah tempat bermain peran (acting) dengan lingkup peralatan dan perlengkapan dekorasi yang dihadirkan di atas pentas. Tempat bermain peran dapat dilakukan di lapang, di dalam kelas atau khusus diciptakan di atas panggung pertunjukan. Ruangan ini oleh pemeran wajib diisi dan dihidupkan menjadi satu kesatuan yang utuh, sehingga mendukung peran yang dibawakan. Teknik di dalam mengisi dan menghidupkan ruang untuk seorang pemeran adalah kemampuan merespons kepekaan blocking, moving, businees, dan leveling pada ruang dan lawan main.

  1. Blocking

Blocking berhubungan dengan latihan-latihan untuk mendukung elemen artistik, di mana para pemeran wajib memiliki kepekaan ruang. Artinya para calon aktor wajib

dilatih bagaimana memosisikan dirinya pada wilayah pentas, terutama apabila pentas diisi lebih dari satu orang pemeran.

  • Movement

Movement artinya bergerak atau berpindah tempat. Kata “moving” dikenal juga dengan movement yaitu pergerakan atau pindah tempat yang dilakukan pemain di atas pentas. Pergerakan atau perpindahan tempat untuk seorang pemeran/pemain dapat dilakukan ke depan, ke samping, ke belakang, mendekat atau menjauh asalkan perpindahan yang dilakukan pemain tidak menutup atau menghalangi pemain lain. Movement dapat dilakukan dengan cara berikut ini.

  • Lintasan ke depan pemain, dengan garis lintasan lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zig-zag atau gabungan.
    • Lintasan ke belakang pemain, dengan garis lintasan lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zig-zag atau gabungan.
    • Lintasan ke samping pemain, dengan garis lintasan lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zig-zag atau gabungan.
  • Lintasan mendekat–menjauh dari pemain, dengan garis lintasan lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zig-zag atau gabungan.
    • Lintasan menjauh–mendekat kepada pemain, dengan garis lintasan lurus horizontal, lurus vertikal, lurus diagonal, melingkar, zig-zag atau gabungan.
    • Businees

Businees atau bisnis adalah usaha yang dilakukan pemeran dalam membunuh dari rasa membosankan atau kejenuhan atau kebingungan atau kekakuan dalam berbuat sesuatu dalam mengisi luang atau kekosongan waktu yang ada. Dengan kata lain bahwa businees adalah suatu tindakan atau upaya menanggapi pada peran yang dibawakan dengan pertolongan handprop atau peralatan tangan (benda yang digunakan), seperti mengambil pisang- dialog-dikupas-dialog-dimakan-buang kulit pisang-dialog dan seterusnya.

  • Leveling

Istilah leveling atau dari asal kata yakni tingkatan atau undak-undak. Maka dalam konteks seni peran (teater) pengaturan tinggi rendah pemain dalam ruang pentas. Pengaturan tinggi rendah pemain baik personal atau grouping selalu dilakukan bahwa pemain yang berada di

belakang pemain lain hendaknya mempunyai kesadaran wajib lebih tinggi dan pemain yang berada di depannya memberikan level lebih rendah dalam adegan pemeranan agar keduanya tampak menguntungkan terlihat oleh penonton. Sesungguhnya untuk pertunjukan apapun termasuk seni teater, audiensi (penonton) akan memperoleh kesan mendalam apabila menonton sebuah pertunjukan baik, manakala pertunjukan itu dimainkan oleh para pemain yang berkarakter. Pelaksanaan latihan teknik laku dramatik atau karakter pada bagian akhir digunakan naskah atau skenario, dan tema lakon atau tema cerita yang dibawakan sebagai sumber acuan.

E.                 Unsur-unsur Pemeranan Teater

Selain itu terdapat unsur-unsur dalam pemerenan seni teater, yakni sebagai berikut.

  1. Lakon

Kedudukan lakon, cerita, atau naskah adalah unsur penting dalam seni teater sebagai nyawa, napas, atau ruh dalam menjalin hubungan cerita (struktur cerita) melalui tokoh atau peran yang dibawakan seorang pemeran. Lakon, cerita atau naskah adalah hasil karya pemeran, seniman atau sastrawan yang diwujudkan atau diangkat ke atas

pentas seni teater, baik pertunjukan langsung atau tidak langsung (seni rekam), yakni sinematografi, TV play, sandiwara radio, dan film. Karena tidak semua kreator teater (drama) mampu menulis naskah atau lakon atau skenografi sendiri, oleh sebab itu, naskah atau lakon yang ditulis orang lain (pengarang) di mata seniman teater adalah bahan baku atau sumber ide, gagasan dan pesan moral yang mengilhami untuk berkreativitas melalui karya teater.

Penulisan naskah atau lakon teater, baik pertunjukan teater panggung, sinetron, film, dan sandiwara radio mempunyai kekhasan tersendiri. Pemilihan tema dan panjang pendeknya cerita sangat tergantung pada babak, serial, episodik naskah dari ketertarikan setiap orang termasuk kalian (bersifat personal) dalam memahami isi cerita, struktur cerita dan unsur-unsur cerita untuk dijadikan subjek karya teater. Dasar pemilihan naskah atau cerita yang akan diangkat ke atas pentas pertunjukan teater wajib bersikap hati-hati sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan. Naskah yang ada yang kalian baca secara tematik belum tentu sesuai dengan tingkat perkembangan aktor dan penonton yang akan diundang. Oleh sebab itu wajib bersikap selektif dan perlu dipertimbangkan baik buruknya, mudah sukarnya dalam pewujudannya.

Sumber-sumber cerita atau naskah atau lakon dapat kalian peroleh melalui: cerita-cerita fiksi, cerita sejarah, cerita-cerita daerah Nusantara atau cerita Jawa Barat lebih khususnya. dll. Sumber cerita teater remaja dengan sarat nilai pendidikan terdapat pada dongeng binatang, fabel (Si Kancil, Sang Harimau, dll.), kisah 1001 malam (Lampu Aladin, Ratu Balqis, Sang Penyamun, dll.), legenda (Sangkuriang, Sangmanarah, Lutungkasarung dll.), sejarah (Pangeran Borosngora, Pangeran Gesan Ulun, Pangeran Kornel, Wali Songo, dst.).

  • Unsur Penokohan dan Perwatakan

Penokohan atau kedudukan Tokoh yang disajikan oleh seorang dan atau beberapa pemeran adalah unsur penting dalam pemeranan berasal dari lakon, cerita, naskah yang ditulis atau tidak ditulis oleh seorang pengarang. Penokohan di dalam seni teater dapat dibagi dalam beberapa kedudukan tokoh atau peran, seperti berikut.

  1. Protagonis adalah tokoh utama, pelaku utama atau pemeran utama (boga lalakon) disebut sebagai tokoh putih. Kedudukan tokoh utama adalah memainkan cerita hingga cerita mempunyai peristiwa dramatis (konflik pertentangan).
  • Antagonis adalah lawan tokoh utama, penghambat pelaku utama disebut sebagai tokoh hitam. Kedudukan tokoh berlawanan adalah yang mengahalangi, menghambat itikad, atau maksud tokoh utama dalam menjalankan tugasnya atau mencapai tujuannya. Tokoh antagonis dan protagonis biasanya mempunyai kekuatan yang sama, artinya sebanding menurut kacamata kelogisan cerita di dalam membangun keutuhan cerita.
  • Deutragonis adalah tokoh yang berpihak kepada tokoh utama. Biasanya tokoh ini membantu tokoh utama dalam menjalankan itikadnya. Kadangkala, tokoh ini menjadi tempat pengaduan atau memberikan nasihat kepada tokoh utama.
  • Foil adalah tokoh yang berpihak kepada lawan tokoh utama. Biasanya tokoh ini membantu tokoh Antagonis dalam menghambat itikad tokoh utama. Kadangkala, tokoh ini menjadi tempat pengaduan atau memberikan nasihat memperburuk kondisi kepada tokoh Antagonis.
  • Tetragonis adalah tokoh yang tidak memihak kepada kepada salah satu tokoh lain, lebih bersifat netral. Tokoh ini memberi masukan-masukan positif kedua belah pihak untuk mencari jalan yang terbaik.
  • Confident adalah tokoh yang menjadi tempat pengutaraan tokoh utama. Pendapat-pendapat tokoh utama itu pada biasanya tidak boleh diketahui oleh tokoh-tokoh lain selain tokoh itu dan penonton.
  • Raisonneur, adalah tokoh yang menjadi corong bicara pengarang kepada penonton.
  • Utilitty, adalah tokoh pembantu baik dari kelompok hitam atau putih. Tokoh ini dalam dunia pewayangan disebut goro-goro (punakawan). Kedudukan tokoh utilitty, kadangkala ditempatkan sebagai penghibur, penggembira atau sebatas pelengkap saja, Artinya, kedatangan tokoh ini tidak terlalu penting. Ada atau tidaknya tokoh ini, tak akan mempengaruhi keutuhan lakon secara tematik. Kalau pun dihadirkan, lakon akan menjadi panjang atau menambah kejelasan adegan peristiwa yang dibangun.

Perwatakan atau watak tokoh atau karakteristik yang dimiliki tokoh atau pemeran di dalam lakon, dihadirkan pengarang adalah ciri-ciri, tanda-tanda, identitas secara khusus bersifat pencitraan sebagai simbol yang dihadirkan tokoh, berupa status sosial, fisik, psikis, intelektual, dan religi. Status sosial sebagai ciri dari perwatakan adalah

menerangkan kedudukan atau jabatan yang diemban tokoh dalam hidup bermasyarakat pada lingkup lakon, antara lain orang kaya, orang miskin, rakyat biasa atau jelata, pengangguran, gelandangan, tukang becak, kusir, guru, mantri, kepala desa, camat, bupati, gubernur, direktur atau presiden.

Status sosial sebagai ciri dari perwatakan adalah menerangkan kedudukan atau jabatan yang diemban tokoh dalam hidup bermasyarakat pada lingkup lakon, antara lain orang kaya, orang miskin, rakyat biasa atau jelata, pelajar, mahasiswa, pengangguran, gelandangan, tukang becak, kusir, guru, ulama, ustaz, ustazah, mantri, kepala desa, camat, bupati, gubernur, direktur atau presiden.

Fisik sebagai ciri dari perwatakan, menerangkan ciri-ciri khusus mengenai jenis kelamin (laki perempuan atau waria), kelengkapan pancaindra atau keadaan kondisi tubuh (cantik-jelek, tinggi-pendek, kurus-buncit, kekar- lembek, rambut hitam atau putih, buta, pincang, lengan patah, berpenyakit atau sehat). Psikis sebagai ciri dari perwatakan menerangkan ciri-ciri khusus tentang hal kejiwaan yang dialami tokoh, seperti; sakit ingatan atau normal, depresi, traumatik, penyimpangan seksual, mudah lupa, pemarah, pemurah, penyantun, pelit, dan dermawan.

Intektual sebagai ciri dari perwatakan menerangkan ciri- ciri khusus tentang hal sosok tokoh dalam bersikap dan berbuat, terutama dalam mengambil sebuah keputusan atau menjalankan tanggungjawab. Misalnya, kecerdasan (pandai-bodoh, cepat tanggap-masa bodoh, tegas-kaku, lambat-cepat berpikir), kharismatik (gambaran sikap sesuai dengan kedudukan jabatan), tanggung jawab (berani berbuat berani menanggung resiko, asalkan dalam koridor yang benar). Unsur pemeranan selanjutnya adalah tubuh pemeran sebagai media ungkap wujud fisik dengan kelenturan dan ekspresi tubuhnya.

  • Unsur Tubuh

Tubuh dengan seperangkat anggota badan dan ekspresi wajah adalah unsur penting yang perlu dilakukan pengolahan atau pelatihan agar tubuh kalian memiliki stamina yang kuat, kelenturan tubuh dan daya refleks atau kepekaan tubuh. Untuk mendapat tujuan dimaksud secara maksimal, bahwa seorang pemeran wajib rajin dan disiplin melaksanakan olah tubuh sebagai materi penting yang akan dibahas melalui teknik pemeranan. Disamping mempunyai kemampuan tubuh yang memadai untuk seorang pemeran,

jangan lupa kalian harus sadar akan potensi kalian dalam hal memfungsikan unsur suara atau vokal.

  • Unsur Suara

Suara atau bunyi yang dikeluarkan indra mulut dan hidung melalui rongga dan pita suara adalah salah satu unsur pemeranan yang berfungsi untuk penyampaian pesan pemeranan melalui bahasa verbal atau pengucapan kata-kata. Unsur suara sebagai sarana dalam pemeranan seni teater agar berfungsi dengan baik, dan mempunyai manfaat ganda dalam menunjang seni peran perlu dilakukan pengolahan berupa pelatihan pada unsur-unsur anggota tubuh yang terkait dengan pernapasan dan pengucapan melalui teknik pemeranan.

  • Unsur Penghayatan

Penghayatan adalah penjiwaan, mengisi suasana perasaan hati, kedalaman sukma yang digali dan dilakukan seorang pemeran saat membawakan pemeranannya di atas pentas. Unsur penghayatan dalam seni peran perlu memeroleh perhatian khusus, sebab setiap pemeran dalam membawakan pemeranannya akan terasa berbeda. Sekalipun berasal penokohan yang sama dari naskah yang

sama. Hal ini, sangat tergantung pada sejauh mana upaya pengalaman pemeranan dalam mengasah kepekaan sukmanya sehingga memunculkan kesadaran rasa simpati dan empati diri sendiri pada orang lain dan kepekaan menanggapi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Latihan untuk mendapat kepekaan rasa atau sukma atau pengaturan emosi untuk seorang pemeran dapat dilakukan melalui teknik olah rasa yang akan dibahas pada sub bab pemeranan selanjutnya.

  • Unsur Ruang

Ruang dalam pemeranan adalah unsur yang menunjukan tentang; ruang yang diciptakan pemeran dalam bentuk mengolah posisi tubuh dengan jarak rentangan tangan dengan anggota badannya lebar (gerak besar), sedang (gerak wajar), kecil (gerak menciut). Contohnya, gerak besar, biasanya pemeran mendapat suasana; angkuh, sombong, menguasai, agung, kebahagiaan, perpedaan status, dan atau marah dst. Adapun, ruang wajar dan bersahaja biasanya dilakukan seorang pemeran pada suasana; akrab, bersahaja, status sama, damai, tenang, dan nyaman. Ruang pemeranan yang dibangun seorang pemeran dengan gerak atau respon kecil, biasanya

dilakukan dalam suasana tertekan, sedih, takut, mengabdi, dan budak.

Memahami pengertian ruang biasanya adalah tempat, area, wilayah untuk bermain peran dalam melaksanakan gerak diam (pose) atau gerak berpindah (movement). Hal ini dapat dilakukan dengan pengolahan pada irama gerak langkah (cepat, lambat dan sedang), garis dan arah langkah (horizontal, vertikal, diagonal, zig-zag, melingkar dan berputar atau melingkar dalam suatu adegan peran.

  • Unsur Kostum

Pengertian kostum dalam seni peran adalah semua perlengkapan yang dikenakan, menempel, melekat, mendandani untuk memperindah tubuh pemeran pada wujud lahiriah dalam aksi pemeranan di atas pentas. Kostum meliputi unsur rias, busana, dan aksesori sebagai penguat, memperjelas watak tokoh, baik secara fisikal, psikis, moral atau status sosial. Contohnya dalam berpakaian, seperti; polisi, tentara, hansip, satpam, guru, kepala desa, pejabat, rakyat, pengemis, wadam, dan anak sekolah.

  • Unsur Properti

Pemahaman properti dalam pemeranan adalah semua peralatan yang digunakan pemeran, baik yang dikenakan atau yang tidak melekat di tubuh, tetapi dapat diolah dengan menggunakan tangan (handprop) dan berfungsi untuk penguat watak atau karakter seorang pemeran, seperti tas, topi, cangklong, tongkat, pentungan, kipas, panah dan busur, dan golok.

  • Unsur Musikal

Unsur musikal atau unsur pengisi, penguat, pembangun suasana laku pemeranan di atas pentas, meliputi; irama suasana hati atau sukma dalam membangun irama permainan dengan lawan main, irama vocal, suara pengucapan (opera, gending karesmen, dan wayang wong) sang pemain, atau aktor, dan irama musik sebagai penguat karakter tokoh (cepot, bodor, semar, dan raja) berupa gending, musik, suara atau bunyi dan efek audio, baik melalui iringan musik langsung (live) atau musik rekaman (playback), contohnya; musik kabaret, dan musik opera.

Leave A Reply

Your email address will not be published.